PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #39

BENTURAN DUA DUNIA 1

Sinar matahari pagi belum sepenuhnya mampu menembus hamparan kabut yang menggantung di lereng pegunungan Wonosobo.

Udara dingin menusuk hingga ke balik kaca kendaraan, sementara jalan berkelok yang membelah perbukitan tampak masih basah oleh sisa embun malam. Sebuah SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi, tetapi tetap terkendali melewati tikungan demi tikungan.

Teguh Wijaya Kusuma berada seorang diri di balik kemudi.

Ia tidak membawa iring-iringan pengawal. Tidak pula meminta Sudirman mengikutinya.

Semalam, setelah melakukan ngerogo sukmo dan menerima petunjuk langsung dari Eyang Ratu Tribuana Tunggadewi, ia telah mengambil keputusan.

Ia harus datang sendiri.

Tangannya mencengkeram kemudi dengan mantap. Tatapan matanya lurus menembus jalan berkabut di hadapan.

Perjalanan dari Jakarta menuju Wonosobo telah memakan waktu berjam-jam. Teguh sengaja berangkat sejak dini hari agar dapat mencapai kawasan pegunungan sebelum aktivitas warga benar-benar ramai. Sesekali ia memperlambat kendaraan ketika kabut semakin tebal, kemudian kembali meningkatkan kecepatan saat pandangan mulai terbuka.

Namun, pikirannya tidak pernah benar-benar tertuju pada jalan.

Bayangan wajah Grenia Virginia terus muncul di benaknya.

Kemudian wajah Sevgi.

Putranya.

Dua orang yang menjadi alasan terbesar mengapa ia berada di tempat ini.

Teguh menarik napas panjang.

"Maafkan aku, Gre."

Suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin.

Ia tahu perjalanan ini berbahaya.

Tetapi membiarkan sumber ancaman semakin dekat dengan keluarganya jauh lebih berbahaya.

Petunjuk Eyang Ratu semakin kuat ketika kendaraan mulai memasuki kawasan yang lebih sepi. Jalan beraspal berubah menjadi jalur sempit dengan permukaan yang tidak rata. Di kiri kanan hanya terdapat pepohonan, semak liar, dan tebing yang tertutup kabut.

Teguh akhirnya mematikan sistem navigasi modernnya.

Ia tidak lagi membutuhkannya.

Getaran halus yang hanya dapat dirasakan melalui kepekaan batinnya telah menjadi penunjuk arah.

Beberapa menit kemudian, SUV hitam itu berhenti.

Teguh membuka pintu.

Hawa dingin langsung menerpa wajahnya.

Ia berdiri di samping kendaraan dan mengamati kawasan tersebut.

Tidak ada rumah penduduk.

Tidak ada suara kendaraan.

Hanya suara angin yang berembus melewati pepohonan pinus dan sesekali terdengar suara burung dari kejauhan.

Namun, di balik ketenangan itu, sesuatu terasa sangat salah.

Teguh memejamkan mata.

Denyut energi merah yang semalam ia rasakan di salon Grenia kini terasa jauh lebih jelas.

Pekat.

Dingin.

Dan penuh kebencian.

Matanya kembali terbuka.

Di hadapannya, sekitar beberapa puluh meter dari tempat kendaraan berhenti, berdiri sebuah pondok kayu tua di dekat tebing.

Atapnya sudah kusam.

Dinding kayunya dipenuhi lumut.

Tetapi justru dari bangunan tua itulah tekanan spiritual paling kuat berasal.

Teguh melangkah mendekat.

Setiap pijakannya terdengar jelas di atas tanah yang lembap.

Lima langkah.

Sepuluh langkah.

Semakin dekat, hawa merah itu semakin kuat.

Tangannya mengepal.

"Jadi kau bersembunyi di sini."

Belum sempat Teguh mencapai teras pondok, terdengar bunyi derit panjang.

Kreeeek...

Pintu kayu terbuka perlahan.

Seorang lelaki keluar dari dalam.

Tubuhnya tinggi dan kurus, mengenakan pakaian gelap yang tampak sederhana. Rambutnya panjang sebahu. Wajahnya keras dengan garis-garis usia yang sulit ditebak.

Namun, yang paling menarik perhatian Teguh bukanlah penampilannya.

Melainkan aura hitam kemerahan yang mengelilingi tubuh lelaki itu.

Senyum tipis muncul di bibir lelaki tersebut.

"Kau datang lebih cepat daripada perkiraanku, Wijaya Kusuma."

Teguh berhenti.

Tatapan keduanya bertemu.

"Siapa kau?"

Lelaki itu tertawa pendek.

"Namaku Sende Kala."

Nama itu menggantung di udara dingin.

Teguh tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.

"Sende Kala."

Ia mengulang nama tersebut dengan suara rendah.

"Atas dasar apa kau datang ke tempat istriku dan menuntut kotak kayu jati itu?"

Lihat selengkapnya