Perjalanan mereka di Korea Selatan akhirnya memasuki hari terakhir.
Pagi itu, Grenia berdiri di depan jendela kamar hotel sambil memandangi kota Seoul yang mulai dipenuhi aktivitas. Beberapa hari terakhir terasa begitu cepat.
Ia tersenyum kecil.
Ternyata, menikmati hidup tidak sesulit yang selama ini ia bayangkan.
Teguh muncul dari belakang sambil membawa dua cangkir kopi.
“Masih mau lihat Seoul?”
Grenia menerima satu cangkir darinya.
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Entahlah. Rasanya baru kemarin kita sampai.”
Teguh berdiri di sampingnya.
“Masih ada banyak tempat yang belum kita datangi.”
“Justru itu.”
Grenia menoleh.
“Kita terlalu sebentar di sini.”
Teguh tertawa kecil.
“Berarti nanti kita balik lagi.”
Grenia tersenyum.
“Boleh.”
Setelah sarapan dan memastikan semua barang sudah masuk ke dalam koper, mereka meninggalkan hotel.
Tidak ada jadwal panjang hari itu.
Mereka hanya berjalan sebentar menikmati suasana kota sebelum menuju bandara.
Di dalam mobil, Grenia membuka kembali daftar perjalanan yang disimpan di ponselnya.
Seoul sudah dicoret.
Di bawahnya tertulis satu tujuan berikutnya.
Thailand.
Grenia membaca tulisan itu beberapa kali.
“Mas.”
“Hm?”
“Setelah Korea, kita langsung ke Thailand?”
“Iya.”
“Terus kita mau ke mana?”
“Phuket.”
Grenia tersenyum.
“Pantai?”
“Pantai.”
“Berarti kali ini aku bisa santai tanpa pakai jaket.”
Teguh tertawa.
“Kalau kamu mau, kamu bisa berjemur seharian.”
“Jangan. Nanti kulitku gosong.”
“Biar.”
Grenia langsung menatapnya.
“Mas!”
Teguh tertawa semakin lebar.
“Bercanda.”
Grenia mendengus, tetapi akhirnya ikut tersenyum.
Sesampainya di bandara, proses keberangkatan berlangsung lancar.
Sebelum masuk ke ruang tunggu, Grenia sempat berhenti dan melihat kembali ke arah gedung terminal.
Seoul meninggalkan kesan yang berbeda dalam dirinya.
Bukan hanya karena tempat-tempat indah yang mereka kunjungi.
Melainkan karena di kota inilah ia mulai benar-benar memahami satu hal.
Ia tidak perlu selalu menjadi perempuan yang kuat sendirian.
Sekarang ada Teguh di sampingnya.
Pria yang mungkin sering membuatnya kesal, tetapi juga menjadi orang pertama yang membuatnya berani menikmati hidup tanpa rasa bersalah.
Teguh yang sudah berjalan beberapa langkah ke depan kemudian menoleh.
“Gre.”
Grenia tersadar.
“Iya?”
“Kalau mau berdiri di situ terus, kita bisa ketinggalan pesawat.”
Grenia tertawa kecil lalu menghampirinya.
“Iya, Mas.”
Teguh mengulurkan tangan.
Grenia menyambutnya.
Mereka kemudian berjalan bersama menuju pesawat berikutnya.
Tujuan mereka kali ini bukan lagi negeri dengan udara dingin dan pepohonan musim gugur.
Mereka akan menuju tempat yang hangat, penuh warna, dan dikelilingi laut.
Phuket, Thailand.
Beberapa jam kemudian, pesawat mereka mulai menurunkan ketinggian.
Grenia yang sejak tadi tertidur di samping Teguh perlahan membuka mata.
“Sudah sampai?”
Teguh menoleh.
“Sebentar lagi.”
Grenia langsung melihat ke luar jendela.
Pemandangan di bawah mereka perlahan berubah. Laut biru terbentang luas, sementara gugusan pulau dan garis pantai mulai terlihat dari kejauhan.
“Indah banget.”
Teguh ikut melihat ke luar.
“Itu baru dari atas.”
Begitu pesawat mendarat dan mereka keluar dari bandara, hawa hangat langsung menyambut.
Grenia menarik napas panjang.
“Wah... beda banget sama Seoul.”
Teguh tertawa.
“Baru keluar sudah mengeluh?”
“Bukan mengeluh. Kaget.”
Mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat menginap di Phuket.
Sepanjang perjalanan, Grenia lebih banyak memandangi pemandangan dari balik jendela mobil.
Pepohonan tropis, jalanan yang ramai, dan suasana pesisir membuat wajahnya tampak semakin cerah.
Begitu sampai, Grenia kembali dibuat terdiam.
Di hadapan mereka terbentang laut dengan air berwarna biru kehijauan.
Ia berjalan perlahan menuju tepi area penginapan.
“Mas...”
“Hm?”
“Ini bagus banget.”
Teguh berdiri di sampingnya.
“Kalau kamu suka, kita tinggal beberapa hari.”
Grenia menoleh.
“Memangnya jadwalnya tidak padat?”
“Jadwal bisa diubah.”
Grenia tersenyum.
“Tumben.”
“Kenapa?”
“Biasanya kamu yang paling suka mengatur semuanya.”
Teguh mengangkat alis.
“Sekarang saya punya istri yang harus diprioritaskan.”
Grenia tertawa kecil.
“Baru beberapa hari menikah sudah pintar ngomong.”
“Memang dari dulu pintar.”
“Percaya diri.”
“Bukan percaya diri. Fakta.”
Grenia kembali tertawa.
Sore itu mereka tidak pergi ke mana-mana.
Mereka memilih menikmati suasana penginapan dan pantai di sekitar tempat mereka menginap.
Grenia melepas alas kakinya, lalu berjalan perlahan di atas pasir.
Teguh mengikutinya dari belakang.
“Gre.”
Grenia menoleh.
“Apa?”
“Jangan terlalu jauh.”
“Kenapa?”
“Nanti saya susah nyarinya.”
Grenia tersenyum.
“Kan saya cuma jalan di sini.”
Teguh mendekat.
“Ya sudah. Jalan sama saya.”
Ia kemudian menggenggam tangan Grenia.
Mereka berjalan menyusuri garis pantai tanpa terburu-buru.
Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan.