BAB 30 — Penerbangan Cinta Lintas Benua 3
Pagi terakhir di Phuket terasa lebih cepat dari yang Grenia harapkan.
Setelah sarapan, mereka kembali ke kamar untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Grenia memeriksa isi koper satu per satu, sementara Teguh berdiri di dekat pintu sambil memperhatikannya.
“Sudah semua?”
“Sebentar. Jangan buru-buru.”
“Aku nggak buru-buru.”
“Wajahmu begitu.”
Teguh tertawa.
“Aku cuma penasaran kapan kamu selesai memeriksa koper yang sudah kamu periksa tiga kali.”
Grenia menoleh.
“Namanya juga hati-hati.”
“Baiklah.”
Beberapa menit kemudian, koper akhirnya tertutup.
Grenia menatapnya puas.
“Nah. Aman.”
Mereka meninggalkan tempat menginap dan menuju bandara.
Di dalam kendaraan, Grenia masih sempat membuka beberapa foto yang mereka ambil selama berada di Phuket.
Foto dirinya berdiri di tepi pantai.
Foto mereka berdua saat makan malam.
Bahkan ada beberapa foto Teguh yang menurutnya terlalu narsis.
Grenia tertawa kecil.
“Mas.”
“Hm?”
“Foto yang ini jangan sampai masuk galeri keluarga.”
Teguh melirik layar ponselnya.
“Kenapa?”
“Lihat sendiri.”
Teguh tersenyum.
“Bagus, kok.”
“Itu muka kamu terlalu percaya diri.”
“Memang kenyataannya begitu.”
Grenia menggeleng sambil tertawa.
Perjalanan menuju bandara terasa ringan.
Phuket meninggalkan kenangan yang berbeda dari Seoul. Di Korea mereka banyak berjalan dan melihat tempat baru. Di Thailand, mereka justru lebih banyak menikmati waktu tanpa jadwal yang terlalu padat.
Dan Grenia menyukai keduanya.
Sesampainya di bandara, mereka menyelesaikan proses keberangkatan.
Sebelum masuk ke ruang tunggu, Grenia kembali menoleh ke arah luar.
“Sudah selesai satu lagi.”
Teguh menggenggam tangannya.
“Masih ada tiga.”
“Shanghai, Singapura, sama Madrid.”
“Betul.”
Grenia tersenyum.
“Kalau dipikir-pikir, gila juga.”
“Kenapa?”
“Baru menikah, langsung keliling beberapa negara.”
Teguh tertawa.
“Makanya jangan punya suami seperti aku.”
Grenia menatapnya.
“Sudah terlambat.”
Teguh tersenyum.
“Iya.”
Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju ruang tunggu.
Beberapa waktu kemudian, panggilan penerbangan terdengar.
Grenia menggenggam tangan Teguh lebih erat.
“Yuk.”
“Siap, Nyonya Wijaya.”
Grenia langsung tersenyum.
“Jangan panggil begitu.”
“Kenapa?”
“Masih belum terbiasa.”
Teguh tertawa kecil.
“Baik, Gre.”
Mereka memasuki pesawat.
Beberapa jam ke depan, perjalanan mereka akan membawa mereka ke kota yang sama sekali berbeda.
Dari pantai Phuket yang hangat menuju gemerlap metropolitan Shanghai, Tiongkok.
Dan Grenia mulai penasaran, kejutan apa lagi yang sudah disiapkan suaminya di sana.
Pesawat mendarat di Shanghai menjelang sore.
Begitu keluar dari terminal, Grenia langsung merasakan perbedaan suasana kota itu. Udara terasa lebih sejuk, sementara gedung-gedung tinggi mulai memenuhi pandangannya sepanjang perjalanan menuju pusat kota.
Ia menatap keluar jendela mobil hampir tanpa berkedip.
“Mas.”
“Hm?”
“Ini kota apa gedung semua?”
Teguh tertawa.
“Shanghai.”
“Gila... tinggi banget.”
“Belum lihat malamnya.”
Grenia menoleh.
“Memangnya lebih bagus?”
“Nanti kamu lihat sendiri.”
Mereka tiba di hotel ketika matahari mulai tenggelam.
Setelah beristirahat sebentar, Teguh mengajak Grenia keluar lagi.
Kali ini mereka menuju kawasan The Bund.
Begitu sampai, Grenia langsung terdiam.
Di seberang Sungai Huangpu, deretan gedung pencakar langit Pudong mulai menyalakan lampu. Pantulan cahaya berwarna-warni menari di permukaan air, sementara bangunan-bangunan bersejarah di sisi mereka berdiri megah di bawah langit malam.
Grenia perlahan mengambil ponselnya.
“Mas...”
“Iya?”
“Ini baru namanya kota.”
Teguh tersenyum melihat ekspresinya.
“Bagus?”
“Bagus banget.”
Grenia mulai mengambil beberapa foto.
Teguh berdiri di sampingnya.
“Kamu mau foto sendiri atau sama aku?”
Grenia menoleh.
“Ya sama kamu.”
Teguh langsung berdiri di sampingnya.
Namun ketika Grenia mengangkat ponsel, Teguh justru merapikan rambut istrinya yang tertiup angin.
“Mas!”
“Apa?”
“Jangan ganggu.”
“Aku cuma bantu.”
“Bantu apanya?”
“Biar istriku makin cantik.”
Grenia menahan senyum.
“Gombal.”
“Berhasil?”
“Sedikit.”
Mereka kemudian berjalan perlahan menyusuri kawasan tepi sungai.
Tidak seperti di Phuket yang terasa tenang, Shanghai malam itu terasa hidup. Orang-orang berjalan di sepanjang tepian sungai, lampu kapal bergerak di atas air, sementara gedung-gedung tinggi di kejauhan membuat Grenia beberapa kali kembali berhenti.
Teguh memperhatikannya.
“Kamu suka?”
Grenia mengangguk.
“Banget.”
“Kalau begitu, besok kita lihat Shanghai dari tempat lain.”
“Ke mana?”
“Rahasia.”
Grenia langsung menatap curiga.
“Mas, jangan bilang kamu sudah menyiapkan sesuatu lagi.”
Teguh hanya tersenyum.
“Namanya juga bulan madu.”