Dua hari setelah pernikahan, pagi di rumah terasa jauh lebih tenang.
Grenia duduk di meja makan sambil memeriksa beberapa catatan dari salon. Meski baru saja menikah, pikirannya masih sempat tertuju pada jadwal pelanggan dan pekerjaan yang menunggunya setelah kembali nanti.
Di hadapannya, Teguh justru terlihat santai. Sebuah map perjalanan terbuka di atas meja.
Grenia meliriknya.
“Mas, itu apa?”
“Rencana bulan madu.”
Grenia mengambil map tersebut dan membuka lembar pertama.
Matanya langsung membesar.
“Seoul?”
Teguh mengangguk.
Grenia membalik halaman berikutnya.
“Phuket?”
“Iya.”
“Shanghai?”
“Iya.”
“Singapura?”
“Iya.”
Sampai pada halaman terakhir, Grenia terdiam.
“Madrid?”
Teguh tersenyum puas.
Grenia menatap suaminya dengan wajah tidak percaya.
“Mas... kita mau bulan madu atau keliling dunia?”
“Dua-duanya.”
Grenia mengembuskan napas sambil menggelengkan kepala.
“Terus salonku bagaimana?”
Teguh mengangkat bahu dengan santai.
“Tinggal kamu kasih tahu Aini sama Mutia, kan? Mereka sudah cukup mampu mengurus salonmu selama kita pergi, Gre.”
Grenia terdiam sejenak.
Ia memikirkan ucapan itu.
Memang benar. Selama ini Aini dan Mutia sudah cukup lama membantunya menjalankan operasional salon. Mereka mengenal pelanggan, memahami jadwal kerja, dan tahu bagaimana menjaga salon tetap berjalan ketika dirinya sedang tidak berada di tempat.
“Iya juga,” gumam Grenia.
Teguh tersenyum.
“Nah. Jadi kali ini jangan pikirkan salon terus.”
Grenia menatapnya.
“Gampang ngomongnya.”
“Makanya saya ajak bulan madu.”
“Biar apa?”
“Biar kamu belajar santai.”
Grenia langsung mencubit lengan Teguh.
“Saya memang kelihatan nggak pernah santai?”
Teguh menahan tawa.
“Sedikit.”
“Mas Teguh!”
Tawa mereka pecah di ruang makan.
Beberapa saat kemudian, Grenia kembali melihat daftar perjalanan itu.
Korea Selatan.
Thailand.
Shanghai.
Singapura.
Madrid.
Entah bagaimana, lelaki di sampingnya itu benar-benar sudah merencanakan perjalanan sejauh itu hanya untuk mereka berdua.
Grenia tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun selalu sibuk mengurus kehidupan sendiri, ia akan meninggalkan semua rutinitas untuk sementara.
Bukan karena melarikan diri.
Melainkan karena akhirnya ia punya seseorang yang ingin mengajaknya menikmati dunia.
Teguh meraih tangannya.
“Siap berangkat, Gre?”
Grenia menatapnya sambil tersenyum.
“Kalau saya bilang belum?”
“Koper tetap saya masukkan ke mobil.”
Grenia tertawa.
“Dasar.”
Pagi itu, perjalanan bulan madu mereka pun resmi dimulai.
Menjelang siang, koper-koper mereka sudah tersusun rapi di dekat pintu.
Grenia masih sempat memeriksa ponselnya untuk terakhir kali.
Ada beberapa pesan dari Aini dan Mutia mengenai jadwal salon.
Ia membalas satu per satu, memberikan beberapa arahan sebelum akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Sudah?” tanya Teguh.
Grenia mengangguk.
“Sudah. Aini sama Mutia juga sudah tahu semuanya.”
“Berarti sekarang benar-benar libur.”
Grenia tersenyum.
“Jangan terlalu senang dulu. Saya tetap akan cek salon sesekali.”
Teguh menggeleng sambil tertawa.
“Ya sudah. Saya menyerah.”
Mereka kemudian berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Perjalanan menuju bandara berlangsung santai. Tidak ada pembicaraan mengenai pekerjaan atau urusan perusahaan. Teguh sengaja membiarkan Grenia menikmati pagi terakhirnya di Jakarta sebelum perjalanan panjang dimulai.
Sesampainya di bandara, mereka langsung menuju ruang tunggu khusus.
Grenia berhenti sejenak ketika melihat suasana di dalamnya.
“Mas... kita benar-benar naik pesawat ini?”
Teguh tersenyum.
“Kenapa?”
“Biasanya saya kalau bepergian paling mikirnya cuma koper jangan sampai ketinggalan.”
Teguh tertawa.
“Sekarang tugasmu cuma satu.”
“Apa?”
“Jangan kehilangan suami.”
Grenia langsung memutar mata.
“Yang ada saya takut suaminya yang hilang.”
Teguh terkekeh.
Tak lama kemudian, panggilan untuk penerbangan mereka terdengar.
Teguh berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Ayo, Gre.”
Grenia menyambut tangan itu.
Mereka berjalan menuju pesawat dengan langkah berdampingan.
Begitu memasuki kabin, Grenia kembali dibuat takjub melihat ruang pribadi yang telah disiapkan untuk mereka.
Ia menatap kursi yang dapat berubah menjadi tempat tidur, lalu menoleh kepada Teguh.
“Ini berlebihan.”
“Namanya bulan madu.”
“Kalau begini terus, saya bisa lupa pulang.”
“Memang itu rencananya.”
Grenia tertawa kecil.
Pesawat akhirnya bergerak meninggalkan landasan.
Beberapa saat kemudian, Jakarta perlahan mengecil di balik jendela.
Grenia menyandarkan kepala di kursinya sambil memandang keluar.
Ada perasaan aneh di dalam dadanya.
Ia pernah meninggalkan Jakarta karena keadaan.
Pernah pergi ke Kediri karena Sevgi sakit.
Namun kali ini berbeda.
Ia meninggalkan kota itu sebagai seorang istri.
Dan untuk pertama kalinya, ia pergi bukan untuk menyelesaikan masalah.
Ia pergi untuk menikmati kehidupan.
Teguh menggenggam tangannya.
“Selamat datang di perjalanan baru, Gre.”
Grenia menoleh dan tersenyum.
“Semoga perjalanan ini menyenangkan.”
Teguh mengangguk.