PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #27

Mahkota Agung Sang Prameswari

Beberapa minggu sebelumnya...

Malam itu, setelah salon tutup, Teguh mengajak Grenia makan malam di sebuah restoran yang tenang. Tidak ada rombongan besar, tidak ada acara mewah. Hanya mereka berdua.

Grenia sempat heran ketika Teguh memilih tempat yang jauh lebih sederhana daripada restoran-restoran yang biasa didatanginya.

“Mas, kok malam ini beda?” tanyanya sambil tersenyum.

Teguh hanya mengangkat bahu.

“Memangnya harus selalu mewah?”

Grenia tertawa kecil.

“Bukan begitu.”

Makan malam berlangsung santai. Mereka berbicara tentang salon, Sevgi, dan rencana-rencana kecil yang selama ini belum sempat dibicarakan dengan serius.

Setelah meja mereka mulai dirapikan, Teguh tiba-tiba menjadi lebih diam.

Ia menggenggam tangan Grenia di atas meja.

Grenia menatapnya heran.

“Kenapa, Mas?”

Teguh menarik napas.

“Grenia.”

Nada suaranya membuat senyum di wajah Grenia perlahan menghilang.

“Saya sudah lama memikirkan satu hal.”

Teguh kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya.

Mata Grenia langsung membesar.

“Mas Teguh...”

Teguh membuka kotak itu.

Sebuah cincin sederhana berkilau di dalamnya.

“Saya tidak ingin sekadar menjadi orang yang datang ketika kamu membutuhkan perlindungan,” katanya pelan. “Saya ingin menjadi orang yang tetap berada di sampingmu ketika semuanya baik-baik saja maupun ketika kehidupan kembali memberikan ujian.”

Grenia terdiam.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Teguh tersenyum lembut.

“Grenia Virginia, maukah kamu menjadi istri saya?”

Beberapa detik berlalu.

Grenia menundukkan wajahnya, berusaha menahan air mata yang akhirnya jatuh juga.

Kemudian ia mengangguk.

“Iya, Mas.”

Senyum Teguh langsung merekah.

Ia berdiri, menghampiri sisi meja, lalu memasangkan cincin itu ke jari Grenia.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada kamera.

Tidak ada kemeriahan.

Hanya dua orang yang akhirnya mengambil keputusan untuk menjalani sisa perjalanan hidup bersama.

Malam itu menjadi awal dari persiapan mereka menuju hari yang jauh lebih besar.

Beberapa minggu kemudian, suasana hotel mewah di kawasan Jakarta Selatan mulai dipenuhi kesibukan.

Sejak pagi, para pekerja telah memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai rencana. Rangkaian bunga melati menghiasi lorong menuju ballroom. Dekorasi bernuansa Jawa berpadu dengan sentuhan modern, menghadirkan suasana mewah tanpa menghilangkan akar budaya keluarga Grenia.

Hari itu bukan lagi sekadar rencana.

Hari pernikahan mereka benar-benar tiba.

Di ballroom utama, keluarga besar mulai berdatangan. Para kerabat dari Kediri mengenakan busana adat terbaik mereka. Beberapa kolega Teguh dari Jakarta hadir dengan pakaian formal, sementara keempat sahabat dekatnya—Sudirman, Bongo, Bagong, dan Mistian—tampak sibuk memastikan segala sesuatu berjalan lancar.

Sevgi pun hadir dengan beskap cilik yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan.

Ia beberapa kali berlari kecil menghampiri sang nenek, lalu kembali kepada para pamannya yang sibuk menggoda dirinya.

Di tengah keramaian itu, ibu Grenia hanya bisa tersenyum haru.

Perjalanan putrinya terlintas kembali dalam pikirannya.

Dari seorang perempuan yang membesarkan anak seorang diri hingga akhirnya menemukan lelaki yang bersedia berdiri di sampingnya.

Sementara itu, di ruangan pengantin, Grenia duduk tenang di depan cermin besar.

Ia hampir tidak mengenali pantulan dirinya sendiri.

Kebaya pengantin bernuansa gelap dengan sulaman benang emas membalut tubuhnya. Kain jarik melilit pinggangnya dengan anggun, sementara rambutnya telah ditata dalam sanggul pengantin lengkap dengan aksesori tradisional.

Aini berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

“Cantik banget, Mbak.”

Grenia tersenyum kecil.

“Jangan bikin saya nangis, Aini.”

“Lho, saya belum bilang apa-apa.”

Mutia yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung tertawa.

“Memang sudah mau nangis dari tadi, Mbak.”

Grenia menggeleng sambil tertawa kecil.

Namun setelah tawa itu mereda, matanya kembali tertuju pada cermin.

Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya.

Bukan lagi keraguan.

Bukan lagi ketakutan.

Ia hanya merasa bersyukur.

Hari ini, ia tidak sedang melupakan masa lalunya.

Ia sedang memulai kehidupan baru dengan seluruh pengalaman yang telah membentuk dirinya.

Grenia menyentuh cincin di jarinya.

Cincin yang beberapa minggu lalu diberikan Teguh.

Senyum kecil kembali muncul di wajahnya.

“Mas Teguh...” bisiknya.

Di luar ruangan, suara langkah kaki dan kesibukan para tamu semakin terdengar.

Hari baru itu telah benar-benar dimulai.

Di sisi lain ballroom, Teguh sudah bersiap menunggu prosesi dimulai.

Beskap hitam dengan detail benang emas membalut tubuh tegapnya. Tidak ada jas perusahaan, tidak ada meja rapat, dan tidak ada aura seorang pengusaha yang sedang menghadapi negosiasi bisnis.

Lihat selengkapnya