PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #36

SEBUAH MAAF DAN GAMBAR KELUARGA

Malam mulai turun ketika aktivitas di NAIL ART SALON akhirnya benar-benar mereda.

Satu per satu pelanggan meninggalkan tempat itu setelah mendapatkan pelayanan terakhir. Suara mesin pengering kuku yang sejak sore terdengar bersahutan kini mulai menghilang. Aroma gel polish dan cairan acrylic masih tertinggal tipis di udara, bercampur dengan wangi kopi yang baru dibuat Aini untuk para pegawai.

Grenia berdiri di belakang meja kasir sambil memeriksa kembali catatan pekerjaan hari itu.

Di sampingnya, Aini sedang merapikan beberapa peralatan.

“Semua sudah selesai, Mbak?”

Grenia mengangguk.

“Sudah. Tinggal beres-beres saja.”

Mutia yang sedang membawa beberapa botol gel polish ke rak ikut menyahut.

“Untung tadi jadwalnya masih bisa diselamatkan.”

Grenia tersenyum kecil.

“Iya.”

Tatapan Grenia kemudian bergeser ke arah sofa ruang tunggu.

Teguh masih duduk di sana.

Sejak beberapa menit terakhir, pria itu tampak jauh lebih pendiam daripada biasanya.

Tidak ada lagi gaya percaya diri seorang penguasa perusahaan.

Tidak ada lagi komentar sok tahu tentang sistem booking.

Bahkan ponselnya pun tidak disentuh.

Ia hanya duduk sambil memandangi lantai dengan ekspresi seseorang yang sedang memikirkan kesalahannya.

Grenia menatapnya beberapa detik.

“Mas.”

Teguh mengangkat kepala.

“Iya?”

“Belum pulang?”

Teguh menggeleng.

“Belum.”

“Kenapa?”

Teguh berdiri.

Ia kemudian berjalan mendekati meja kasir.

Begitu sampai di hadapan Grenia, wajahnya berubah serius.

“Aku mau minta maaf.”

Grenia terdiam.

“Untuk tadi?”

Teguh mengangguk.

“Untuk semuanya.”

Aini dan Mutia yang mendengar percakapan tersebut otomatis berhenti bekerja.

Namun keduanya memilih tetap diam.

Teguh menarik napas.

“Aku pikir aku bisa membantu.”

Ia tersenyum tipis.

“Ternyata mengurus NAIL ART SALON jauh lebih rumit daripada yang kubayangkan.”

Grenia menahan senyum.

“Baru sadar?”

“Sudah.”

“Bagus.”

Teguh menatap istrinya.

“Aku benar-benar minta maaf kalau tadi malah bikin kamu dan semuanya kerepotan.”

Kali ini nada suaranya tidak bercanda.

Grenia bisa melihat ketulusan di wajah suaminya.

Ia kemudian melangkah mendekat.

“Mas.”

“Hm?”

“Aku tidak marah.”

Teguh sedikit mengangkat alis.

“Benarkah?”

“Iya.”

Grenia tersenyum.

“Aku justru senang kamu mau mencoba memahami pekerjaanku.”

Teguh menatapnya.

“Tapi?”

Grenia terkekeh.

“Tapi jangan coba-coba mengatur booking lagi.”

Aini spontan menunduk untuk menyembunyikan senyumnya.

Mutia juga menahan tawa.

Teguh menghela napas pasrah.

“Baik.”

Grenia kemudian mengulurkan tangannya.

Teguh menyambutnya.

Jemari mereka bertaut.

“Kalau mau membantu,” kata Grenia lembut, “cukup temani aku.”

Teguh tersenyum.

“Itu saja?”

“Itu sudah cukup.”

Teguh mengangguk.

“Kalau begitu aku bisa.”

Grenia tersenyum.

“Bagus.”

Suasana yang sempat serius perlahan kembali hangat.

Namun Teguh tiba-tiba menoleh kepada Aini, Mutia, Imah, Ami, dan Ratna yang masih berada di sekitar meja kerja.

“Dan untuk kalian…”

Kelima pegawai itu menoleh.

Teguh memasukkan tangan ke saku celananya.

Ekspresinya berubah menjadi sedikit kikuk.

“Aku juga ingin minta maaf.”

Aini langsung tersenyum.

“Tidak apa-apa, Gusti Teguh.”

Teguh mengangguk.

“Terima kasih sudah sabar menghadapi saya hari ini.”

Mutia tersenyum.

“Namanya juga belajar, Gusti.”

Teguh terkekeh.

“Sepertinya saya memang harus banyak belajar.”

Grenia menatap suaminya sambil tersenyum.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar melihat bahwa di balik sosok pengusaha besar yang terbiasa memberikan perintah, ada seorang lelaki yang tidak gengsi mengakui kesalahannya.

Dan justru itulah yang membuat Grenia semakin mencintainya.

Teguh masih berdiri di depan meja kasir.


Namun setelah meminta maaf kepada seluruh pegawai, suasana justru terasa sedikit canggung.


Aini memecah keheningan.


“Gusti Teguh sebenarnya tidak perlu sampai merasa bersalah begitu.”


Teguh menoleh.


“Kenapa?”


Aini tersenyum.


“Kami malah senang melihat Gusti mau turun langsung membantu di sini.”


Mutia mengangguk.


“Iya. Walaupun tadi sempat bikin kami panik.”


Teguh tertawa kecil.


“Nah, itu yang membuat saya merasa bersalah.”


Grenia menyandarkan tubuhnya pada meja.


“Mas, kamu memang salah.”


Teguh langsung menatap istrinya.


“Lho?”


“Ya salah.”


Grenia tersenyum.


“Tapi bukan kesalahan yang perlu dipikirkan sampai berhari-hari.”


Teguh mengangguk.


“Baik.”


Ia kemudian menatap kelima pegawai itu.


“Kalau begitu saya anggap hari ini sebagai pelajaran.”


Ami yang sejak tadi diam akhirnya tersenyum.


“Pelajaran apa, Gusti?”


Teguh berpikir sebentar.


“Bahwa bisnis salon tidak bisa diatur seperti perusahaan.”


Mutia langsung tertawa.


“Betul.”


“Dan bahwa saya harus mendengarkan orang yang lebih mengerti.”


Tatapan Teguh berpindah kepada Grenia.


“Terutama istri saya.”


Grenia tersenyum kecil.


“Nah, itu baru benar.”


Teguh kemudian merogoh saku jasnya.


Ia mengeluarkan ponsel dan melihat layar beberapa detik.


“Ada satu lagi.”


Grenia mengernyit.


“Apa?”


Teguh tidak menjawab.


Ia justru berjalan menuju pintu depan NAIL ART SALON.


Aini dan Mutia saling berpandangan.


“Gusti mau ke mana?”


Teguh menoleh sambil tersenyum.


“Sebentar.”


Ia membuka pintu kaca dan keluar.


Grenia memperhatikannya dari dalam.


“Masih ada saja.”


Beberapa menit kemudian, suara kendaraan berhenti di depan salon.


Seorang pengemudi turun membawa beberapa kotak besar.


Teguh masuk kembali.


Di belakangnya, pengemudi tersebut membawa sejumlah bingkisan.


Grenia langsung membelalakkan mata.


“Mas…”


Teguh tersenyum.


“Tenang.”


Ia menunjuk bingkisan-bingkisan itu.


“Ini bukan untuk kamu.”


Grenia mengangkat alis.


“Terus?”


“Untuk mereka.”


Teguh menunjuk Aini, Mutia, Imah, Ami, dan Ratna.


Kelima pegawai itu langsung terdiam.


Aini bahkan tampak bingung.


“Untuk kami, Gusti?”


Teguh mengangguk.


“Anggap saja permintaan maaf resmi.”


Mutia mendekati salah satu kotak.


“Ini apa?”


Teguh tersenyum.


“Buka saja.”


Kotak pertama dibuka.


Di dalamnya terdapat paket perawatan kecantikan premium.


Kotak berikutnya berisi voucher makan malam.


Kotak lainnya berisi voucher belanja.


Aini menatap Teguh dengan mata membesar.


“Gusti... ini kebanyakan.”


Teguh menggeleng.


“Tidak.”


Ia kemudian menatap mereka satu per satu.


“Kalian sudah bekerja keras menjaga bisnis istri saya.”


Suaranya menjadi lebih tenang.


Lihat selengkapnya