PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #23

SENYUM JAGOAN KECIL DI KEDIRI RAYA

Fajar menyingsing perlahan di ufuk timur ketika SUV hitam yang dikemudikan Teguh mulai meninggalkan jalan tol dan memasuki wilayah Kediri.

Semburat jingga menyapu langit yang semalaman gelap. Di balik kaca jendela, Grenia menatap pemandangan yang terasa begitu akrab. Hamparan sawah, pepohonan, dan jalanan yang mulai dipenuhi aktivitas warga menjadi pertanda bahwa perjalanan panjang mereka akhirnya hampir berakhir.

Grenia terbangun beberapa saat sebelumnya.

Ia langsung meraih ponselnya.

Tidak ada panggilan baru.

Tidak ada pesan darurat dari ibunya.

Dadanya sedikit lebih lega.

"Sudah masuk Kediri?" tanyanya dengan suara serak karena baru bangun.

Teguh melirik sekilas sambil tersenyum tipis.

"Sudah. Tinggal menuju rumah sakit."

Grenia mengangguk.

Matanya kembali menatap jalan di depan.

Semalaman ia berusaha kuat. Namun semakin dekat dengan rumah sakit, justru rasa gugup kembali memenuhi dadanya.

"Mas..."

"Hm?"

"Kalau nanti lihat Sevgi, aku takut malah nangis."

Teguh terkekeh pelan.

"Memangnya kenapa kalau nangis?"

"Malulah."

"Di depan anak sendiri?"

Grenia menoleh, lalu mengerucutkan bibir.

"Ya tetap saja."

Teguh tersenyum.

"Kalau Sevgi lihat ibunya nangis karena kangen, dia malah senang."

Grenia terdiam.

Ada benarnya juga.

Ia kemudian menundukkan kepala, memainkan ujung tali tas kecil di pangkuannya.

"Mas."

"Iya?"

"Terima kasih."

Teguh tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengulurkan tangan kirinya sebentar, lalu menyentuh punggung tangan Grenia yang berada di dekat tuas persneling.

"Sudah. Jangan dipikirkan."

Sentuhan singkat itu membuat Grenia tersenyum kecil.

Tidak ada pembicaraan tentang amanah.

Tidak ada pembicaraan tentang takdir.

Pagi itu mereka hanya dua orang yang sedang menuju rumah sakit untuk menemui seorang anak yang sangat mereka khawatirkan.

Beberapa menit kemudian, papan petunjuk menuju pusat kota Kediri mulai terlihat.

Grenia kembali mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya.

"Ibu?"

"Nduk, sudah sampai mana?"

"Sudah masuk Kediri, Bu. Sebentar lagi sampai rumah sakit."

Suara ibunya terdengar jauh lebih tenang dibandingkan malam tadi.

"Syukurlah. Sevgi tadi sempat bangun."

Grenia langsung duduk lebih tegak.

"Bangun?"

"Iya. Dia tanya kamu."

Mata Grenia langsung berkaca-kaca.

"Dia bilang apa?"

"Katanya, 'Ibu pulang, kan?'"

Grenia menutup mulutnya dengan tangan.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.

Teguh melirik sebentar.

Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya memperlambat sedikit laju kendaraan ketika memasuki jalan kota.

"Bu..." suara Grenia bergetar. "Tolong bilang ke Sevgi, Ibu sebentar lagi sampai."

"Iya, Nduk."

Setelah sambungan berakhir, Grenia mengusap pipinya.

Teguh tersenyum tipis.

"Katanya tadi nggak mau nangis."

Grenia menoleh dengan mata sembap.

"Mas Teguh..."

"Iya?"

"Jangan godain."

"Oke."

Teguh menahan senyum.

Untuk pertama kalinya sejak malam tadi, tawa kecil Grenia terdengar di dalam kabin.

Tidak lama kemudian, bangunan rumah sakit mulai terlihat di ujung jalan.

Grenia langsung duduk tegak.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

Itulah tempat putranya menunggu.

Dan kali ini, jarak ratusan kilometer yang semalaman terasa begitu panjang akhirnya tinggal beberapa menit lagi.

Mobil SUV hitam itu akhirnya memasuki halaman rumah sakit.


Begitu kendaraan berhenti sempurna di depan lobi, Grenia langsung membuka pintu.


"Mas, tasnya nanti saja."


Teguh sudah lebih dahulu mengambil tas dari bagasi.


"Aku bawa."


Grenia mengangguk dan segera melangkah cepat menuju pintu masuk.


Langkahnya semakin cepat ketika aroma khas rumah sakit mulai menyambut. Lorong-lorong yang masih relatif sepi pada pagi hari terasa begitu panjang di matanya.


"Ibu bilang kamar berapa?" tanya Teguh.


"Ruang anak. Nomor 204."


Mereka menaiki lift.


Sepanjang perjalanan, Grenia terus menggenggam ponselnya.


Begitu pintu lift terbuka, ia langsung mencari nomor kamar yang disebutkan ibunya.


204. 


Grenia berhenti tepat di depan pintu.


Tangannya terangkat, tetapi beberapa detik ia tidak langsung membukanya.


Teguh berdiri di sampingnya.


"Kenapa?"


Grenia menarik napas dalam-dalam.


"Aku deg-degan."


Teguh menatapnya.


"Dia anakmu. Dia pasti senang melihat kamu."


Grenia mengangguk.


Perlahan, ia membuka pintu.


"Ibu..."


Suara itu keluar lirih.


Di dalam kamar, seorang perempuan tua yang duduk di samping ranjang langsung menoleh.


"Nduk..."


Grenia tidak mampu menahan diri lagi.


"Ibu!"


Ia melangkah cepat dan langsung memeluk ibunya.


"Sevgi mana, Bu?"


Sang ibu menunjuk ranjang di sampingnya.


Grenia menoleh.


Tubuh kecil Sevgi terbaring di atas ranjang dengan tangan terpasang infus. Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi jauh lebih tenang dibandingkan yang dibayangkan Grenia sepanjang perjalanan.


"Sevgi..."


Grenia mendekat.


Tangannya menyentuh rambut putranya dengan sangat hati-hati.


Kelopak mata Sevgi bergerak.


Beberapa detik kemudian, mata kecil itu terbuka.


"Ibu..."


Satu kata itu langsung membuat pertahanan Grenia runtuh.


"Iya, Nak."


Grenia membungkuk dan memeluk tubuh kecil itu dengan hati-hati.


"Ibu pulang."


Sevgi tersenyum lemah.


"Sevgi kira Ibu lama."


"Maaf."


Grenia mencium kening putranya.


"Ibu takut kamu kenapa-kenapa."


Sevgi menggeleng pelan.


"Sevgi sudah nggak apa-apa."


Grenia tertawa kecil di sela air matanya.


"Kamu bikin Ibu hampir jantungan."


Sevgi tersenyum.


Kemudian matanya bergerak ke arah pintu.


Ia melihat seorang pria berdiri beberapa langkah dari ranjang.


Sevgi mengerutkan kening.


"Om Teguh?"


Teguh tersenyum.


"Iya."


"Om ikut Ibu?"


Grenia mengusap rambut Sevgi.


"Iya. Mas Teguh yang mengantar Ibu dari Jakarta."


Sevgi memandang Teguh beberapa detik.


Kemudian sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.


Lihat selengkapnya