Pagi kembali menyapa Kemang dengan kesibukan yang nyaris tidak pernah berhenti.
Grenia tiba di Nail Art Salon lebih awal dari biasanya.
Setelah memarkir motor, ia membuka rolling door dan membiarkan cahaya pagi masuk memenuhi ruangan. Seperti biasa, ia memeriksa beberapa sudut salon, memastikan semuanya berada pada tempatnya sebelum para pegawai datang.
Namun pagi itu pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Kalimat yang diucapkannya semalam terus terngiang di kepala.
Besok... aku ingin mendengar semuanya.
Grenia menarik napas panjang.
Ia sendiri tidak tahu mengapa sejak bangun tidur tadi perasaannya justru lebih tenang.
Bukan karena pertanyaannya sudah terjawab.
Justru sebaliknya.
Ia merasa sudah terlalu lama membiarkan dirinya menerima potongan-potongan informasi tanpa pernah benar-benar memahami gambaran besarnya.
Tentang Prameswari.
Tentang kotak kayu jati yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
Dan tentang Teguh.
Pria itu datang ke dalam hidupnya dengan cara yang tidak biasa.
Awalnya hanya sebuah pertemuan singkat.
Kemudian perhatian.
Lalu kepercayaan.
Hingga akhirnya Grenia menyadari bahwa keberadaan Teguh telah menjadi sesuatu yang ia tunggu tanpa pernah ia akui.
Namun hari ini berbeda.
Ia tidak ingin hanya menjadi perempuan yang menerima penjelasan.
Ia ingin bertanya.
Dan kali ini, ia ingin Teguh menjawab semuanya.
"Mbak Gre?"
Suara Aini membuat Grenia tersadar.
Ia menoleh.
Aini berdiri di dekat pintu sambil membawa tas kerja.
"Melamun?"
Grenia tersenyum kecil.
"Sedikit."
"Jarang-jarang Mbak Gre melamun pagi-pagi."
"Kurang tidur mungkin."
Aini memperhatikan wajahnya beberapa saat.
Kemudian tersenyum penuh arti.
"Atau kebanyakan mikirin seseorang?"
Grenia langsung menatapnya.
"Aini."
"Iya, Mbak?"
"Kerja."
Aini terkekeh.
"Siap."
Tak lama kemudian pegawai lainnya berdatangan.
Aktivitas Nail Art Salon kembali berjalan seperti biasa.
Pelanggan pertama datang menjelang pukul sembilan. Disusul beberapa pelanggan lain yang telah melakukan reservasi sebelumnya.
Grenia berusaha menjalankan pekerjaannya seperti biasa.
Ia menyambut pelanggan.
Memeriksa jadwal.
Mengecek hasil pekerjaan pegawai.
Bahkan sesekali membantu memberikan pelayanan ketika salon mulai ramai.
Namun setiap kali ponselnya bergetar, matanya refleks mencari layar.
Hingga menjelang tengah hari, pesan yang ditunggunya akhirnya muncul.
Mas Teguh:
Kalau kamu tidak terlalu sibuk, aku ingin bertemu siang ini.
Grenia membaca pesan itu dua kali.
Jemarinya langsung mengetik.
Grenia:
Di mana?
Balasan datang tidak lama kemudian.
Mas Teguh:
Tempat yang kemarin. Kalau kamu nyaman.
Grenia tersenyum tipis.
Tempat yang dimaksud adalah rumah makan tempat mereka pernah berbincang sebelumnya.
Tempat yang cukup tenang.
Tidak terlalu ramai.
Dan cukup jauh dari perhatian orang lain.
Ia mengetik lagi.
Grenia:
Jam berapa?
Mas Teguh:
Jam satu?
Grenia melihat jam dinding.
Masih ada waktu.
Grenia:
Baik.
Ia meletakkan ponsel.
Namun kali ini senyumnya tidak bisa disembunyikan.
"Mbak Gre."
Aini kembali muncul entah dari mana.
"Apa?"
"Barusan senyum."
Grenia langsung mengembalikan wajah seriusnya.
"Memangnya kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
Aini menahan tawa.
"Cuma kelihatan bahagia."
Grenia menggeleng.
"Kamu terlalu banyak memperhatikan."
"Namanya juga pegawai yang perhatian sama bos."
"Kamu itu..."
Grenia tertawa kecil.
Suasana ringan itu membuat ketegangan di dalam dirinya sedikit berkurang.
Menjelang pukul satu, Grenia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Ia meminta Aini membantu mengawasi salon selama beberapa waktu.
"Aku keluar sebentar."
"Ketemu Mas Teguh?"
Grenia berhenti melangkah.
Aini langsung tertawa.
"Maaf, Mbak."
"Jaga salon."
"Siap."
Grenia hanya menggeleng sambil tersenyum.
Ia mengambil tasnya, lalu keluar dari salon.
Tidak ada persiapan berlebihan.
Tidak ada pakaian khusus.
Hari itu ia tetap mengenakan pakaian kerja yang sederhana.
Baginya, pertemuan ini bukan kencan.
Setidaknya...
Itulah yang berusaha ia yakini.
Sekitar lima belas menit kemudian, Grenia tiba di rumah makan tersebut.
Teguh sudah menunggunya.
Pria itu berdiri ketika melihat Grenia memasuki ruangan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Teguh tersenyum.
"Kamu langsung dari salon?"
"Iya."
"Maaf membuatmu meninggalkan pekerjaan."
"Nggak apa-apa. Aku memang yang minta kita bicara."
Mereka kemudian duduk.
Seorang pelayan datang menawarkan menu, tetapi Grenia hanya memesan minuman.
Teguh pun melakukan hal yang sama.
Begitu pelayan pergi, Grenia langsung menatapnya.
"Mas."
"Iya?"
"Kemarin aku bilang ingin mendengar semuanya."
Teguh mengangguk.
"Aku ingat."
"Dan hari ini aku serius."