PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #26

Tembok Kokoh di Depan Bambang

Suasana di dalam salon nail art kawasan Kemang mendadak berubah setelah kalimat terakhir Bambang terucap.

Pemerasan yang dibungkus dengan alasan hak sebagai ayah kandung membuat seluruh pegawai salon terdiam. Tidak ada lagi suara percakapan pelanggan. Bahkan denting alat kerja di meja pelayanan seolah ikut menghilang.

Grenia berdiri kaku di belakang meja kasir.

Wajah yang beberapa menit lalu masih menyimpan ketenangan kini berubah tegang. Kedatangan Bambang seperti membuka kembali pintu yang selama bertahun-tahun susah payah ia tutup rapat.

Lelaki itu.

Mantan suaminya.

Ayah kandung Sevgi yang selama tujuh tahun hampir tidak pernah hadir dalam kehidupan anaknya.

Bambang melangkah sedikit lebih dekat.

Tatapannya menyapu ruangan, kemudian berhenti pada berbagai peralatan salon dan interior mewah di sekelilingnya. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Grenia semakin muak.

Bambang tidak datang untuk bertanya bagaimana keadaan Sevgi.

Ia datang karena melihat sesuatu yang bisa ia ambil.

"Grenia, jangan bikin suasana jadi ribet," katanya santai. "Gue cuma mau ngomong baik-baik."

"Baik-baik?" Grenia akhirnya bersuara.

Nada suaranya rendah, tetapi jelas menyimpan amarah.

"Kamu datang setelah tujuh tahun tanpa pernah bertanya kabar anakmu. Begitu dengar Sevgi sakit, kamu malah datang ke sini membicarakan uang dan hak asuh."

Bambang mengangkat kedua tangannya.

"Eh, gue ayahnya, Gre."

"Jangan panggil aku begitu."

Jawaban Grenia membuat Bambang terdiam sesaat.

Grenia menarik napas panjang.

"Selama tujuh tahun, kamu ke mana?"

Tidak ada jawaban.

"Ketika Sevgi lahir, kamu tidak ada."

Suara Grenia mulai bergetar.

"Ketika aku harus membesarkan dia sendirian, kamu tidak ada. Ketika aku harus bekerja dari pagi sampai malam supaya anakku bisa sekolah dan makan dengan layak, kamu juga tidak ada."

Bambang menggeser rahangnya.

"Ya, keadaan waktu itu—"

"Jangan."

Satu kata itu keluar pelan.

Namun cukup untuk menghentikan Bambang.

"Aku tidak mau dengar alasan."

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap.

Di belakang Grenia, Teguh masih berdiri diam.

Sejak Bambang masuk, pria itu sebenarnya sudah memahami situasinya. Namun, ia sengaja tidak langsung mencampuri percakapan. Ia memberi Grenia kesempatan untuk menghadapi masa lalunya sendiri.

Tetapi ketika Bambang kembali melangkah maju, Teguh akhirnya bergerak.

Satu langkah.

Kemudian satu langkah lagi.

Tubuh tegapnya kini berdiri di antara Bambang dan Grenia.

Tidak ada bentakan.

Tidak ada ancaman.

Hanya perubahan posisi sederhana yang membuat jarak di antara mereka menjadi jelas.

Bambang mendongak.

Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan pria yang sejak tadi berdiri di dekat Grenia.

Tatapan mereka bertemu.

Teguh tidak berkata apa-apa.

Namun ketenangan di wajahnya justru terasa jauh lebih menekan daripada kemarahan.

Bambang berusaha mempertahankan sikapnya.

"Lu siapa?"

Teguh menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.

"Namaku Teguh."

"Pacarnya Grenia?"

Teguh tidak langsung menjawab.

Ia hanya melirik sebentar ke arah Grenia, lalu kembali menatap Bambang.

"Orang yang kebetulan berdiri di sini ketika kamu datang mengganggu ketenangan dia."

Jawaban itu membuat Mutia yang berdiri di dekat meja pelayanan spontan menundukkan wajahnya, menahan reaksi.

Aini bahkan saling pandang dengan Imah.

Mereka tahu Teguh sedang menahan diri.

Bambang menyeringai.

"Ini urusan keluarga gue."

Teguh tetap tenang.

"Kalau memang urusan keluarga, seharusnya kamu datang sebagai ayah."

Tatapan Teguh berubah sedikit lebih tajam.

"Bukan sebagai orang yang baru muncul setelah melihat mantan istrimu berhasil."

Wajah Bambang seketika mengeras.

"Lu jangan sok tahu."

"Aku tidak perlu tahu semuanya."

Teguh berhenti sejenak.

"Beberapa hal sudah cukup jelas dari cara kamu berbicara."

Bambang mengepalkan tangan.

Namun Teguh sama sekali tidak bergeser.

Di belakang tubuhnya, Grenia perlahan menurunkan pandangan.

Untuk pertama kalinya sejak Bambang datang, ia merasa tidak sendirian menghadapi lelaki dari masa lalunya itu.

Teguh tidak mengambil alih hidupnya.

Ia hanya berdiri di sana.

Menjadi batas.

Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.


Bambang mendengus, berusaha mengembalikan keberaniannya.


"Jadi sekarang gue harus minta izin sama lu kalau mau ketemu anak gue?"


"Tidak."


Jawaban Teguh terdengar datar.


"Kamu tidak perlu meminta izin kepadaku."


Bambang sempat terdiam.


"Tapi kamu perlu bicara dengan ibunya."


Teguh menggeser sedikit tubuhnya, memberi ruang agar Grenia tetap terlihat.


"Dan kalau tujuanmu memang ingin bertemu Sevgi, bicarakan itu baik-baik dengan Grenia. Jangan datang ke tempat usahanya lalu menuntut uang."


Wajah Bambang berubah.


"Siapa bilang gue menuntut uang?"


Grenia langsung menyahut.


"Kamu sendiri yang bilang mau kompensasi dari keuntungan salon."


Bambang terdiam.


Ia mengusap tengkuknya, kemudian tertawa kecil seolah berusaha menganggap semuanya sebagai kesalahpahaman.


"Ya, gue cuma ngomong."


"Kalimatmu cukup jelas."


Kali ini suara Grenia tidak lagi bergetar.


Ia melangkah keluar dari balik meja kasir dan berdiri di samping Teguh.


"Aku tidak takut sama kamu, Bambang."


Bambang menatapnya.


"Dan kamu tidak bisa datang setelah bertahun-tahun menghilang lalu tiba-tiba bertindak seolah-olah Sevgi adalah barang yang bisa kamu ambil sesuka hati."


Sorot mata Bambang berubah gelap.

Lihat selengkapnya