PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #44

SUMPAH DI BALIK MEJA JATI

Lobi utama gedung PT WIJAYA MANDIRI Group masih ramai oleh aktivitas pagi ketika pintu lift menuju lantai teratas terbuka.

Namun, suasana di ruang rapat utama jauh berbeda.

Di balik pintu kayu besar, beberapa anggota keluarga Wijaya telah berkumpul mengelilingi meja jati panjang yang selama ini menjadi tempat berbagai keputusan penting perusahaan.

Kursi di ujung meja masih kosong.

Kursi yang selama ini ditempati Gusti Teguh Wijaya Kusuma.

Di tempat itu, Tante Lastri duduk dengan wajah penuh keyakinan. Sebagai adik kandung mendiang ayah Teguh, ia merasa memiliki cukup alasan untuk mengambil peran dalam menentukan masa depan perusahaan selama keponakannya masih terbaring koma.

"Kita tidak bisa terus membiarkan keadaan seperti ini."

Jemari Tante Lastri mengetuk permukaan meja.

"Perusahaan sebesar ini membutuhkan orang yang bisa mengambil keputusan."

Beberapa anggota keluarga mengangguk.

"Dan jangan sampai kendali perusahaan justru jatuh kepada orang luar."

Nada suaranya semakin tajam.

"Terutama perempuan itu."

Ia menyandarkan tubuhnya.

"Sejak Teguh menikah dengannya, hubungan Teguh dengan keluarga semakin jauh. Sekarang, ketika Teguh tidak sadarkan diri, tiba-tiba dia datang membawa hak kuasa atas perusahaan."

Seorang kerabat di sampingnya ikut bersuara.

"Kalau surat itu benar-benar ada, kita masih bisa mempertanyakannya."

Tante Lastri tersenyum tipis.

"Itulah yang akan kita lakukan."

Brak!

Pintu ruang rapat terbuka.

Semua kepala langsung menoleh.

Sudirman masuk lebih dahulu.

Setelan jas hitamnya rapi. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya cukup untuk membuat percakapan di dalam ruangan berhenti seketika.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Hanya berjalan beberapa langkah, kemudian berdiri di sisi pintu.

Setelah itu, seorang wanita muncul di belakangnya.

Grenia.

Suasana ruangan berubah.

Tidak ada lagi kesan seorang pemilik salon yang datang ke kantor sekadar menemani suaminya.

Pagi itu, Grenia mengenakan blazer hitam dengan potongan sederhana dan elegan. Rambutnya tertata rapi. Langkahnya tenang.

Namun yang paling berubah adalah tatapannya.

Tidak ada senyum hangat yang biasa ia berikan kepada pelanggan.

Tidak ada keraguan.

Ia hanya memandang seluruh ruangan, kemudian berjalan menuju kursi di ujung meja.

Tante Lastri langsung berdiri.

"Siapa yang mengizinkan kamu masuk?"

Grenia berhenti.

Tante Lastri menunjuk kursi di ujung meja.

"Dan jangan berpikir kamu bisa begitu saja duduk di sana. Itu tempat Wijaya."

Grenia menatap kursi tersebut.

Kemudian menatap kembali Tante Lastri.

"Betul."

Suaranya tenang.

"Itu tempat suami saya."

Tante Lastri hendak membalas, tetapi Grenia melanjutkan.

"Dan selama beliau belum bisa menjalankan tanggung jawabnya, saya yang menjalankan mandat yang beliau berikan."

Ruangan mendadak sunyi.

"Mandat apa?" Tante Lastri membalas cepat.

Grenia tidak menjawab.

Ia menoleh kepada Sudirman.

"Mas Dirman."

"Ya, Bu Grenia."

"Silakan."

Sudirman melangkah menuju meja.

Lihat selengkapnya