PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #25

BAYANGAN HITAM DARI MASA LALU

Beberapa hari setelah kembali dari Kediri, kehidupan di Nail Art Salon perlahan kembali seperti biasa.

Pagi hingga sore, suara mesin pengering kuku, percakapan pelanggan, dan tawa para pegawai kembali memenuhi ruangan. Grenia pun kembali tenggelam dalam rutinitas yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.

Namun, ada satu hal yang berubah.

Setiap kali melihat Teguh datang menjemputnya, ingatannya selalu kembali pada perjalanan malam menuju Kediri.

Pada malam ketika dirinya benar-benar merasa takut kehilangan Sevgi.

Dan pada pria yang tanpa banyak bertanya langsung datang menemaninya.

Sore itu, Teguh baru saja masuk ke salon ketika Grenia sedang memeriksa laporan pemasukan di meja kasir.

"Kok datang lagi?" tanyanya tanpa mengangkat kepala.

Teguh meletakkan sebuah kantong kertas di atas meja.

"Makan."

Grenia akhirnya menoleh.

"Apa ini?"

"Salad sama roti."

"Aku belum bilang lapar."

"Tapi dari tadi kamu belum makan."

Grenia menatapnya beberapa detik.

"Mas ngawas aku sekarang?"

Teguh menarik kursi di depan meja kasir.

"Kalau aku bilang iya?"

Grenia menggeleng sambil menahan senyum.

"Nyebelin."

"Berarti sudah sehat."

"Memangnya kalau aku sakit aku nggak boleh bilang Mas nyebelin?"

"Boleh. Tapi volumenya dikurangi."

Grenia tertawa kecil.

Dari meja resepsionis, Aini dan Mutia yang mendengar percakapan mereka hanya saling pandang.

"Sudah mulai lagi," bisik Mutia.

Aini menahan tawa.

Grenia melirik ke arah mereka.

"Kalian kerja!"

"Iya, Bu Bos," jawab Aini cepat.

Teguh tersenyum.

Grenia kembali membuka laporan di hadapannya.

Beberapa menit berlalu dalam suasana yang tenang.

Untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang ke Kediri, semuanya terasa kembali normal.

Sevgi sudah sehat.

Ibu Rahayu juga tidak lagi terlalu cemas.

Salon kembali berjalan.

Dan hubungan Grenia dengan Teguh terasa semakin dekat tanpa harus dipaksakan oleh kata-kata besar.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Menjelang sore, ketika pelanggan terakhir baru saja meninggalkan salah satu meja perawatan, Grenia tiba-tiba berhenti menulis.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Bukan seperti getaran yang pernah ia rasakan di Kediri.

Ini berbeda.

Lebih berat.

Lebih keruh.

Grenia mengangkat wajah.

Tatapannya mengarah ke pintu kaca salon.

"Kenapa, Mbak Gre?" tanya Aini.

Grenia belum sempat menjawab.

Denting bel kecil di atas pintu terdengar.

Kring...

Pintu terbuka.

Seorang pria masuk dengan langkah santai.

Grenia langsung membeku.

Wajah yang selama bertahun-tahun berusaha ia lupakan kini berdiri beberapa meter di hadapannya.

Mantan suaminya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, masa lalu yang sudah ia tinggalkan di Kediri kembali berdiri tepat di depan matanya.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari meja kasir.


Matanya bergerak perlahan menyusuri ruangan.


Tidak ada sapaan.


Tidak ada senyum.


Hanya tatapan yang membuat Grenia merasa seperti sedang kembali berdiri di depan kehidupan yang sudah susah payah ia tinggalkan.


Aini dan Mutia saling berpandangan.


Mereka tidak mengenal pria itu secara dekat, tetapi dari perubahan wajah Grenia, keduanya tahu bahwa kedatangannya bukan sesuatu yang menyenangkan.


Grenia menarik napas panjang.


"Kamu ngapain ke sini?"


Pria itu tersenyum tipis.


"Begitu ketemu mantan suami, pertanyaanmu cuma itu?"


Grenia menatapnya dingin.


"Kalau memang ada urusan, bilang."


Pria itu melangkah mendekati meja kasir.


"Aku dengar kamu sekarang hidup enak."


Tatapannya kembali berkeliling.


"Salon sendiri. Ramai. Kelihatannya cukup menghasilkan."


Grenia menutup buku laporan di hadapannya.


"Kalau cuma mau melihat-lihat, kamu sudah selesai."


"Jangan buru-buru."


Nada suaranya berubah.


"Aku datang karena ada urusan yang lebih penting."


Grenia tidak menjawab.


Pria itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Sevgi."


Satu nama itu langsung membuat tubuh Grenia menegang.


"Jangan bawa-bawa Sevgi."


"Aku ayahnya."


"Setelah bertahun-tahun?"


Grenia menatapnya tanpa berkedip.


"Selama bertahun-tahun kamu bahkan nggak pernah bertanya bagaimana keadaan anakmu."


Pria itu menghela napas.


"Aku punya alasan."


"Kamu selalu punya alasan."


Suasana salon menjadi semakin sunyi.


Aini memberi isyarat kepada pegawai lain untuk tetap bekerja dan tidak ikut campur.


Pria itu kembali mendekat.


"Aku dengar Sevgi masuk rumah sakit beberapa hari lalu."


Grenia menatapnya tajam.


"Dari siapa kamu tahu?"


"Yang penting aku tahu."


"Itu bukan jawaban."


Pria itu tersenyum kecil.


"Aku cuma ingin memastikan anakku baik-baik saja."


Grenia hampir tertawa karena tidak percaya.


"Kalau benar begitu, kamu bisa datang sebagai ayah. Bukan datang ke sini dan mengorek-ngorek bisnisku."


Senyum pria itu perlahan menghilang.


"Aku memang ingin membicarakan Sevgi."


Grenia diam.

Lihat selengkapnya