Kabut merah semakin tebal.
Berputar.
Menggulung.
Lalu menyebar rendah di atas tanah seperti gelombang darah yang hidup.
Teguh Wijaya Kusuma berdiri beberapa meter di hadapan Sende Kala. Tubuhnya masih berada dalam posisi siap, tetapi seluruh indranya telah berubah menjadi jauh lebih peka. Ia tidak lagi sekadar memperhatikan gerakan lawan dengan mata.
Ia membaca getaran energinya.
Setiap perubahan napas.
Setiap pergeseran telapak kaki.
Setiap denyut hawa hitam yang keluar dari tubuh Sende Kala.
Lelaki itu perlahan mengangkat kedua tangannya.
Jari-jarinya bergerak membentuk rangkaian mudra yang tidak pernah Teguh lihat sebelumnya.
Kemudian terdengar bisikan mantra dari sela bibirnya.
Suara itu begitu rendah.
Namun, setiap suku katanya terasa seperti mengetuk langsung ke dalam dada.
Tanah di sekitar Sende Kala mulai bergetar.
Kerikil-kerikil kecil melompat.
Beberapa batang pohon pinus yang berada paling dekat dengan tubuhnya bergoyang meskipun angin sedang tidak bertiup ke arah tersebut.
Teguh mempersempit pandangan.
"Ilmu apa yang kau gunakan?"
Sende Kala tersenyum.
"Ilmu yang tidak akan mampu kau bendung hanya dengan kekuatan tubuh."
Telapak tangannya dihentakkan ke tanah.
DUUM!
Gelombang hitam kemerahan menyebar dari titik tersebut.
Teguh segera melompat mundur.
Gelombang itu melintas tepat di bawah kakinya, menyapu tanah dan membuat rerumputan langsung mengering.
Teguh mendarat dengan satu lutut.
Ia menatap tanah yang berubah kehitaman.
Satu hal menjadi jelas.
Sende Kala tidak lagi menguji kekuatannya.
Ia sedang berusaha membunuhnya.
Teguh bangkit.
"Kalau begitu, jangan salahkan aku."
Ia menarik napas panjang.
Energi dari dalam tubuhnya kembali terkumpul.
Kemudian ia melesat.
WUSSH!
Sende Kala menyambutnya.
Kedua tubuh mereka bertabrakan di tengah kabut.
BUUM!
Pukulan Teguh dan telapak tangan Sende Kala bertemu.
Ledakan tekanan membuat kabut di sekitar mereka tersibak.
Teguh memutar pergelangan tangannya, melepaskan tangkapan, lalu menghantamkan siku ke arah dada lawan.
Sende Kala menunduk.
Siku itu hanya melewati rambutnya.
Ia membalas dengan tendangan rendah.
Teguh melompat.
Dalam posisi masih berada di udara, ia memutar tubuh dan melayangkan tendangan ke bahu Sende Kala.
BRAK!
Sende Kala terdorong beberapa langkah.
Namun, sebelum Teguh sempat menyentuh tanah, lelaki itu mengangkat tangan.
Kabut merah langsung membentuk beberapa cambuk energi.
WUSSH!
Satu.
Dua.
Tiga.
Cambuk-cambuk itu menyambar dari berbagai arah.
Teguh memutar tubuh di udara.
Satu serangan melewati punggungnya.
Serangan kedua ia tahan dengan lengan.
Serangan ketiga berhasil mengenai bahunya.
DUAK!
Tubuh Teguh terlempar.
Ia jatuh berguling di atas tanah.
Rasa panas menjalar dari bahu hingga ke lengan.
Teguh segera bangkit.
Tidak ada waktu untuk mengeluh.
Sende Kala sudah berada di depannya.
Pukulan keras menghantam perutnya.
BUK!
Teguh terlipat sesaat.
Sende Kala melanjutkan dengan serangan ke arah rahang.
Teguh menangkis.
Namun, kekuatan benturan membuat tubuhnya terdorong beberapa meter.
Sende Kala tertawa.
"Mulai terasa, Wijaya?"
Teguh mengusap sudut bibirnya.
Ada sedikit darah.
Ia memandang darah itu sejenak.
Kemudian menatap kembali Sende Kala.
"Baru segitu?"
Senyum Sende Kala lenyap.
Teguh menyerbu.
Kali ini tidak ada keraguan.
Ajian Ciung Wanara kembali mengalir penuh di dalam tubuhnya.
Pukulan demi pukulan dilepaskan dengan tenaga yang jauh lebih besar.
Sende Kala menangkis.
Satu pukulan.
Dua.
Tiga.