PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #32

Penerbangan Cinta Lintas Benua 5

Pesawat yang membawa Teguh dan Grenia dari Singapura akhirnya mendarat di Madrid menjelang sore.

Begitu pintu kabin terbuka, Grenia menarik napas panjang.

Udara di kota itu terasa berbeda.

Bukan seperti Seoul yang dingin, bukan pula seperti Phuket yang hangat dan lembap. Ada sesuatu yang asing sekaligus elegan dalam udara Madrid sore itu.

Grenia berjalan perlahan di samping Teguh.

Setelah perjalanan panjang melewati beberapa negara, tubuhnya memang mulai terasa lelah. Namun matanya tetap sibuk memperhatikan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya.

Teguh justru tampak santai.

“Capek?”

“Sedikit.”

“Tidur dulu di hotel?”

Grenia menoleh.

“Bukannya kamu sudah punya rencana?”

Teguh tersenyum.

“Memangnya aku pernah bilang?”

“Wajahmu.”

Teguh tertawa kecil.

“Wajahku kenapa?”

“Kalau kamu sudah menyiapkan sesuatu, pasti kelihatan.”

“Berarti selama ini aku gampang dibaca?”

“Banget.”

Teguh hanya tersenyum.

Mereka meninggalkan bandara dan melanjutkan perjalanan menuju pusat kota.

Sepanjang perjalanan, Grenia lebih banyak diam.

Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur khas Eropa berdiri berdampingan dengan kawasan modern. Jalanan kota dipenuhi aktivitas, tetapi suasananya terasa berbeda dari kota-kota Asia yang mereka datangi sebelumnya.

Grenia menempelkan kepalanya pada kaca jendela.

“Indah.”

Teguh menoleh sebentar.

“Madrid?”

Grenia mengangguk.

“Iya.”

Beberapa saat kemudian, kendaraan berhenti di depan hotel.

Namun Teguh tidak langsung mengajak Grenia masuk.

Ia justru turun terlebih dahulu, kemudian membuka pintu untuk istrinya.

Grenia turun sambil mengernyitkan dahi.

“Kenapa berhenti di sini?”

Teguh mengulurkan tangannya.

“Turun dulu.”

Grenia menerima tangannya.

Mereka berjalan beberapa langkah.

Teguh kemudian berkata,

“Gre.”

“Hm?”

“Mulai sekarang jangan anggap ini sebagai perjalanan wisata.”

Grenia menatapnya bingung.

“Terus?”

Teguh tersenyum tipis.

“Anggap ini perjalanan terakhir untuk mengingat semua yang sudah kita lewati.”

Grenia terdiam.

Ia tidak langsung memahami maksudnya.

Teguh menggenggam tangannya lebih erat.

“Lima negara.”

Grenia tersenyum kecil.

“Kamu masih menghitung?”

“Bukan soal jumlahnya.”

Teguh menatap mata istrinya.

“Setiap tempat yang kita datangi punya cerita.”

Grenia perlahan kehilangan senyumnya.

Ia mulai mengerti.

Seoul mengajarinya menikmati sesuatu yang baru.

Thailand memberinya ketenangan.

Shanghai membuatnya kembali merasa seperti perempuan yang bebas bermimpi.

Singapura mengingatkannya bahwa hidupnya yang dulu terasa sempit ternyata masih memiliki begitu banyak ruang untuk kebahagiaan.

Dan sekarang mereka berada di Madrid.

Tempat terakhir.

Teguh mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.

“Setelah ini kita pulang.”

Grenia menatapnya.

“Jakarta?”

“Jakarta.”

“Salon?”

“Salon.”

“Sevgi?”

Teguh tersenyum.

“Sevgi.”

Grenia tertawa kecil, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

Ia baru menyadari bahwa perjalanan panjang ini memang akan segera berakhir.

Namun anehnya, untuk pertama kalinya ia tidak merasa sedih karena sebuah perjalanan berakhir.

Karena kini ia tahu.

Ada seseorang yang akan pulang bersamanya.

Dan ada rumah yang menunggu mereka.

Teguh kemudian menggenggam tangannya dan mengajaknya berjalan.

“Masih ada satu tempat yang ingin aku tunjukkan.”

Grenia mengusap sudut matanya.

“Di mana?”

Teguh hanya tersenyum.

“Nanti kamu tahu.”

Grenia menggeleng kecil.

“Masih saja suka bikin penasaran.”

“Karena kali ini aku ingin melihat ekspresimu.”

Mereka pun berjalan meninggalkan area hotel.

Di hadapan mereka, Madrid terbentang luas.

Namun kali ini, perjalanan mereka bukan lagi sekadar tentang melihat dunia.

Ini adalah perjalanan untuk menutup satu kehidupan lama—dan membuka kehidupan baru bersama.

Matahari Madrid mulai condong ke ufuk barat ketika Teguh membawa Grenia menyusuri jalanan kota.


Tidak ada rombongan.


Tidak ada pengawal yang berjalan mengelilingi mereka.


Tidak ada agenda bisnis.


Hanya mereka berdua.


Grenia beberapa kali menoleh kepada Teguh dengan rasa penasaran yang semakin besar.


“Mas.”


“Hm?”


“Ini sebenarnya kita mau ke mana?”


“Sebentar lagi.”


“Dari tadi jawabannya sebentar lagi.”


Teguh tersenyum.


“Kalau kuberi tahu sekarang, namanya bukan kejutan.”


Grenia mendengus kecil.


“Nyebelin.”


“Katanya dulu aku memang begitu.”


“Memang.”


Mereka terus berjalan hingga akhirnya Teguh berhenti di depan sebuah bangunan tua yang memiliki halaman luas dan tenang.


Grenia memperhatikan tempat itu.


Tidak ada kemewahan berlebihan.


Tidak ada dekorasi mencolok.


Justru kesederhanaannya membuat Grenia bingung.


“Di sini?”


Teguh mengangguk.


“Iya.”


Mereka masuk ke halaman.


Di sana terdapat sebuah taman kecil dengan bangku-bangku batu dan pepohonan yang tertata rapi. Suasana sore terasa begitu tenang dibandingkan hiruk-pikuk jalanan Madrid di luar.


Teguh mengajak Grenia duduk.


Grenia masih menatapnya penuh tanda tanya.


“Apa ini?”


Teguh tidak langsung menjawab.


Ia justru mengambil sesuatu dari saku jasnya.


Sebuah kotak kecil.


Grenia langsung menatap benda itu.


“Mas...”


“Tenang.”


Teguh tersenyum.


“Bukan apa-apa yang perlu kamu takutkan.”


Ia membuka kotak tersebut.


Di dalamnya terdapat sebuah liontin sederhana dengan ukiran kecil berbentuk bunga.


Grenia terdiam.


“Cantik.”


“Aku menemukan ini beberapa waktu lalu.”


Teguh mengambil liontin itu.


“Awalnya aku ingin memberikannya saat kita menikah.”


Grenia menatapnya.


“Kenapa tidak?”


“Karena saat itu semuanya terlalu ramai.”


Teguh berdiri di belakang Grenia.


Ia memasangkan liontin tersebut perlahan di leher istrinya.


“Dan aku ingin memberikannya ketika kita hanya berdua.”


Grenia menyentuh liontin itu dengan ujung jarinya.


“Kenapa bunga?”


Teguh duduk kembali di sampingnya.


“Karena bunga tidak selalu tumbuh di tempat yang mudah.”


Grenia terdiam.


“Ada yang tumbuh setelah melewati tanah keras. Ada yang harus bertahan dari panas dan hujan.”


Teguh menatapnya.

Lihat selengkapnya