Hampir beberapa bulan telah berlalu sejak perjalanan bulan madu mereka berakhir di Madrid.
Kehidupan Grenia Virginia perlahan kembali pada rutinitas yang lebih tenang. Tidak ada lagi penerbangan lintas benua, hotel-hotel mewah, atau kejutan yang disiapkan Teguh di setiap kota. Kini, pagi dan sore mereka kembali diisi oleh kesibukan masing-masing.
Namun, ada satu hal yang berubah.
Grenia tidak lagi menjalani semuanya seorang diri.
Sore itu, salon nail art miliknya di kawasan Kemang masih dipenuhi aktivitas. Suara percakapan pelanggan bercampur dengan bunyi peralatan manicure, sementara aroma khas cairan gel dan acrylic memenuhi ruangan.
Di balik meja kasir, Grenia sedang memeriksa catatan pemasukan hari itu.
Sebuah sedan putih terparkir di depan salon.
Mobil itu merupakan hadiah pernikahan dari Teguh.
Awalnya Grenia sempat menolak.
Menurutnya, kendaraan lamanya masih cukup untuk digunakan. Tetapi Teguh punya cara sendiri untuk membuat istrinya menyerah.
Bukan dengan memaksa.
Melainkan dengan kalimat sederhana bahwa ia ingin istrinya pulang dan pergi tanpa harus memikirkan hujan, panas, atau kondisi kendaraan.
Pada akhirnya, Grenia menerima.
Namun, ia tetap tidak berubah menjadi perempuan yang hanya duduk manis menunggu dilayani.
Salon itu tetap menjadi bagian penting dari hidupnya.
Bisnis tersebut adalah hasil perjuangannya sebelum Teguh hadir dalam kehidupannya. Karena itu, Grenia tidak pernah menganggap pernikahannya sebagai alasan untuk meninggalkan sesuatu yang sudah ia bangun dengan tangannya sendiri.
Aini dan Mutia pun semakin terbiasa bekerja tanpa harus menunggu setiap keputusan darinya.
Grenia justru merasa lega melihat keduanya mulai mampu mengambil tanggung jawab lebih besar.
Ia mengangkat wajah ketika melihat Aini sedang memeriksa jadwal pelanggan di tablet.
“Sudah selesai yang jam lima?”
“Sudah, Gre,” jawab Aini. “Tinggal pelanggan berikutnya.”
“Bagus.”
Grenia kembali menunduk.
Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
Ada kepuasan tersendiri melihat salon itu tetap berjalan baik meskipun kini hidupnya sudah berubah jauh.
Dulu, tempat ini adalah ruang baginya untuk bertahan hidup.
Sekarang, tempat ini menjadi bagian dari kehidupan yang ia pilih untuk tetap dipertahankan.
Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar.
Satu pesan masuk.
Nama Teguh muncul di layar.
Mas Teguh.
Grenia langsung tersenyum tanpa sadar.
Ia membuka pesan tersebut.
Sudah makan?
Hanya dua kata.
Tetapi entah mengapa, dua kata sederhana itu selalu berhasil membuat hatinya hangat.
Grenia mengetik balasan.
Sudah. Kamu?
Pesan balasan datang tidak sampai satu menit kemudian.
Belum. Lagi selesai urusan kantor.
Grenia mengernyit.
Jangan lupa makan.
Beberapa detik kemudian, balasan berikutnya muncul.
Siap, Bu Istri.
Grenia menahan senyum.
“Dasar.”
Mutia yang kebetulan lewat di dekat meja kasir meliriknya.
“Dari Gusti Teguh?”
Grenia langsung meletakkan ponselnya.
“Bukan urusan kamu.”
Mutia terkekeh.
“Kalau bukan, kenapa senyum-senyum?”
Aini ikut menoleh.
“Benar, Gre. Dari tadi wajahnya beda.”
“Sudah, kalian kerja.”
Grenia berusaha memasang wajah serius.
Namun senyum kecil di sudut bibirnya justru semakin sulit disembunyikan.
Kehidupan rumah tangga ternyata memang memiliki bentuk kebahagiaan yang sederhana.
Tidak selalu berupa perjalanan ke luar negeri.
Tidak selalu berupa hadiah mahal.
Kadang hanya sebuah pesan singkat dari seseorang yang mengingatkan bahwa di tengah kesibukannya, ada satu orang yang tetap memikirkan dirinya.
Grenia baru saja hendak kembali memeriksa laporan ketika suara bel pintu kaca terdengar.
Ting!
Ia spontan mengangkat kepala.
Seseorang masuk ke dalam salon.
Teguh.
Pria itu mengenakan kemeja formal dengan lengan yang masih tergulung hingga siku. Di satu tangannya terdapat sebuah keranjang besar berisi kue sus.
Aini langsung berseru.
“Wah! Gusti Teguh datang!”
Mutia menyusul dengan senyum lebar.
“Bawa makanan lagi!”
Teguh mengangkat keranjang tersebut.
“Buat kalian.”
“Terima kasih, Gusti!”
Grenia hanya menggeleng pelan dari balik meja kasir.
Suaminya memang selalu punya cara sendiri untuk muncul di tengah kesibukan.
Teguh kemudian berjalan mendekat.
Tatapan mereka bertemu.
Senyum hangat langsung muncul di wajah pria itu.
“Selamat sore, Gre.”
Grenia membalas dengan senyum kecil.
“Sore.”
Teguh berhenti tepat di depannya.
Ia sedikit membungkukkan tubuh, hendak mencium kening istrinya seperti kebiasaannya.
Namun, sebelum bibirnya menyentuh kening Grenia, perempuan itu tiba-tiba memalingkan wajah.
Teguh berhenti.
Alisnya terangkat.
Grenia tetap diam.
Teguh menatap istrinya beberapa detik.
Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.
“Ada apa?”
“Tidak ada.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Teguh menahan senyum.
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa aku tidak boleh mencium istriku?”
Grenia menyilangkan tangan di depan dada.
“Memangnya harus?”
Teguh semakin yakin.
Ada sesuatu.
Ia meletakkan keranjang kue di atas meja, lalu sedikit mendekat.
“Gre.”
“Hm?”
“Siapa yang bikin kamu marah?”
Grenia menoleh.
“Kamu.”
Teguh terdiam sesaat.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Aku?”
“Iya.”
“Memangnya aku melakukan apa?”
Grenia tidak menjawab.
Ia justru mengambil ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
Layar ponsel masih menampilkan sebuah foto dari acara peresmian salah satu gedung baru milik PT Wijaya Mandiri Group.
Teguh melirik foto tersebut.
Lalu melihat wajah istrinya.
Ia akhirnya memahami sumber masalahnya.
“Oh.”
Senyumnya semakin lebar.
“Kamu cemburu?”
Grenia langsung menatapnya tajam.
“Siapa bilang?”
Teguh terkekeh.
“Wajahmu.”
“Wajahku kenapa?”
“Kelihatan banget.”
Grenia mendengus kecil.
“Kalau sudah tahu, jangan ditertawakan.”
Teguh tidak menjawab.
Ia justru menarik kursi di depan meja kasir, duduk menghadap istrinya, lalu menatap foto di layar ponsel sekali lagi.
Setelah itu, ia kembali menatap Grenia.
“Baik.”
Nada suaranya berubah lebih lembut.
“Sekarang jelaskan kepadaku dari awal.”
Grenia terdiam.
Ia sebenarnya masih gengsi untuk mengaku.
Tetapi melihat tatapan Teguh yang sama sekali tidak mengejek, pertahanannya mulai runtuh sedikit demi sedikit.
“Wanita itu siapa?” tanyanya akhirnya.
Teguh tersenyum tipis.
“Yang di sebelahku?”
Grenia mengangguk.
“Iya.”
Teguh menghela napas pendek.
“Gre, dia—”
“Gre, dia salah satu perwakilan investor yang sedang bekerja sama dengan perusahaan.”
Grenia masih menatapnya tanpa berkedip.
“Investor?”
Teguh mengangguk.
“Iya.”
“Terus kenapa berdirinya dekat sekali?”
Teguh menahan senyum.
“Karena acara peresmian gedung biasanya memang begitu. Ada sesi foto bersama.”
Grenia mengerucutkan bibir.
“Foto bersama, katanya.”
“Memangnya kamu pikir apa?”
“Aku nggak mikir apa-apa.”
“Wajahmu bilang sebaliknya.”
Grenia mengambil ponselnya kembali.
“Sudahlah.”
Ia hendak menyimpan ponselnya, tetapi Teguh lebih cepat menahan tangannya.
“Jangan sudahlah.”
Grenia menatapnya.
Teguh menggenggam jemarinya.
“Aku tahu kamu cemburu.”
Grenia menghela napas.
“Sedikit.”
“Sedikit?”
“Ya... sedikit.”
Teguh tersenyum.
“Kalau sedikit, kenapa wajahmu sejak tadi seperti orang mau menutup salon?”
Grenia spontan menarik tangannya.
“Mas Teguh!”
Tawa Teguh pecah.
Beberapa pegawai yang berada tidak jauh dari mereka ikut menahan senyum.
Grenia langsung melirik ke arah Aini dan Mutia.
“Kalian jangan ikut-ikutan.”
Aini buru-buru pura-pura sibuk memeriksa meja.
Mutia bahkan membalikkan badan sambil menggigit bibir menahan tawa.
Teguh kembali menatap istrinya.
“Dengar.”
Nada suaranya kali ini lebih serius.
“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.”
Grenia diam.
“Dia datang sebagai mitra bisnis. Ada beberapa perwakilan perusahaan asing yang hadir dalam acara itu. Aku berdiri di sana karena memang bagian dari protokol acara.”
“Dan kamu sama sekali tidak punya hubungan lain dengannya?”
“Tidak.”
Jawaban Teguh terdengar tegas.