Ledakan itu mengguncang lereng Wonosobo.
Cahaya merah dan putih keemasan bertabrakan di tengah kabut, menciptakan tekanan yang membuat pepohonan di sekeliling mereka merunduk. Tanah merekah membentuk garis-garis panjang. Batu-batu kecil terangkat dari permukaan sebelum terlempar seperti serpihan peluru.
Teguh Wijaya Kusuma masih berdiri.
Namun, kedua kakinya mulai bergeser beberapa sentimeter ke belakang.
Gelombang energi Sende Kala ternyata jauh lebih kuat daripada perkiraannya.
Teguh mengertakkan gigi.
Kedua telapak tangannya tetap terbuka, menahan tekanan yang terus menghantam tubuhnya.
Di seberang sana, Sende Kala juga tidak bergerak.
Wajahnya berubah tegang.
"Kenapa kau masih bertahan?"
Teguh tidak menjawab.
Ia justru memusatkan seluruh pikirannya pada satu hal.
Grenia.
Kemudian wajah Sevgi.
Putranya.
Teguh menarik napas panjang.
"Karena aku masih punya alasan untuk pulang."
Cahaya keemasan di tubuhnya mendadak membesar.
BRAAAAM!
Gelombang merah terdorong mundur.
Sende Kala terhuyung.
"Apa?!"
Teguh melangkah maju.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Setiap pijakan membuat cahaya emas semakin kuat.
Sende Kala mengerahkan tenaga lebih besar.
Namun, pertahanan Teguh justru semakin kokoh.
"Mustahil!"
Sende Kala meraung.
Ia mengumpulkan seluruh energi hitam yang tersisa.
Kabut merah di belakangnya berubah menjadi pusaran raksasa.
Lalu ia melesat maju.
Teguh menyambutnya.
Kedua sosok itu kembali bertabrakan.
Kali ini bukan sekadar benturan kekuatan.
Mereka masuk ke dalam perang sukma.
Kesadaran Teguh seketika seperti ditarik keluar dari tubuhnya.
Dalam satu kedipan, lereng Wonosobo menghilang.
Ia berdiri di sebuah ruang gelap tanpa batas.
Tidak ada langit.
Tidak ada tanah.
Tidak ada suara angin.
Hanya dirinya dan Sende Kala.
Lelaki itu berdiri beberapa meter di hadapannya.
"Selamat datang di wilayahku."
Teguh mengepalkan tangan.
"Kalau ini wilayahmu, berarti aku tinggal menghancurkannya."
Sende Kala tertawa.
Kemudian kegelapan menyerbu dari segala arah.
Teguh bergerak.
Pertarungan mereka berlanjut di alam sukma.
Sementara di dunia nyata, dua tubuh mereka masih berdiri berhadapan di tengah lereng Wonosobo.
Tidak bergerak.
Tetapi energi yang memancar dari keduanya terus mengguncang kawasan tersebut.
Pertarungan itu belum selesai.
Dan harga kemenangan yang sebenarnya baru saja mulai dibayar.
Di alam sukma itu, tidak ada lagi suara angin.
Tidak ada burung.
Tidak ada pepohonan.
Hanya hamparan kegelapan tanpa batas yang sesekali diterangi kilatan merah dari energi Sende Kala.
Teguh berdiri tegak.
Di hadapannya, Sende Kala perlahan mengangkat kedua tangannya. Wajah lelaki itu tampak berbeda dibandingkan ketika mereka bertarung secara ragawi. Tubuhnya seolah menyatu dengan kabut hitam yang mengelilinginya.
"Inilah tempat yang tidak mengenal hukum dunia manusia, Wijaya Kusuma."
Sende Kala menggerakkan jemarinya.
Puluhan bayangan hitam muncul dari kegelapan.
Semuanya menyerupai sosok manusia.
Semuanya bergerak menuju Teguh.
Teguh tidak mundur.
Ia memejamkan mata.
Di tengah kegelapan itu, ia justru mencari satu hal yang tidak mungkin disentuh oleh kekuatan Sende Kala.
Kesadaran dirinya sendiri.
Bayangan pertama menerjang.
Teguh mengangkat tangan.
Cahaya putih keemasan memancar dari telapak tangannya.
WUSSH!
Bayangan itu lenyap.
Bayangan kedua datang dari belakang.
Teguh berputar dan menghantamnya dengan siku.
Pecah menjadi serpihan cahaya hitam.
Bayangan ketiga.
Keempat.
Kelima.
Jumlahnya semakin banyak.
Teguh mulai bergerak lebih cepat.
Ia tidak lagi menggunakan kekuatan ragawi.
Setiap gerakan berasal dari kehendak.
Setiap pukulan merupakan pancaran energi batin.
Satu demi satu bayangan hitam dihancurkan.
Namun, Sende Kala justru semakin tertawa.
"Kau tidak akan mampu menghancurkan semuanya!"
Tiba-tiba seluruh bayangan berhenti.
Mereka berdiri membentuk lingkaran.
Kemudian secara bersamaan menoleh kepada Teguh.
Dan suara mereka terdengar serentak.
"Grenia."
Teguh membeku.
Suara berikutnya terdengar.
"Sevgi."
Wajah Teguh berubah.
Sende Kala tersenyum puas.
"Begitulah manusia dikalahkan."
Kegelapan di sekitar mereka berubah menjadi gambaran.
Teguh melihat rumahnya.
Ruang keluarga.
Sofa tempat ia biasa duduk bersama Grenia.
Kemudian Sevgi muncul.
Anak itu sedang berlari.
Namun, di belakangnya terdapat bayangan hitam yang semakin mendekat.
"Ayah!"
Teriakan Sevgi menggema.
Teguh langsung bergerak.
Namun, ketika tangannya hendak meraih putranya, seluruh gambaran itu pecah seperti kaca.
Sende Kala muncul di belakangnya.
"Rasa takut kehilangan adalah kelemahan terbesar manusia."
Teguh terdiam.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian ia menundukkan kepala.
Sende Kala mengira serangannya berhasil.
Namun, perlahan Teguh tersenyum.
"Kau salah."
Sende Kala mengernyit.
Teguh mengangkat wajah.
"Rasa takut kehilangan keluargaku bukan kelemahanku."
Cahaya keemasan kembali muncul.
"Itulah alasan mengapa aku tidak akan kalah."
BOOM!
Gelombang cahaya meledak dari tubuh Teguh.
Seluruh gambaran rumahnya hancur.
Bayangan-bayangan hitam beterbangan.
Sende Kala terdorong mundur.