PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #38

KABUT MERAH DI LANGIT WONOSOBO

Malam telah larut ketika jarum jam dinding di sudut ruangan besar itu bergerak mendekati angka sepuluh. Aktivitas di NAIL ART SALON milik Grenia Virginia akhirnya benar-benar berakhir. Suara mesin pengikir kuku telah berhenti, aroma cat gel perlahan menghilang dari udara, dan satu per satu lampu di ruangan utama dimatikan.

Setelah seluruh pelanggan pulang, Aini, Mutia, Imah, Ratna, dan Ami memastikan peralatan kerja tersimpan rapi sebelum meninggalkan salon.

Grenia berdiri di dekat meja kasir, memeriksa keadaan ruangan untuk terakhir kalinya.

“Sudah semuanya?”

“Sudah, Mbak,” jawab Aini.

“Pintu belakang juga sudah dikunci, Mbak,” sambung Mutia.

Grenia mengangguk puas.

“Kalau begitu kalian pulang hati-hati.”

“Baik, Mbak.”

Kelima pegawai itu kemudian berpamitan.

Tinggal Grenia dan Teguh yang masih berada di dalam salon.

Teguh berdiri di dekat pintu kaca yang baru saja dikunci. Tatapannya tertuju pada jalanan Kemang yang mulai lengang. Wajahnya tampak jauh lebih serius daripada biasanya.

Sejak lelaki misterius itu datang beberapa waktu lalu dan menuntut sebuah kotak kayu jati kuno berlambang bunga Wijaya Kusuma, perasaan Teguh tidak pernah benar-benar tenang.

Ada sesuatu yang tertinggal.

Bukan sekadar ancaman manusia.

Bukan pula sekadar urusan benda pusaka.

Hawa asing itu masih terasa.

Pekat.

Dingin.

Dan samar-samar membawa semburat merah yang hanya dapat ditangkap oleh kepekaan spiritualnya.

Teguh mengepalkan tangan.

“Mas?”

Suara Grenia membuatnya menoleh.

Wanita itu berjalan mendekat sambil membawa tas tangannya. Wajahnya masih menyimpan guratan lelah setelah seharian bekerja, tetapi senyum hangatnya tetap hadir.

“Ayo kita pulang. Sudah malam.”

Teguh mengangguk.

“Iya.”

Namun, sebelum mereka meninggalkan salon, Teguh kembali menatap ruangan tersebut.

Tatapannya berhenti pada sebuah sudut tempat kotak kayu jati kuno itu disimpan.

Untuk sesaat, udara di sekitarnya terasa berubah.

Dingin.

Kemudian sebuah bayangan merah tipis seperti kabut melintas di permukaan kaca.

Teguh langsung menoleh.

Bayangan itu telah lenyap.

Grenia tidak melihatnya.

“Mas?”

Teguh menarik napas panjang.

“Tidak apa-apa.”

Ia menggenggam tangan Grenia.

“Sekarang kita pulang.”

Mereka meninggalkan salon dan berjalan menuju mobil.

Namun, jauh di dalam batin Teguh, satu kesimpulan telah terbentuk dengan jelas.

Ancaman itu sudah mulai bergerak.

Perjalanan pulang menuju kediaman mereka berlangsung dalam keheningan.


Lampu-lampu kendaraan berderet di sepanjang jalan Kemang, memantulkan warna kekuningan pada kaca mobil. Teguh mengemudi dengan kedua tangan mantap di kemudi, sementara Grenia duduk di sampingnya sambil sesekali melirik wajah suaminya.


Sejak meninggalkan salon, Teguh lebih banyak diam.


Biasanya, pria itu selalu menemukan bahan untuk menggodanya.


Malam ini berbeda.


“Mas.”


“Hm?”


“Mas yakin tidak ada apa-apa?”


Teguh tersenyum tipis.


“Yakin.”


Grenia menghela napas.


“Kalau begitu, jangan pasang wajah seperti orang mau perang.”


Teguh terkekeh kecil.


“Memangnya wajahku kelihatan begitu?”


“Kelihatan.”


Grenia kemudian menyandarkan kepala ke sandaran kursi.


“Kalau ada masalah, cerita saja. Aku bukan anak kecil.”


Teguh meliriknya sekilas.


“Aku tahu.”


Beberapa detik berlalu.


“Tapi untuk malam ini, aku cuma ingin memastikan kamu dan Sevgi aman.”


Grenia menoleh.


“Aman dari apa?”


Teguh tidak langsung menjawab.


Tatapannya kembali lurus ke jalan.


“Dari apa pun.”


Jawaban itu justru membuat Grenia semakin penasaran. Namun, ia memilih tidak mendesak.


Mobil akhirnya memasuki halaman rumah.


Begitu pintu pagar tertutup kembali di belakang mereka, suasana tegang yang sejak tadi menyelimuti Teguh sedikit mereda.


Lampu rumah masih menyala terang.


Dari balik pintu utama terdengar suara langkah kaki kecil.


Begitu Teguh dan Grenia masuk, Sevgi langsung berlari menghampiri mereka dengan sebuah buku gambar di tangan.


“Ayah! Ibu!”


Teguh spontan berjongkok.


“Ada apa, Jagoan?”


“Lihat! Sevgi gambar keluarga kita!”


Bocah itu membuka halaman bukunya.


Terlihat gambar sederhana sebuah rumah dengan tiga sosok manusia berdiri di depannya.


Teguh tersenyum.


“Bagus sekali.”


“Ini Ayah. Ini Ibu. Ini Sevgi.”


Grenia ikut berjongkok di samping mereka.


“Wah, bagus sekali. Tapi kenapa Ayah paling besar?”


Sevgi menjawab polos.


“Karena Ayah paling kuat.”


Teguh tertawa.


“Dengar itu, Sayang. Anak kita tahu siapa jagoannya.”


Lihat selengkapnya