Waktu berjalan begitu cepat sejak perjalanan bulan madu lintas benua mereka berakhir di Madrid.
Kini kehidupan Teguh dan Grenia telah kembali pada rutinitas yang jauh lebih sederhana. Tidak ada lagi penerbangan dari satu negara ke negara lain, tidak ada kejutan yang disiapkan diam-diam di kota asing, dan tidak ada agenda perjalanan yang membuat mereka harus terus mengepak koper.
Pagi hari di rumah mereka dimulai dengan kesibukan kecil yang justru terasa jauh lebih berarti.
Sevgi duduk di meja makan sambil mengerjakan tugas sekolahnya. Sesekali bocah itu mengangkat kepala untuk bertanya kepada Teguh mengenai soal yang tidak dipahaminya.
Teguh, yang biasanya menghadapi laporan perusahaan bernilai miliaran rupiah, kini serius menatap buku matematika di hadapannya.
“Kalau yang ini bagaimana, Ayah?”
Teguh menunjuk bagian soal.
“Coba kamu hitung lagi dari awal.”
Sevgi mengerutkan kening.
“Sudah.”
“Coba sekali lagi.”
“Kenapa?”
“Karena Ayah yakin jawabannya masih salah.”
Sevgi menghela napas panjang.
Grenia yang sedang menuangkan susu ke dalam gelas hanya tersenyum melihat keduanya.
“Jangan terlalu serius. Nanti anaknya takut belajar sama Ayah.”
Teguh menoleh.
“Justru Ayah sedang mengajarinya supaya tidak mudah menyerah.”
Sevgi langsung menyela.
“Tapi Ayah tadi salah hitung juga.”
Teguh terdiam.
Grenia spontan menutup mulutnya, menahan tawa.
“Sevgi.”
“Iya, Bu?”
“Jangan bikin Ayah malu.”
Teguh mengangkat alis.
“Tidak apa-apa.”
Ia menatap Sevgi sambil tersenyum.
“Namanya juga belajar.”
Sevgi ikut tersenyum.
Suasana meja makan kembali hangat.
Bagi Grenia, pemandangan seperti itu masih terasa seperti sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan dimilikinya.
Seorang suami yang dengan sabar menemani anaknya belajar.
Seorang anak yang memanggil lelaki itu dengan sebutan Ayah tanpa keraguan.
Dan sebuah rumah yang setiap paginya dipenuhi suara percakapan sederhana.
Namun kehidupan yang tenang tidak selalu berarti semuanya akan berjalan tanpa gangguan.
Menjelang sore, Teguh harus menghadiri pertemuan keluarga besar Wijaya Kusuma.
Grenia sebenarnya tidak terlalu memikirkan acara tersebut.
Baginya, pertemuan keluarga hanyalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani setelah menjadi istri Teguh.
Ia mengenakan kebaya modern dengan warna lembut, kemudian berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut.
Teguh yang baru masuk ke kamar berhenti sejenak.
“Cantik.”
Grenia menoleh.
“Sudah selesai?”
“Sudah.”
Teguh mendekat.
“Kamu yakin mau ikut?”
Grenia mengangguk.
“Iya.”
“Kalau nanti capek, bilang.”
“Kenapa?”
“Aku bisa ajak pulang lebih dulu.”
Grenia tersenyum.
“Ini acara keluargamu. Aku tidak mau membuat kamu repot.”
Teguh menggeleng.
“Kamu bukan repot.”
Ia meraih tangan Grenia.
“Kamu istriku.”
Grenia menatapnya.
“Dan selama kamu ada di sampingku, tidak ada yang perlu kamu pikirkan.”
Grenia tersenyum kecil.
“Baik.”
Mereka kemudian meninggalkan rumah bersama.
Tanpa mereka sadari, sore itu bukan sekadar pertemuan keluarga biasa.
Di pendopo keluarga Wijaya Kusuma, telah ada seseorang yang sejak beberapa waktu terakhir menyimpan kegelisahan terhadap perubahan dalam diri Teguh.
Dan sore itu, kegelisahan tersebut akhirnya akan berubah menjadi sebuah pertanyaan yang tidak lagi bisa disimpan dalam hati.
Mobil yang membawa Teguh dan Grenia akhirnya memasuki halaman rumah utama keluarga Wijaya Kusuma.
Beberapa kendaraan telah terparkir rapi di depan pendopo.
Grenia menarik napas pelan.
“Ramai juga.”
Teguh mematikan mesin.
“Biasanya memang begitu.”
“Keluargamu banyak sekali.”
“Makanya aku selalu bilang, jangan terlalu tegang kalau datang ke sini.”
Grenia menoleh.
“Aku tidak tegang.”
Teguh tersenyum.
“Wajahmu bilang sebaliknya.”
Grenia mencubit lengannya.
“Jangan mulai.”
Teguh tertawa kecil.
Mereka kemudian turun dari mobil.
Begitu memasuki pendopo, beberapa anggota keluarga langsung menyambut Teguh. Grenia ikut tersenyum dan menyalami mereka satu per satu dengan sopan.
Namun, tidak semua tatapan yang tertuju kepadanya terasa hangat.
Di salah satu sisi pendopo, seorang perempuan paruh baya duduk dengan posisi tegak.
Tante Lastri.
Ia merupakan salah satu kerabat tua yang cukup disegani dalam keluarga Wijaya Kusuma. Tatapannya sejak tadi mengikuti setiap gerakan Teguh dan Grenia.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan.
Hanya tatapan panjang yang sulit dibaca.
Grenia sempat menyadarinya.
Namun ia memilih tidak mempermasalahkannya.
Teguh justru menggenggam tangannya dan mengajaknya duduk.
“Di sini.”
Grenia menurut.
Mereka duduk berdampingan.
Tidak lama kemudian, pembicaraan keluarga dimulai.
Awalnya suasana berlangsung biasa.
Mereka membahas beberapa agenda keluarga, rencana acara besar yang akan datang, serta perkembangan beberapa aset lama yang masih berada di bawah pengelolaan keluarga.
Teguh lebih banyak mendengarkan.
Sesekali ia memberikan jawaban singkat.
Namun ketika pembicaraan mulai menyentuh urusan perusahaan, Tante Lastri akhirnya membuka suara.
“Teguh.”
Teguh menoleh.
“Iya, Tante?”
“Belakangan ini kamu semakin sulit ditemui.”
Pendopo yang semula ramai perlahan menjadi lebih tenang.
Teguh meletakkan cangkir tehnya.
“Maksud Tante?”
“Dulu kalau keluarga membutuhkan kamu, kamu selalu datang.”
Tante Lastri menatapnya tajam.
“Sekarang hampir semua urusan kamu serahkan kepada Sudirman.”
Teguh tidak langsung menjawab.
“Tante tahu sendiri kondisi perusahaan sekarang. Aku sedang banyak pekerjaan.”
“Banyak pekerjaan?”
Nada suara Tante Lastri terdengar menyindir.
“Bukankah sebelumnya juga begitu?”
Grenia menunduk sedikit.
Ia mulai memahami arah pembicaraan.
Tante Lastri tidak sedang membahas pekerjaan.
Ada sesuatu yang lain.
“Teguh,” lanjut Tante Lastri, “sejak kamu menikah, banyak hal berubah.”
Teguh menatapnya.
“Perubahan apa?”
“Kamu lebih sering berada di rumah.”
“Memangnya itu salah?”
Beberapa anggota keluarga saling melirik.
Tante Lastri menghela napas.