PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #45

DUA SISI SANG PRAMESWARI

Langkah kaki Grenia Virginia terdengar teratur di sepanjang koridor lantai teratas PT WIJAYA MANDIRI Group.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara hak sepatunya memantul di lantai marmer, mengikuti ritme langkah seorang perempuan yang sejak pagi telah mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

Di belakangnya, Sudirman berjalan membawa sebuah tablet tipis berisi berbagai data perusahaan. Empat petugas keamanan mengikuti beberapa meter di belakang mereka.

Tidak seorang pun berbicara.

Para pegawai yang berpapasan dengan rombongan itu segera menepi.

Sebagian menundukkan kepala.

Sebagian lainnya hanya mampu memandang.

Mereka mengenal perempuan yang berjalan di depan itu.

Grenia Virginia.

Pemilik salon nail art yang selama ini lebih sering terlihat dengan pakaian sederhana dan senyum ramah kepada para pelanggan.

Tetapi perempuan yang mereka lihat pagi itu berbeda.

Blazer hitam membingkai tubuhnya dengan elegan. Rambutnya tertata rapi. Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Tidak ada senyum.

Tidak ada keraguan.

Namun, di balik ketenangan itu, hanya Grenia sendiri yang tahu betapa keras jantungnya berdetak.

Ia sedang berjalan menuju ruang yang selama ini menjadi wilayah suaminya.

Ruang para direktur.

Ruang tempat keputusan bernilai miliaran hingga triliunan rupiah dibuat.

Dan sekarang, untuk sementara, ia harus berdiri di sana.

Bukan sebagai pemilik salon.

Bukan sebagai seorang istri yang sedang menunggu suaminya sadar.

Melainkan sebagai orang yang dipercaya memegang kendali.

Grenia berhenti di depan pintu ruang rapat pleno.

Sudirman maju dan membukakan pintu.

Begitu pintu terbuka, suara percakapan di dalam ruangan langsung terputus.

Dua belas direktur yang duduk mengelilingi meja panjang menoleh hampir bersamaan.

Beberapa wajah tampak terkejut.

Yang lain berusaha menyembunyikan keterkejutan mereka.

Grenia dapat membaca semuanya.

Tidak perlu bertanya.

Mereka tidak menyangka perempuan dari sebuah salon kecil akan datang ke tempat ini.

Grenia melangkah masuk.

Tatapannya menyapu ruangan.

Satu per satu.

Tidak ada yang ia lewatkan.

Kemudian ia berjalan menuju kursi utama.

Kursi yang selama ini ditempati Gusti Teguh Wijaya Kusuma.

Ia menariknya perlahan.

Duduk.

Punggungnya tegak.

Kedua tangannya bertaut di atas meja.

Ruangan tetap hening.

Grenia mengembuskan napas pelan.

"Selamat siang, Bapak-Ibu Direktur."

Suaranya tidak keras.

Namun, seluruh ruangan mendengarnya dengan jelas.

"Saya tidak ingin membuang waktu. Kita semua memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan."

Seorang pria berambut putih di sisi kanan meja mengangkat wajah.

Direktur Hendra.

Pengalamannya puluhan tahun di dunia investasi membuatnya terbiasa berhadapan dengan orang-orang penting.

Ia tidak terlihat gentar.

"Bu Grenia," katanya akhirnya. "Dengan segala hormat, dunia korporasi berbeda dengan mengelola salon."

Beberapa direktur lain saling melirik.

Hendra melanjutkan.

"Saat ini kondisi perusahaan sedang sensitif. Kondisi Pak Teguh tentu berdampak pada kepercayaan pasar. Karena itu, menurut saya, semua keputusan besar seharusnya tetap melalui mekanisme dewan."

Grenia mendengarkan sampai selesai.

Tidak memotong.

Tidak menunjukkan emosi.

Setelah Hendra berhenti bicara, ia baru mengangkat wajah.

"Anda benar."

Hendra tampak sedikit terkejut.

Grenia melanjutkan dengan tenang.

"Perusahaan sebesar ini memang tidak boleh dikelola berdasarkan emosi."

Ia berhenti sebentar.

"Karena itu, hari ini kita tidak akan mengambil keputusan berdasarkan dugaan."

Tatapannya beralih kepada Sudirman.

"Mas Sudirman."

"Ya, Bu."

"Silakan tampilkan datanya."

Sudirman maju.

Tablet di tangannya terhubung dengan layar besar di dinding.

Beberapa detik kemudian, layar menyala.

Diagram transaksi memenuhi permukaannya.

Nomor rekening.

Tanggal transaksi.

Nilai transfer.

Nama perusahaan.

Dokumen digital.

Semuanya tersusun dalam rangkaian yang membuat suasana ruangan berubah.

Senyum tipis di wajah Direktur Hendra menghilang.

Sudirman mulai menjelaskan.

"Dalam tiga puluh enam jam terakhir, kami menemukan sejumlah transaksi yang dilakukan melalui beberapa rekening perusahaan dan entitas terkait."

Layar berganti.

Lihat selengkapnya