Waktu berputar tanpa pernah sedetik pun beristirahat, membawa bahtera rumah tangga Grenia Virginia dan Teguh Wijaya Kusuma melewati ambang satu tahun pernikahan yang dipenuhi kebahagiaan.
Jakarta Selatan malam itu diselimuti gerimis. Rintik hujan mengetuk kaca-kaca besar rumah mewah mereka, membawa hawa sejuk yang membuat suasana ruang keluarga terasa semakin hangat.
Di atas karpet tebal, Teguh sedang tengkurap santai menemani Sevgi menyusun balok-balok mainan menjadi sebuah benteng.
Bocah delapan tahun itu tertawa renyah ketika bangunan buatannya roboh. Teguh ikut tertawa, lalu mengacak rambut putranya.
"Yah, bentengnya roboh!" protes Sevgi.
"Bukan roboh. Itu namanya strategi perang," jawab Teguh santai.
Sevgi terkekeh.
Grenia yang baru keluar dari dapur membawa nampan berisi pisang goreng hangat dan teh melati khas Kediri hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
"Mas Teguh, jangan terlalu memanjakan Sevgi sampai jam tidurnya lewat."
Teguh menoleh. Senyum teduh langsung menghiasi wajahnya.
"Siap dilaksanakan, Permaisuriku."
Ia bangkit, kemudian menghampiri Sevgi.
"Sudah, Jagoan. Cuci kaki dan tangan, lalu tidur. Besok Ayah temani main bola lagi."
"Siap, Ayah!"
Sevgi mencium pipi kedua orang tuanya sebelum berlari kecil menuju kamarnya.
Grenia tersenyum melihat putranya menghilang di balik pintu. Namun, ketika suasana kembali tenang, tatapannya perlahan beralih kepada Teguh.
Ada sesuatu yang berbeda.
Pria itu berdiri di dekat jendela besar, memandang halaman yang basah oleh hujan.
Tidak ada candaan. Tidak ada senyum jahil.
Rahang Teguh mengeras, sementara kedua tangannya terlipat di depan dada.
Grenia meletakkan nampan di meja.
"Mas?"
Teguh tidak langsung menjawab.
Ia masih menatap kegelapan di luar jendela.
Selama beberapa minggu terakhir, sebuah firasat buruk terus mengusik batinnya. Melalui laku batin dan kepekaan spiritual yang diwariskan leluhurnya, ia merasakan adanya sesuatu yang bergerak dari kejauhan.
Sesuatu yang tua.
Sesuatu yang gelap.
Dan semakin dekat.
Teguh tahu, ancaman itu bukan sekadar persoalan bisnis ataupun perselisihan antarmanusia. Ada kekuatan lama yang mulai bergerak di balik dunia kasatmata.
Tangannya mengepal perlahan.
Bukan keselamatan dirinya yang paling ia khawatirkan.
Melainkan Grenia dan Sevgi.
Jika pertarungan itu benar-benar datang, ia harus memastikan kedua orang yang paling dicintainya tetap berada di tempat yang aman.
Teguh menarik napas panjang.
Kemudian ia menoleh.
Tatapannya bertemu dengan mata Grenia yang sejak tadi memperhatikannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Grenia pelan.
Teguh tersenyum.
Senyuman yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menyimpan kegelisahan sedalam itu.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Teguh akhirnya.
Ia berjalan mendekati sofa, kemudian duduk di samping Grenia. Tangannya langsung meraih jemari istrinya, menggenggamnya dengan hangat.
Namun, Grenia tidak mudah dibohongi.
Selama hidup bersama Teguh, ia sudah hafal perubahan kecil dalam sikap suaminya. Senyum yang terlalu tenang, tatapan yang terlalu lama menerawang, bahkan cara jemarinya menggenggam tangan Grenia sedikit lebih erat dari biasanya.
“Aku tahu kalau Mas sedang memikirkan sesuatu.”
Teguh terdiam.
Grenia memiringkan tubuh, menghadap suaminya sepenuhnya.
“Mas tidak perlu menyembunyikan semuanya dariku.”
Teguh menatap wajah istrinya. Untuk beberapa detik, pertahanan di dalam dirinya hampir runtuh.
Ia ingin menceritakan semuanya.
Tentang firasat buruk yang semakin kuat. Tentang getaran asing yang beberapa kali terasa dalam meditasinya. Tentang bayangan kekuatan hitam yang seolah bergerak mendekati wilayah kehidupan mereka.
Namun, ia juga tahu satu hal.
Jika Grenia mengetahui semuanya malam ini, wanita itu pasti akan ikut memikirkan ancaman tersebut.
Dan Teguh tidak menginginkan itu.
Ia ingin istrinya tetap tidur dengan tenang.
“Mas cuma sedang memikirkan pekerjaan,” katanya akhirnya.
Grenia mengangkat sebelah alis.
“Pekerjaan?”
“Iya.”
“Pekerjaan sampai bengong melihat hujan selama hampir sepuluh menit?”
Teguh terdiam.
Kemudian sudut bibirnya terangkat.
“Ketahuan, ya?”
“Sudah pasti.”
Grenia mencubit pelan lengan suaminya.
“Mas itu kalau bohong kelihatan sekali.”
Teguh tertawa kecil. Ia kemudian menarik tubuh Grenia mendekat hingga kepala istrinya bersandar di bahunya.
“Kalau begitu, malam ini jangan tanya terlalu banyak.”
“Kenapa?”
“Karena aku cuma ingin menikmati malam bersama istriku.”
Grenia mendengus pelan, tetapi tidak menolak ketika Teguh merangkul pinggangnya.
“Alasan.”
“Memang.”