PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #22

Badai di Tengah Malam

Malam telah turun sepenuhnya di Kemang.

Setelah menutup Nail Art Salon lebih awal dari biasanya, Grenia pulang dengan tubuh yang cukup lelah. Namun pikirannya justru terasa lebih ringan.

Percakapannya dengan Teguh siang tadi masih terbayang.

Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa menjadi Prameswari bukan berarti kehilangan kehidupan yang selama ini dibangunnya.

Ia tetap Grenia.

Tetap seorang ibu.

Tetap pemilik Nail Art Salon.

Dan keputusan untuk menerima amanah itu tetap berada di tangannya.

Setelah menunaikan salat Isya, Grenia duduk di ruang tamu sambil menikmati teh hangat.

Rumah kontrakan itu kembali sunyi.

Ia mengambil ponselnya, sekadar ingin memeriksa beberapa pesan dari salon.

Tidak ada sesuatu yang penting.

Grenia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

Baru saja ia hendak berdiri ketika benda itu kembali berdering.

Nama yang muncul di layar membuat dahinya berkerut.

Ibu.

Grenia segera mengangkatnya.

"Assalamu'alaikum, Bu."

"Wa'alaikumussalam, Nduk..."

Suara ibunya terdengar berbeda.

Lemah.

Gemetar.

Seolah sedang berusaha menahan tangis.

Grenia langsung duduk kembali.

"Ibu kenapa?"

Ada jeda beberapa detik.

Kemudian suara ibunya terdengar semakin bergetar.

"Sevgi, Nduk..."

Jantung Grenia seketika berdegup lebih cepat.

"Sevgi kenapa, Bu?"

"Sevgi sakit."

Grenia berdiri.

"Sakit apa?"

"Tadi panasnya tinggi sekali. Terus badannya sempat kejang."

Gelas teh di atas meja hampir terjatuh ketika tangan Grenia tanpa sadar menyenggolnya.

"Astaghfirullah..."

Air mata langsung memenuhi matanya.

"Sevgi sekarang di mana?"

"Di rumah sakit. Ibu sudah bawa ke IGD."

Grenia memejamkan mata.

Untuk beberapa detik, ia tidak mampu berkata apa-apa.

Sevgi.

Putra satu-satunya.

Anak yang selama ini menjadi alasan terbesarnya untuk tetap kuat.

"Ibu..."

Suaranya bergetar.

"Dokter bilang apa?"

"Masih diperiksa, Nduk. Dokter belum bisa memastikan penyebabnya."

Grenia mengusap air matanya.

"Aku pulang sekarang."

"Nduk, sudah malam."

"Aku tahu."

"Tapi perjalanan dari Jakarta..."

"Aku tetap pulang, Bu."

Suaranya kali ini lebih tegas.

"Aku harus lihat Sevgi."

Setelah sambungan berakhir, Grenia langsung bergerak.

Ia mengambil tas, memasukkan beberapa pakaian seperlunya, charger ponsel, dompet, dan perlengkapan lain tanpa sempat merapikannya.

Tangannya gemetar.

Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.

Sevgi.

Anaknya sedang sakit.

Dan ia berada ratusan kilometer jauhnya.

Grenia mengambil ponsel untuk mencari kendaraan menuju Kediri.

Namun sebelum sempat melakukan apa pun, sebuah pesan masuk.

Mas Teguh.

Sudah sampai rumah?

Grenia menatap pesan itu beberapa detik.

Ia langsung mengetik.

Mas, Sevgi sakit.

Balasan datang hampir seketika.

Sekarang di mana?

Di rumah sakit di Kediri. Ibu baru menelepon.

Beberapa detik kemudian ponselnya kembali bergetar.

Jangan berangkat sendiri.

Grenia mengusap air mata yang kembali jatuh.

Aku harus pulang malam ini.

Iya.

Siapkan barangmu. Aku ke sana.

Grenia terdiam.

Tidak lama kemudian, ia mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.

Ia segera mengambil tas dan berlari keluar.

Teguh sudah berdiri di dekat mobilnya.

Begitu melihat wajah Grenia yang sembap, ekspresinya berubah serius.

"Sevgi bagaimana?"

"Masih di IGD."

Teguh mengangguk.

"Kita berangkat."

Grenia memandangnya.

"Mas..."

"Apa?"

"Terima kasih."

Teguh mengambil tas dari tangannya.

"Jangan pikirkan yang lain dulu."

"Tapi perjalanan ke Kediri jauh."

"Aku tahu."

"Kamu juga baru selesai bekerja."

"Aku masih kuat."

Teguh membuka pintu mobil.

"Kamu sekarang hanya perlu memikirkan Sevgi."

Grenia masuk ke dalam mobil.

Beberapa saat kemudian, Teguh duduk di kursi kemudi dan menyalakan mesin.

Mobil bergerak meninggalkan halaman rumah kontrakan.

Grenia menatap keluar jendela.

Lampu-lampu Kemang perlahan tertinggal di belakang.

Ia menggenggam ponselnya erat-erat.

Beberapa kali ia mencoba menelepon ibunya, tetapi hanya mendapatkan jawaban bahwa Sevgi masih diperiksa dokter.

Kecemasan semakin memenuhi dadanya.

Teguh melirik sekilas.

"Tenang."

"Aku takut, Mas."

Itu adalah pengakuan paling jujur yang keluar dari bibir Grenia malam itu.

"Aku tahu."

"Aku selalu berusaha kuat kalau menghadapi apa pun."

Grenia menunduk.

"Tapi kalau soal Sevgi..."

Suaranya pecah.

"Aku nggak bisa."

Teguh tidak menjawab dengan kata-kata panjang.

Tangannya tetap berada di kemudi.

"Kalau kamu ingin menangis, menangislah."

Grenia menatapnya.

"Kamu nggak harus selalu kuat di depan semua orang."

Air mata Grenia kembali mengalir.

Namun kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya.

Ia menyandarkan kepala pada jok sambil memejamkan mata.

Di luar, Jakarta perlahan berganti menjadi jalanan panjang yang membentang menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Perjalanan malam itu bukan lagi tentang Prameswari.

Bukan tentang Reksa Buwana.

Bukan pula tentang kotak jati yang tersimpan di rumah.

Malam itu Grenia hanya seorang ibu yang ingin segera sampai kepada anaknya.

Dan Teguh memahami hal tersebut.

Ia tidak membicarakan takdir.

Tidak membicarakan amanah.

Tidak pula menuntut Grenia memikirkan hal lain.

Ia hanya mengemudi.

Membawanya pulang.

Beberapa jam kemudian, ketika perjalanan mulai memasuki jalur yang lebih sepi, ponsel Grenia kembali berdering.

Ia langsung mengangkatnya.

"Ibu?"

Suara ibunya terdengar lebih tenang daripada sebelumnya.

Lihat selengkapnya