PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #24

JAMUAN LUHUR KELUARGA KEDIRI

Roda SUV hitam milik Teguh perlahan berhenti di halaman luas sebuah rumah joglo kuno yang berdiri megah dan asri di salah satu kawasan keluarga terpandang di Kediri.

Kedatangan mereka langsung disambut oleh beberapa anggota keluarga yang sejak pagi menunggu kepulangan Sevgi dari rumah sakit.

Grenia turun dari mobil lebih dahulu, kemudian membantu Sevgi yang kini sudah jauh lebih ceria. Bocah tujuh tahun itu bahkan sudah tidak terlihat seperti anak yang beberapa hari lalu terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

"Ibu, Sevgi sudah sampai rumah," ucapnya dengan senyum lebar.

Grenia tersenyum, lalu mengusap rambut putranya.

"Iya, Nak. Alhamdulillah."

Dari sisi lain mobil, Ibu Rahayu turun perlahan sambil membawa tas kecil berisi beberapa keperluan Sevgi. Lima hari mendampingi cucunya di rumah sakit membuat tubuh perempuan sepuh itu tampak lelah, tetapi wajahnya jauh lebih tenang setelah melihat kondisi Sevgi membaik.

Teguh segera membuka bagasi dan mengambil beberapa tas.

"Bu, biar saya yang bawa."

Ibu Rahayu tersenyum.

"Wah, Nak Teguh. Jangan semuanya kamu bawa. Nanti malah kamu yang capek."

"Nggak apa-apa, Bu. Ibu sudah cukup capek menjaga Sevgi selama di rumah sakit."

Teguh mengangkat tas-tas tersebut tanpa banyak bicara.

Ibu Rahayu memperhatikannya beberapa saat. Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya.

"Terima kasih, Nak."

"Sama-sama, Bu."

Sementara itu, Sevgi sudah berlari kecil menuju pendopo.

Beberapa kerabat langsung menyambutnya.

"Sevgi!"

Bocah itu tertawa dan menjawab sapaan mereka dengan riang.

Grenia berdiri beberapa langkah di belakang putranya. Matanya sempat tertuju kepada Ibu Rahayu yang berjalan mendekat dengan langkah perlahan, kemudian beralih kepada Teguh yang masih membawa barang-barang mereka.

Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.

Lima hari terakhir bukan perjalanan yang mudah.

Namun, untuk pertama kalinya, Grenia melihat Teguh bukan sekadar sebagai lelaki yang mencintainya.

Teguh sudah hadir di tengah keluarganya.

Mendampingi Sevgi.

Menghormati Ibu Rahayu.

Dan tidak pernah sekalipun membuat dirinya merasa harus memilih antara kehidupan yang telah dibangunnya dengan hubungan baru yang sedang tumbuh.

Grenia tersenyum kecil.

"Mas."

Teguh menoleh.

"Kenapa?"

"Terima kasih."

Teguh mengernyitkan dahi, lalu tersenyum tipis.

"Baru juga sampai rumah, sudah terima kasih lagi."

Grenia menahan senyum.

"Ya karena memang harus bilang."

"Kalau begitu, nanti bilang lagi setelah aku selesai nurunin semua barang."

Grenia menggeleng kecil.

"Narsis."

Teguh terkekeh pelan.

Untuk beberapa saat, suasana terasa ringan.

Namun di hadapan mereka, pendopo rumah joglo sudah dipenuhi anggota keluarga besar Grenia.

Dan dari cara beberapa pasang mata memperhatikan Teguh, Grenia tahu satu hal.

Perjalanan mereka dari Jakarta ternyata belum benar-benar selesai.

Sebab setelah melewati perjalanan panjang menuju Kediri, Teguh kini harus menghadapi ujian yang jauh lebih sederhana, tetapi mungkin justru lebih menentukan.

Mendapatkan tempat di hati keluarga Grenia.

Begitu Sevgi selesai disambut oleh beberapa kerabat, perhatian keluarga perlahan beralih kepada sosok pria yang berdiri beberapa langkah di belakang Grenia.


Teguh.


Ia masih mengenakan pakaian perjalanan yang sederhana dibandingkan penampilannya ketika berada di Jakarta. Tidak ada kesan seorang pimpinan perusahaan besar yang sedang berdiri di hadapan keluarga calon istrinya.


Teguh justru terlihat tenang.


Ia menunggu sampai Grenia selesai membantu Ibu Rahayu sebelum melangkah menuju pendopo.


Grenia kemudian mendekatinya.


"Mas."


"Hm?"


"Sudah siap?"


Teguh melirik ke arah beberapa anggota keluarga yang sedang memperhatikannya.


"Kalau untuk menghadapi keluarga kamu, kayaknya aku lebih deg-degan daripada menghadapi rapat direksi."


Grenia spontan menahan tawa.


"Baru tahu takut?"


"Bukan takut."


Teguh menghela napas pendek.


"Lebih tepatnya menghormati."


Jawaban itu membuat senyum Grenia melebar.


Mereka kemudian berjalan bersama menuju pendopo.


Begitu memasuki area tersebut, Teguh langsung menundukkan kepala dengan sopan kepada para tetua keluarga.


"Permisi, Pak, Bu."


Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun yang duduk di bagian tengah pendopo mengangguk.


"Silakan duduk, Nak."


Teguh memilih tempat yang tidak terlalu dekat dengan Grenia. Ia duduk bersila dengan sikap tenang, sementara Grenia duduk di samping Ibu Rahayu.


Suasana sempat hening beberapa detik.


Bukan karena tidak ada yang ingin berbicara.


Justru semua orang sedang memperhatikan Teguh.


Mereka ingin melihat seperti apa pria yang rela meninggalkan Jakarta tengah malam hanya karena Sevgi sakit.


Seorang paman Grenia yang dikenal sebagai pengacara senior akhirnya membuka percakapan.


"Jadi, Nak Teguh ini yang mengantar Grenia pulang ke Kediri malam itu?"


Teguh mengangguk.


"Betul, Pak."


"Berangkat dari Jakarta?"


"Iya."


"Sendirian menyetir?"


"Saya yang membawa mobil."


Sang paman mengangguk pelan.


"Perjalanan jauh."


"Memang cukup jauh, Pak. Tapi waktu itu yang paling penting Sevgi bisa segera ditemui ibunya."


Jawaban sederhana itu membuat beberapa anggota keluarga saling berpandangan.


Tidak ada nada membanggakan diri.


Tidak ada cerita mengenai mobil mewahnya.


Tidak ada pula cerita tentang kedudukannya sebagai pimpinan perusahaan.


Teguh hanya menjelaskan apa yang menurutnya memang perlu dilakukan.


Paman yang lain, seorang pengusaha emas yang sejak tadi lebih banyak mengamati, tersenyum tipis.


"Kalau boleh tahu, Nak Teguh sudah berapa lama mengenal Grenia?"


Teguh menoleh sebentar kepada Grenia.


Grenia langsung mengangkat alis.


Seolah memberikan peringatan agar Teguh tidak macam-macam.


Teguh tersenyum kecil.


"Sudah cukup untuk membuat saya yakin bahwa saya ingin menjaganya."


Grenia langsung menundukkan wajah.


Beberapa kerabat yang mendengar jawaban itu tersenyum.


Ibu Rahayu pun ikut tersenyum kecil.


Sementara Teguh tetap tenang, seolah tidak merasa baru saja membuat wanita di sampingnya salah tingkah di hadapan seluruh keluarga.


Suasana pendopo yang sebelumnya terasa seperti ruang pemeriksaan perlahan mencair.


Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Kediri, Grenia mulai merasa bahwa Teguh mungkin benar-benar sedang menemukan tempatnya di tengah keluarganya.


Paman yang berprofesi sebagai pengacara senior itu menyandarkan punggungnya sebentar. Tatapannya masih tertuju kepada Teguh, tetapi kali ini tidak lagi sekeras sebelumnya.


"Kalau begitu saya mau bertanya sesuatu yang lebih penting."


Teguh mengangguk.


"Silakan, Pak."


"Grerinda bukan perempuan yang mudah percaya kepada orang lain. Apalagi setelah apa yang pernah dia alami."


Grenia terdiam.


Ia tahu arah pembicaraan itu.


Paman tersebut melanjutkan dengan suara lebih tenang.


"Kalau hubungan kalian memang serius, apa yang sebenarnya kamu inginkan dari Greria?"


Pendopo mendadak sunyi.


Ibu Rahayu menoleh kepada Teguh.


Grenia pun tanpa sadar mengangkat wajahnya.


Lihat selengkapnya