Pagi di Shanghai datang lebih cepat dari yang Grenia harapkan.
Setelah beberapa hari berpindah dari satu kota ke kota lainnya, tubuhnya mulai merasakan lelah. Namun anehnya, ia justru semakin menikmati perjalanan itu.
Koper kembali ditutup.
Paspor kembali diperiksa.
Dan untuk kesekian kalinya, mereka menuju bandara.
Di dalam kendaraan, Grenia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil melihat pemandangan kota Shanghai yang perlahan menjauh.
“Mas.”
“Hm?”
“Kita sudah berapa negara?”
Teguh berpikir sebentar.
“Kalau yang sudah kita datangi? Tiga.”
“Korea, Thailand, Shanghai.”
“Shanghai bukan negara.”
Grenia langsung menoleh.
“Ya ampun, maksudku Tiongkok.”
Teguh tertawa.
“Berarti tiga negara.”
Grenia mengangguk puas.
“Dan sekarang Singapura.”
“Betul.”
“Setelah itu Madrid.”
Teguh mengangguk.
Grenia menghela napas.
“Kalau nanti pulang, kayaknya aku butuh liburan lagi.”
Teguh langsung tertawa.
“Lho?”
“Capek keliling dunia.”
“Baru empat tempat.”
“Buatku itu sudah keliling dunia.”
Teguh meraih tangan istrinya.
“Kalau begitu nanti setelah pulang kita istirahat.”
Grenia tersenyum.
“Setuju.”
Sesampainya di bandara, proses keberangkatan berlangsung lancar.
Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam pesawat menuju Singapura.
Perjalanan kali ini terasa lebih singkat dibandingkan penerbangan sebelumnya.
Grenia bahkan sempat tertidur beberapa saat sebelum akhirnya terbangun ketika pesawat mulai menurunkan ketinggian.
Ia melihat keluar jendela.
Laut dan daratan perlahan terlihat jelas.
Beberapa menit kemudian, pesawat mendarat dengan mulus.
Begitu keluar dari terminal, suasana Singapura langsung terasa berbeda.
Bandara yang tertata rapi, suasana modern, dan lalu lintas yang teratur membuat Grenia memperhatikan sekeliling dengan rasa kagum.
“Mas.”
“Iya?”
“Rapi banget.”
Teguh tersenyum.
“Makanya jangan jalan sembarangan.”
Grenia menatapnya.
“Memangnya aku pernah?”
“Belum.”
“Berarti jangan menuduh.”
Teguh tertawa.
Mereka kemudian menuju hotel.
Kali ini Teguh sudah menyiapkan tempat menginap yang cukup istimewa. Namun Grenia tidak langsung bertanya terlalu banyak.
Ia hanya ingin menikmati perjalanan.
Begitu tiba, Grenia berdiri di depan jendela kamar dan melihat pemandangan kota.
Gedung-gedung tinggi berdiri berjejer.
Di kejauhan, kawasan Marina Bay terlihat begitu jelas.
Grenia tersenyum.
“Mas.”
“Hm?”
“Kayaknya Singapura bakal beda lagi.”
Teguh berdiri di sampingnya.
“Memang.”
“Terus hari ini kita mau ke mana?”
Teguh tersenyum tipis.
“Marina Bay.”
Grenia langsung menoleh.
“Sudah kuduga.”
“Kenapa?”
“Karena dari tadi kamu kelihatan seperti orang yang sudah punya rencana.”
Teguh tertawa.
“Memang punya.”
Grenia menggeleng sambil tersenyum.
“Ya sudah. Ayo.”
Teguh mengulurkan tangannya.
Grenia menyambutnya.
Mereka pun bersiap keluar, melanjutkan perjalanan bulan madu yang masih belum selesai.
Kali ini, di tengah gemerlap kota Singapura.
Menjelang sore, Teguh dan Grenia tiba di kawasan Marina Bay.
Begitu turun dari kendaraan, Grenia langsung mendongak.
Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah mengelilingi kawasan tersebut. Cahaya matahari sore memantul pada permukaan kaca bangunan, sementara suasana kota tetap ramai tanpa terasa sesak.
Grenia berjalan di samping Teguh.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau aku dulu bilang ingin punya usaha sendiri, aku nggak pernah membayangkan akhirnya bisa jalan-jalan begini.”
Teguh tersenyum.
“Karena dulu pikiranmu cuma bagaimana salonmu bisa bertahan.”
Grenia mengangguk.
“Iya.”
Teguh menggenggam tangannya.
“Sekarang salonmu sudah bisa berjalan tanpa kamu harus berdiri di sana setiap hari.”
Grenia menoleh.
“Karena Aini sama Mutia.”
“Betul.”
“Mereka hebat.”
“Makanya kamu harus percaya kepada mereka.”
Grenia tersenyum.
“Aku percaya.”
Mereka berjalan semakin dekat ke kawasan Marina Bay Sands.
Grenia beberapa kali berhenti untuk melihat pemandangan dan mengambil foto.
Kali ini Teguh tidak banyak menggodanya.
Ia justru mengambil beberapa foto Grenia dari kejauhan.
Ketika Grenia menyadarinya, ia langsung menoleh.
“Mas!”
Teguh pura-pura tidak tahu.
“Apa?”
“Kamu foto aku?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Teguh memperlihatkan layar ponselnya.
Grenia melihat hasil fotonya.
Ia terdiam sebentar.
“Bagus.”
“Kan.”
“Tapi jangan sembarangan kirim ke orang.”
“Kenapa?”
“Malu.”
Teguh tersenyum.
“Cuma aku yang boleh simpan.”
Grenia langsung membuang muka.