Pagi di rumah Teguh dan Grenia berjalan seperti biasanya.
Suara langkah kecil Sevgi terdengar dari lantai atas, disusul suara pintu kamar yang terbuka.
“Ayah!”
Teguh yang sedang membaca laporan di ruang keluarga langsung mengangkat kepala.
“Iya?”
“Antar aku sekolah!”
Teguh melihat jam tangannya.
“Bukannya hari ini Ayah ada rapat?”
“Batal.”
Sevgi langsung berlari mendekat.
“Serius?”
“Serius.”
Grenia yang baru keluar dari dapur hanya bisa tersenyum melihat keduanya.
“Mas, jangan terlalu sering membatalkan rapat gara-gara Sevgi.”
Teguh menoleh.
“Kenapa?”
“Nanti semua orang kantor mengira direktur utama mereka tidak punya pekerjaan.”
Teguh santai.
“Biar saja.”
Grenia menggeleng.
“Dasar.”
Setelah mengantar Sevgi ke sekolah, Teguh kembali ke rumah.
Namun bukannya masuk ke ruang kerja, ia justru berdiri di depan Grenia yang sedang memeriksa beberapa catatan salon.
“Gre.”
“Hm?”
“Hari ini kamu ke salon?”
“Iya.”
“Aku ikut.”
Grenia berhenti membaca.
“Ngapain?”
“Menemani.”
“Mas punya pekerjaan.”
“Sudah selesai.”
Grenia menatapnya curiga.
“Benarkah?”
Teguh mengangguk mantap.
“Sudirman sudah mengurus semuanya.”
Grenia menghela napas.
“Kalau begitu ikut saja.”
Senyum Teguh langsung melebar.
“Tapi aku mau bantu.”
Grenia langsung menatapnya.
“Membantu apa?”
“Ya apa saja.”
“Mas tahu cara mengurus salon?”
Teguh terdiam.
“Belum.”
“Nah.”
“Tapi aku bisa belajar.”
Grenia tertawa kecil.
“Jangan bikin salonku bangkrut.”
Teguh mendekat.
“Tenang. Aku pemilik perusahaan triliunan.”
Grenia mengangkat alis.
“Salonku bukan perusahaan properti.”
Teguh tertawa.
“Justru itu. Hari ini aku mau belajar dunia istriku.”
Kalimat itu membuat ekspresi Grenia melunak.
Ia menutup buku catatannya.
“Baiklah.”
Teguh tersenyum puas.
“Tapi ada satu syarat.”
“Apa?”
“Jangan sok tahu.”
Teguh mengangkat kedua tangannya.
“Siap, Bos.”
Grenia tertawa.
Beberapa saat kemudian mereka berangkat menuju salon Kemang.
Menjelang siang, Salon Prameswari mulai ramai.
Aini sibuk memeriksa jadwal pelanggan, sementara Mutia mengatur beberapa perlengkapan di meja kerja.
Grenia masuk lebih dahulu.
Teguh menyusul di belakangnya.
Begitu melihat keduanya, Aini langsung tersenyum.
“Wah, Gusti Teguh ikut lagi?”
Teguh mengangguk.
“Hari ini saya magang.”
Mutia tertawa.
“Jangan bikin jadwal berantakan lagi, Gusti.”
Teguh menunjuknya.
“Trauma sekali kamu.”
“Masih ingat kejadian kemarin.”
Grenia menahan tawa.
Teguh kemudian berjalan menuju meja resepsionis.
Ia menarik kursi dan duduk dengan penuh percaya diri.
Grenia langsung menatapnya.
“Mas.”
“Iya?”
“Baru juga datang.”
“Aku cuma duduk.”
“Jangan sentuh tablet itu.”
Teguh melihat tablet di hadapannya.
Kemudian ia tersenyum polos.
“Baik.”
Grenia berjalan pergi.
Begitu istrinya membelakanginya, Teguh melirik tablet tersebut.
Aini dan Mutia saling berpandangan.
“Gusti…”
Teguh langsung mengangkat telunjuk.
“Tenang.”
Ia tersenyum.
“Hari ini aku cuma mau belajar.”
Namun belum sampai lima menit, suara telepon salon terdengar.
Teguh menatap ponsel yang berdering.
Kemudian ia menoleh kepada Aini.
“Angkat?”
Aini ragu.
“Kalau mau...”
Teguh langsung mengambilnya.
“Halo, selamat siang. Nail Art Salon”
Dari kejauhan, Grenia yang sedang menata perlengkapan langsung menoleh.
Tatapannya jatuh kepada suaminya.
Dan entah kenapa, firasat buruk tiba-tiba muncul di benaknya.
Hari itu baru saja dimulai.
Teguh menyandarkan tubuhnya ke kursi resepsionis, memasang ekspresi serius seperti sedang menerima panggilan dari salah satu direktur anak perusahaan.
Dari seberang telepon, terdengar suara seorang perempuan.
“Siang, Mbak Gre ada?”
Teguh melirik ke arah Grenia.
“Ada.”
Grenia langsung mengangkat alis.
“Tapi beliau sedang sibuk.”
“Bisa bicara dengan Mbak Gre?”
Teguh berpikir sebentar.
“Bisa. Tapi kalau urusannya booking, saya juga bisa bantu.”
Aini yang berdiri tidak jauh dari sana langsung menutup mulut.
Mutia menahan tawa.
Grenia hanya menggeleng.
Pelanggan di seberang telepon kemudian menyebutkan jadwal yang diinginkannya.
Teguh mendengarkan dengan serius.
“Jam tiga?”
“Iya.”
“Manicure?”
“Iya, sama gel polish.”
Teguh mengangguk meskipun lawan bicaranya tidak bisa melihat.
“Baik. Saya catat.”
Grenia mulai berjalan mendekat.
“Mas...”
Teguh mengangkat telunjuk, memberi tanda agar istrinya menunggu.
“Untuk warna, Ibu mau yang biasa atau—”
Ia berhenti.
“Sebentar.”
Teguh menoleh kepada Aini.
“Kalau gel polish itu yang pakai lampu UV, kan?”
Aini mengangguk.
“Betul.”
Teguh kembali ke telepon.
“Baik, Bu. Berarti saya masukkan manicure dan gel polish.”
Ia menekan layar tablet.
Kali ini Aini langsung berdiri di sampingnya.
“Pelan-pelan, Gusti.”
Teguh menoleh.
“Aku bisa.”
“Aku cuma mengawasi.”
“Bagus.”
Teguh kembali melihat layar.
Beberapa detik kemudian, ia tersenyum puas.
“Sudah.”
Dari seberang terdengar ucapan terima kasih.
“Sama-sama, Bu. Sampai jumpa nanti.”
Teguh menutup telepon.
Aini langsung melihat layar tablet.
“Wah.”
Teguh tersenyum bangga.
“Benar, kan?”
Aini mengangguk.
“Benar.”
Mutia ikut mendekat.
“Berarti Gusti sudah bisa.”
Teguh bersandar santai.
“Jangan remehkan kemampuan saya.”
Grenia yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari mereka akhirnya berjalan mendekat.
“Mas.”
Teguh menoleh.
“Iya?”
“Sudah selesai?”
“Sudah.”
“Booking satu?”
Teguh mengangguk.
“Berhasil.”
Grenia melihat Aini.
Aini tersenyum.
“Benar, Gre. Kali ini aman.”
Grenia kembali menatap Teguh.
“Bagus.”
Teguh tersenyum puas.
“Nah, ternyata aku bisa.”
“Bisa.”
Grenia mengangguk.
“Tapi jangan besar kepala.”
“Kenapa?”
“Karena baru satu pelanggan.”
Mutia dan Aini langsung tertawa.
Teguh pura-pura tersinggung.
“Begitu ya?”
Grenia tersenyum.
“Iya.”
Teguh kemudian berdiri dan mendekat.
“Kalau begitu kasih aku kesempatan.”
“Kesempatan apa?”
“Biar aku buktikan.”
Grenia menatapnya curiga.
“Mau ngapain?”
Teguh menunjuk telepon salon.
“Angkat telepon lagi.”
“Boleh.”
Grenia kemudian kembali ke area kerja.
Namun baru beberapa langkah ia pergi, telepon salon kembali berdering.
Teguh langsung menoleh.
Matanya berbinar.
Ia mengangkat gagang telepon.
“Halo, Nail Art Salon”
Grenia berhenti berjalan.
Aini dan Mutia kembali saling pandang.
Keduanya mulai memiliki firasat yang sama.
Teguh mungkin memang mampu mengurus perusahaan triliunan rupiah.
Tetapi mengurus salon istrinya?
Itu cerita yang berbeda.
Dan mereka belum tahu bahwa beberapa menit kemudian, kemampuan sang penguasa akan kembali diuji oleh satu masalah sederhana:
jadwal kosong.
Teguh kembali menerima panggilan kedua dengan tingkat keseriusan yang jauh lebih tinggi.
“Selamat siang, Nail Art Salon.”
Kali ini pelanggan yang menelepon ingin melakukan pedicure sekaligus perawatan gel polish.
Teguh mendengarkan dengan saksama.
“Jam empat sore?”
Ia menatap tablet.
Layar jadwal terbuka di hadapannya.
Teguh mengangguk.
“Baik, Ibu. Saya cek dulu.”
Aini yang berada di dekatnya langsung memperhatikan layar tablet.
“Gusti, jam empat—”
Teguh mengangkat telapak tangan.