PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #20

Gerbang Takdir

Mentari pagi kembali menyinari kawasan Kemang dengan cahaya keemasannya.

Bagi sebagian besar orang, hari itu tak berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Namun tidak bagi Grenia Virginia.

Sejak terbangun dari tidurnya, ada perasaan yang sulit dijelaskan memenuhi relung hatinya.

Bukan rasa takut.

Bukan pula kegelisahan.

Melainkan sebuah penantian yang bahkan ia sendiri tak mengerti sedang menunggu apa.

Setelah menunaikan salat Subuh dan membaca beberapa lembar Al-Qur'an, Grenia menyiapkan secangkir kopi hangat.

Kebiasaannya setiap pagi tetap ia jalani.

Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa hidup harus terus berjalan, meski berbagai pertanyaan masih berputar di dalam kepalanya.

Tatapannya sesekali beralih ke arah ruang kerja.

Di sanalah kotak jati itu disimpan.

Masih utuh.

Masih tersegel.

Dan tetap menyimpan misteri yang belum sanggup ia pecahkan.

Ponselnya berdering pelan.

Nama Aini muncul di layar.

"Assalamu'alaikum, Mbak."

"Wa'alaikumussalam."

"Maaf mengganggu pagi-pagi."

"Nggak apa-apa. Ada apa?"

"Klien bridal yang minggu depan minta jadwal trial make up dimajukan ke hari ini. Katanya mendadak ada urusan keluarga."

Grenia berpikir sejenak.

Ia membuka buku agenda yang terletak di atas meja.

"Hari ini jam sepuluh masih kosong."

"Kalau mereka berkenan, jadwalkan saja di jam itu."

"Siap, Mbak."

"Terima kasih."

Panggilan berakhir.

Grenia menutup buku agenda sambil tersenyum kecil.

Kesibukan salon kembali menyita pikirannya.

Dan mungkin...

Itu memang yang ia butuhkan saat ini.

Beberapa saat kemudian, ia bersiap berangkat.

Sebelum keluar rumah, langkahnya terhenti di depan ruang kerja.

Entah dorongan dari mana, ia membuka pintu ruangan itu.

Kotak jati masih berada di tempatnya.

Ia hanya menatapnya beberapa detik.

"Aku akan kembali nanti malam."

Kalimat itu terdengar aneh, bahkan bagi dirinya sendiri.

Seolah-olah...

Kotak itu mampu mendengar ucapannya.

Grenia menggeleng pelan sambil tersenyum.

"Mungkin aku benar-benar mulai aneh."

Ia mematikan lampu ruang kerja, lalu mengunci rumah dan berangkat menuju Nail Art Salon.

Ia sama sekali tidak menyadari...

Sesaat setelah pintu rumah tertutup...

Ukiran bunga Wijaya Kusuma pada permukaan kotak jati kembali memancarkan cahaya keemasan.

Kali ini...

Lebih terang daripada sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya...

Segel lilin merah di atas kotak itu tampak retak sangat halus.

Retakan yang nyaris tak terlihat.

Namun cukup menjadi pertanda...

Bahwa gerbang takdir perlahan mulai terbuka.


Aktivitas di Nail Art Salon berlangsung lebih sibuk dari biasanya.


Sejak pagi, pelanggan datang silih berganti. Beberapa di antaranya merupakan pelanggan lama yang telah bertahun-tahun mempercayakan perawatan mereka kepada Grenia dan timnya.


Menjelang pukul sepuluh, calon pengantin yang dijadwalkan untuk trial make up akhirnya tiba.


Seorang perempuan muda datang bersama ibunya. Wajah keduanya memancarkan antusias sekaligus sedikit rasa gugup menjelang hari bahagia.


"Selamat pagi, Mbak Grenia."


"Selamat pagi. Silakan duduk."


Grenia menyambut mereka dengan ramah, lalu mulai mendengarkan keinginan calon pengantin tersebut.


Ia sesekali memberikan saran mengenai riasan yang sesuai dengan bentuk wajah dan warna kulit agar hasil akhirnya tetap terlihat anggun dan natural.


"Yang paling penting," ujar Grenia sambil tersenyum, "jangan sampai di hari bahagia nanti Mbaknya merasa bukan menjadi diri sendiri."


Calon pengantin itu mengangguk pelan.


"Saya memang ingin terlihat cantik, tapi tetap seperti diri saya."


"Itu tujuan kami."


Proses trial make up berlangsung hampir dua jam.


Di sisi lain salon, Aini, Mutia, Ratna, Ami, dan Imah tetap sibuk melayani pelanggan lain.


Suasana salon dipenuhi obrolan ringan, suara pengering rambut, serta alunan musik instrumental yang lembut.


Di tengah kesibukan itu, ponsel Grenia yang berada di atas meja kerja bergetar pelan.


Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit terdiam.


Mas Teguh.


Ia meminta izin kepada calon pengantin itu, lalu melangkah ke teras samping salon yang lebih tenang.


"Assalamu'alaikum, Mas."


"Wa'alaikumussalam, Mbak Grenia."


"Maaf mengganggu jam kerja."


"Nggak apa-apa. Kebetulan baru selesai trial make up."


Terdengar jeda singkat.


"Aku cuma ingin memastikan..."


"...kotaknya masih Mbak simpan?"


Pertanyaan itu membuat Grenia tanpa sadar tersenyum tipis.


"Masih."


"Aku simpan baik-baik."


Lihat selengkapnya