Suara isak tangis Grenia Virginia di ruang ICU VVIP belum sepenuhnya reda ketika terdengar ketukan pelan dari balik pintu kaca.
Grenia mengangkat wajah.
Di luar, Sudirman berdiri dengan ekspresi serius. Ponsel satelit di tangannya masih menyala, menampilkan notifikasi darurat yang terus masuk.
Grenia mengusap pipinya.
Beberapa detik sebelumnya, ia masih menjadi seorang istri yang menangis di sisi ranjang suaminya. Namun sekarang, ada urusan lain yang menunggunya.
Ia berdiri, memastikan tangan Gusti Teguh kembali berada dengan nyaman di atas ranjang, lalu melangkah keluar.
Begitu pintu ICU tertutup, Grenia menarik napas panjang.
Tatapan lembut yang tadi memenuhi wajahnya perlahan menghilang.
Bukan karena air matanya tidak lagi ada.
Melainkan karena ia tahu, ada tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan hanya karena hatinya sedang hancur.
"Ada masalah apa, Mas Dirman?"
Suaranya masih sedikit serak.
Sudirman menundukkan kepala.
"Maaf mengganggu, Bu Grenia. Kita menghadapi situasi darurat di Jawa Tengah."
Grenia langsung fokus.
"Di mana?"
"Wilayah suburban dekat Semarang."
Sudirman menyerahkan tablet kepadanya.
"Lahan proyek Wijaya Kusuma Royal Estate diblokade warga. Situasinya sudah memanas selama dua jam."
Grenia menggeser layar.
Video dari lokasi muncul.
Puluhan warga memenuhi jalan. Beberapa ban terbakar. Alat-alat berat berhenti beroperasi. Petugas keamanan perusahaan terlihat berjaga dari kejauhan.
Grenia mengernyit.
"Proyek itu sudah berjalan sekitar tujuh puluh persen, bukan?"
"Benar, Bu. Masalahnya ada pada tiga puluh persen lahan terakhir yang rencananya digunakan untuk akses utama dan fasilitas publik."
Grenia kembali memperhatikan rekaman.
"Kenapa warga menolak?"
Sudirman menarik napas.
"Menurut laporan awal, ada pihak yang menggerakkan mereka."
"Siapa?"
"Baskoro."
Nama itu membuat ekspresi Grenia berubah serius.
Sudirman melanjutkan.
"Dia pengusaha sekaligus politisi lokal. Diduga membeli surat tanah sengketa dengan harga murah, kemudian memprovokasi warga dengan tuduhan bahwa perusahaan melakukan penyerobotan."
"Dan tuntutannya?"
"Lima ratus miliar rupiah."
Grenia terdiam.
Lima ratus miliar.
Angka itu bukan sekadar tuntutan. Jika ditangani dengan cara yang salah, persoalan tersebut dapat berubah menjadi masalah hukum, sosial, sekaligus reputasi perusahaan.
Sudirman menambahkan, "Beberapa direksi meminta kita menurunkan pengamanan tambahan untuk membubarkan blokade."
Grenia langsung mengangkat wajah.
"Tidak."
Jawabannya cepat.
"Tidak ada kekerasan."
Sudirman mengangguk.
"Begitu kita menyentuh warga, kita justru memberikan senjata kepada Baskoro."
Grenia menyerahkan kembali tablet itu.
"Dia ingin kita kehilangan kendali."
Sudirman menatapnya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?"
Grenia berjalan mendekati jendela koridor.
Di luar, hujan mulai turun di atas Jakarta.
Ia memandang titik-titik air yang perlahan memenuhi kaca.
"Hubungi Gubernur dan Kapolda Jawa Tengah melalui jalur resmi perusahaan."
"Baik."
"Sampaikan bahwa saya akan datang langsung."
Sudirman sedikit terkejut.
"Bu, kondisi Anda..."
Grenia menoleh.
"Aku masih punya tanggung jawab."
Sudirman tidak membantah.
Grenia kembali menatap hujan.
"Dan saya ingin masalah ini selesai tanpa satu pun warga terluka."
Ia kemudian berbalik.
"Tim hukum juga harus bergerak. Cari seluruh rekam jejak bisnis Baskoro. Periksa perusahaan-perusahaan yang terhubung dengannya, transaksi tanah sengketa itu, dan sumber dananya."