PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #43

MANDAT SANG PEMIMPIN

Pagi itu, pintu kaca salon nail art milik Grenia Virginia tetap tertutup.

Papan kecil di depan pintu sengaja dibalik.

CLOSED.

Tidak ada pelanggan VVIP yang datang. Tidak ada suara tawa atau obrolan ringan seperti biasanya.

Kelima pegawai setianya—Mutia, Aini, Imah, Ami, dan Ratna—duduk bersama di sofa tengah.

Mereka semua tahu ada sesuatu yang serius.

Di hadapan mereka, Grenia berdiri dengan wajah lelah. Berhari-hari berada di ruang ICU telah meninggalkan semburat pucat di wajahnya. Matanya pun belum sepenuhnya pulih dari tangis.

Namun, pagi itu ia tidak datang sebagai seorang istri yang sedang menunggu suaminya sadar.

Ia datang sebagai pemimpin.

Sudirman berdiri beberapa langkah di belakangnya, dekat pintu masuk.

Grenia menarik napas panjang.

"Terima kasih sudah datang pagi-pagi."

Kelima wanita itu memperhatikannya.

“Teman-teman, kalian semua pasti sudah tahu kenapa saya meminta kalian datang pagi-pagi.”

Grenia menarik napas sejenak.

“Mas Teguh masih dirawat di rumah sakit setelah kejadian di Wonosobo. Kondisinya belum memungkinkan untuk ditinggalkan.”

Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Karena itu, mulai sekarang saya harus membagi perhatian antara keluarga dan perusahaan.”


Suara Grenia sempat tertahan.

Namun ia segera menguasai dirinya.

"Kondisinya belum memungkinkan untuk ditinggalkan. Karena itu, mulai sekarang saya harus membagi perhatian antara keluarga dan perusahaan."

Mutia menunduk.

Aini mengusap sudut matanya.

Grenia melanjutkan.

"Untuk sementara, saya akan lebih banyak berada di kantor pusat bersama Mas Dirman untuk mengurus PT WIJAYA MANDIRI Group."

Ruangan kembali sunyi.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Grenia memandang mereka satu per satu.

"Tapi saya tidak akan menutup salon ini."

Kelima pegawai itu mengangkat wajah.

"Salon ini dibangun dari nol. Tempat ini bukan sekadar tempat kerja buat saya. Ini rumah kita."

Grenia berjalan mendekati Mutia dan Aini.

"Karena itu, saya ingin kalian berdua mengambil tanggung jawab lebih besar."

Mutia tampak bingung.

"Apa maksudnya, Mbak?"

Grenia tersenyum tipis.

"Mulai hari ini, saya menunjuk Mutia dan Aini sebagai manajer utama salon."

Mata keduanya membesar.

"Semua operasional harian, pengelolaan keuangan, jadwal pelanggan VVIP, sampai keputusan yang berkaitan dengan pelayanan menjadi tanggung jawab kalian."

Mutia langsung menggeleng.

"Tapi... Bu Grenia, apa kami mampu?"

Aini ikut menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Saya takut membuat keputusan yang salah."

Grenia meraih tangan mereka.

"Kalian tidak perlu menjadi saya."

Ia tersenyum.

"Cukup jalankan apa yang selama ini sudah kalian lakukan dengan baik."

Grenia menggenggam tangan Mutia sedikit lebih erat.

"Kita sudah bersama bertahun-tahun."

Kemudian ia menatap Aini.

"Saya percaya kalian."

Kedua wanita itu mulai menangis.

"Kalian bukan sekadar pegawai bagi saya. Saya sudah menganggap kalian keluarga."

Grenia kemudian mengalihkan pandangan kepada Imah, Ami, dan Ratna.

"Kalian bertiga tetap menjadi bagian penting dari pelayanan salon. Jaga kualitasnya. Jaga pelanggan kita. Dan yang paling penting..."

Ia tersenyum.

Lihat selengkapnya