Setelah menyelesaikan negosiasi dengan Baskoro, Grenia tidak langsung kembali ke Jakarta.
Ia masih memikirkan wajah-wajah warga yang sejak awal berdiri di balik barikade. Mereka bukan sekadar angka dalam laporan proyek. Ada keluarga, anak-anak, dan kehidupan yang bergantung pada tanah tersebut.
Selembar perjanjian mungkin telah menyelesaikan persoalan secara hukum. Namun, bagi Grenia, kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan tanda tangan.
Karena itu, beberapa saat kemudian, iring-iringan kendaraan Wijaya Mandiri bergerak menuju lokasi sengketa di pinggiran Semarang.
Begitu tiba, sisa ketegangan masih terasa.
Ban-ban bekas yang dibakar warga menyisakan asap tipis. Barikade bambu masih melintang di jalan utama proyek. Ratusan warga berdiri berkelompok di sisi jalan. Beberapa masih menggenggam kayu dan cangkul, meskipun tidak lagi menunjukkan sikap menyerang.
Sudirman turun lebih dahulu.
Ia mengamati keadaan sekitar sebelum mendekati Grenia.
"Ibu, sebaiknya tetap di belakang pengamanan. Situasinya masih cukup sensitif."
Grenia menatap kerumunan warga.
"Mereka bukan musuh kita, Mas Dirman."
Ia kemudian melangkah turun dari kendaraan.
"Mereka hanya sedang memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini benar."
Sudirman terdiam sesaat, lalu memberi isyarat kepada para pengawal untuk membuka jalan.
Grenia berjalan melewati barisan pengamanan.
Tidak ada rombongan besar yang mengiringinya.
Tidak ada pengeras suara.
Ia hanya berdiri beberapa meter di hadapan warga, lalu merapatkan kedua tangannya di depan dada.
"Selamat siang, Bapak-Ibu."
Suara Grenia tidak keras, tetapi cukup jelas untuk terdengar oleh mereka yang berada di barisan depan.
"Saya Grenia Virginia. Saya datang bukan untuk mengambil tanah siapa pun."
Beberapa warga saling pandang.
Grenia melanjutkan.
"Saya datang untuk memastikan bahwa apa yang menjadi hak Bapak dan Ibu tidak dirampas oleh siapa pun."
Seorang lelaki tua kemudian maju dari kerumunan. Rambutnya telah memutih, wajahnya penuh garis usia.
"Bu Grenia..." Ia tampak ragu. "Kami diberi tahu bahwa perusahaan akan menggusur makam leluhur dan jalan desa tanpa memberikan ganti rugi."
Grenia menggeleng perlahan.
"Informasi itu tidak benar, Pak."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Tanah yang menjadi sengketa sudah diselesaikan melalui jalur hukum. Tuan Baskoro telah menyerahkan kembali hak atas tanah tersebut kepada warga."
Kerumunan mulai bergemuruh.
Beberapa orang saling bertanya memastikan kabar itu.
"Jadi... tanah itu tetap milik kami?" tanya seorang ibu dari belakang.
Grenia mengangguk.
"Ya."
Suasana yang sejak tadi tegang perlahan berubah.
Grenia kemudian menoleh kepada Sudirman.
Mas Dirman segera memahami maksudnya dan memberikan sebuah dokumen kepada salah satu perwakilan warga.
"Ini salinan perjanjian yang sudah ditandatangani," jelas Grenia. "Silakan diperiksa bersama pihak desa dan penasihat hukum kalian. Saya tidak ingin ada yang merasa keputusan ini dibuat sepihak."
Tetua desa menerima dokumen tersebut dengan kedua tangan.
"Terima kasih, Bu."
Grenia tersenyum.
"Justru kami yang harus berterima kasih karena Bapak-Ibu mau mendengarkan kami."
Ia memandang seluruh warga.
"Dan ada satu hal lagi."
Kerumunan kembali tenang.
"Mas Teguh selalu percaya bahwa sebuah perusahaan seharusnya membawa manfaat bagi lingkungan tempatnya berdiri."
Grenia menarik napas.
"Karena itu, akses jalan desa akan kami bangun dengan standar yang layak. Fasilitas air bersih juga akan disediakan untuk warga. Untuk anak-anak di desa ini, perusahaan akan menyiapkan program beasiswa pendidikan."
Beberapa ibu mulai berkaca-kaca.
Seorang anak kecil yang berdiri di samping ibunya bahkan tersenyum lebar ketika mendengar kata beasiswa.
"Kami tidak ingin mengambil kehidupan warga untuk membangun bisnis," lanjut Grenia. "Kalau proyek ini berdiri, masyarakat di sekitarnya juga harus merasakan manfaatnya."
Kali ini tidak ada lagi kayu yang terangkat.
Satu per satu warga menurunkan tangan mereka.
Doa untuk kesembuhan Teguh mulai terdengar dari berbagai penjuru.
Grenia menundukkan kepala.
"Terima kasih."
Ia kemudian berjalan mendekati beberapa warga. Ia mendengarkan keluhan mereka satu per satu, tanpa tergesa-gesa. Sesekali ia tersenyum, bahkan menggendong seorang balita yang diserahkan ibunya.
Dari kejauhan, Sudirman memperhatikan semuanya.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Semarang, wajahnya sedikit melunak.
Grenia tidak hanya menyelesaikan persoalan.
Ia mengembalikan kepercayaan.
Namun, ketika Grenia masih berbicara dengan warga, ponsel khusus milik Sudirman bergetar tiga kali.
Sudirman langsung mengenali pola tersebut.