PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #42

AIR MATA SANG PRAMESWARI

Raungan sirene dari iring-iringan tiga SUV hitam mewah membelah kesunyian lereng Wonosobo yang masih diselimuti kabut tipis. Di barisan paling depan, ambulans dengan fasilitas medis lengkap melaju menuju titik koordinat yang telah dilacak melalui sistem GPS tersembunyi pada kendaraan milik Gusti Teguh Wijaya Kusuma.

Sudirman duduk di kursi tengah dengan wajah tegang. Di sampingnya, Grenia Virginia terus menggenggam jemarinya sendiri. Tubuh wanita itu bergetar hebat. Wajah bulat yang biasanya memancarkan ketenangan kini pucat pasi, sementara air mata mengalir tanpa henti membasahi pipinya.

Firasat batinnya sebagai seorang istri sekaligus keturunan darah Kediri tidak pernah meleset.

Suaminya sedang dalam bahaya besar.

"Tenang, Nyai. Kita sudah dekat dengan lokasi Gusti Teguh. Tim medis VVIP terbaik yang saya bawa dari Jakarta sudah bersiap."

Suara Sudirman terdengar tenang, meskipun kecemasan yang sama jelas tersembunyi di balik tatapannya.

Bagi Sudirman, Teguh bukan sekadar atasan. Pria itu adalah sahabat dan saudara seperjuangan yang selama bertahun-tahun membangun kekuasaan PT WIJAYA MANDIRI Group bersamanya.

Mobil akhirnya berhenti di tepi tebing curam.

Pintu kendaraan terbuka hampir bersamaan.

Enam pengawal berbadan tegap turun dan segera membentuk perimeter pengamanan di sekitar area pondok tua Sende Kala yang kini tinggal puing-puing akibat benturan dua kekuatan besar.

Salah seorang pengawal mendadak menunjuk ke arah kendaraan SUV hitam.

"Gusti Teguh di sana!"

Grenia langsung turun.

Ia tidak peduli pada tanah basah ataupun kerikil tajam yang menggores sepatu mahalnya. Wanita itu berlari menuju tubuh suaminya yang tergeletak tidak jauh dari kendaraan.

"Mas..."

Suara Grenia pecah.

Ia berlutut dan langsung memangku kepala Teguh.

Pria yang selama ini selalu berdiri tegak dengan wibawa seorang penguasa kini terbaring tak berdaya. Matanya terpejam rapat. Napasnya begitu tipis. Hawa dingin yang tidak wajar terasa keluar dari tubuhnya akibat benturan energi yang baru saja terjadi.

"Mas Teguh... bangun. Ini Gre, Mas."

Jemari Grenia mengusap kening suaminya yang basah oleh keringat dingin.

Air matanya jatuh satu demi satu.

Namun, ia berusaha tetap sadar.

Ia tahu, jika dirinya ikut runtuh, tidak akan ada siapa pun yang mampu memberikan kekuatan kepada keluarga mereka.

Sudirman segera memberi isyarat kepada tim medis.

Para dokter bergerak cepat.

Mereka memeriksa denyut nadi, tekanan darah, serta kondisi pernapasan Teguh menggunakan peralatan medis portabel. Oksigen segera diberikan.

Beberapa saat kemudian, dokter kepala menarik napas panjang.

"Bagaimana kondisi Gusti Teguh, Dok?"

Sudirman menatapnya dengan tegang.

Dokter itu menggeleng perlahan.

"Denyut jantung beliau sangat lemah, Pak Sudirman. Ada kerusakan internal yang tidak bisa kami jelaskan sepenuhnya secara medis."

Ia kembali memeriksa monitor.

"Organ dalam beliau seperti mengalami tekanan hebat akibat benturan energi. Beliau harus segera dievakuasi ke ICU VVIP di Jakarta."

"Berapa lama?"

"Semakin cepat semakin baik."

Sudirman langsung mengambil perangkat komunikasinya.

"Siapkan helikopter medis. Kita kembali ke Jakarta sekarang."

Para pengawal segera bergerak.

Tubuh Teguh dipindahkan ke atas tandu dengan hati-hati. Grenia terus mengikuti di sampingnya, tidak melepaskan pandangan dari wajah suaminya.

Beberapa saat kemudian, rombongan bergerak meninggalkan lereng Wonosobo.


Dua jam kemudian, suasana berubah di lantai teratas sebuah rumah sakit internasional di Jakarta.

Seluruh lantai VVIP telah diamankan secara privat.

Tidak ada media.

Lihat selengkapnya