PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #48

SIASAT SANG MAHAPATIH

Malam telah larut ketika rombongan SUV antipeluru PT WIJAYA MANDIRI group akhirnya memasuki Jakarta.

Hujan deras mengguyur ibu kota. Pantulan lampu gedung dan kendaraan berkilau di atas aspal yang basah, sementara iring-iringan mobil bergerak meninggalkan jalan utama menuju akses privat Rumah Sakit Internasional Jakarta.

Di dalam mobil paling depan, Grenia Virginia menyandarkan kepalanya pada jok. Perjalanan panjang dari Semarang telah menguras tenaganya. Namun, pikirannya masih tertinggal pada wajah-wajah warga desa yang tadi siang mendoakan kesembuhan suaminya.

Di sampingnya, Sudirman membuka tablet dan memeriksa beberapa laporan yang masuk.

Beberapa menit kemudian, kendaraan berhenti di lobi privat rumah sakit.

Sudirman segera turun dan membukakan pintu.

"Ibu, langsung beristirahatlah di rumah sakit untuk mendampingi Gusti Teguh," katanya. "Urusan di kantor pusat malam ini biarkan saya yang menangani. Besok sore Ibu membutuhkan tenaga penuh untuk menghadapi RUPS."

Grenia menatapnya beberapa saat.

Wajahnya masih menyimpan kelelahan, tetapi sorot matanya tetap menunjukkan kepercayaan yang utuh.

"Saya percayakan perusahaan ini kepada Mas Dirman. Jangan biarkan mereka merusak apa yang sudah dibangun Mas Teguh."

"Saya mengerti, Bu."

Sudirman menundukkan kepala singkat.

"Saya akan pastikan semuanya tetap terkendali."

Grenia mengangguk, lalu berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. Dua pengawal mengikutinya dari belakang.

Namun, Sudirman tidak ikut masuk.

Ia berdiri beberapa detik di samping mobil, menatap pintu yang baru saja dilewati Grenia.

Setelah memastikan perempuan itu benar-benar berada di bawah pengamanan rumah sakit, ekspresinya berubah.

Tidak ada lagi wajah seorang direktur yang sedang mendampingi istri atasannya.

Yang tersisa adalah seorang pria yang sedang menghitung langkah musuh.

Sudirman masuk ke mobil sedan hitam miliknya.

Begitu pintu tertutup, ia memasang earphone dan membuka laptop yang terhubung ke jaringan internal perusahaan.

Malam itu, ia tidak berniat tidur.

Pukul sebelas lewat tiga puluh malam, sebuah ruangan kerja rahasia di lantai bawah gedung PT WIJAYA MANDIRI group masih menyala.

Sudirman duduk sendirian di ujung meja.

Beberapa layar menampilkan pergerakan rekening perusahaan, komunikasi internal, perubahan kepemilikan saham, dan aktivitas sejumlah direktur yang sejak siang mulai bertingkah mencurigakan.

"Hubungkan saya dengan tim siber."

Suara dari earphone menjawab beberapa detik kemudian.

"Terhubung, Pak."

"Mulai malam ini kita gunakan protokol Pagar Wesi. Saya ingin seluruh pergerakan finansial yang berkaitan dengan delapan direktur itu dipantau."

"Baik, Pak."

"Jangan menyentuh mereka dulu."

Sudirman berhenti sejenak.

"Biarkan mereka merasa aman."

Ia menatap layar yang menampilkan nama Gunawan.

"Orang yang merasa aman biasanya melakukan kesalahan paling besar."

Beberapa jendela data terbuka bersamaan.

Tim analis mulai bekerja.

Sudirman menyandarkan tubuhnya, lalu mengambil sebuah laporan yang baru saja masuk.

"Pak Sudirman."

Suara kepala tim siber terdengar lebih serius.

"Kami menemukan transaksi besar."

Sudirman langsung menegakkan tubuh.

"Jelaskan."

"Direktur Gunawan sedang mengatur pembelian surat kuasa saham dari sejumlah investor minoritas. Sebagian besar investor tersebut berasal dari Singapura dan Hong Kong."

"Nilainya?"

"Data sementara menunjukkan sekitar tiga ratus juta dolar."

Sudirman terdiam.

Matanya bergerak perlahan mengikuti grafik transaksi di layar.

"Kapan transaksi terakhir?"

"Besok pagi. Sekitar pukul sembilan."

Sudirman mengembuskan napas pendek.

"Berarti mereka memang serius."

Ia membuka berkas lain.

"Telusuri sumber dananya."

Beberapa menit berlalu.

Kemudian suara kepala tim siber terdengar lagi.

"Pak... sebagian dana berasal dari fasilitas pinjaman luar negeri melalui sebuah institusi keuangan di Swiss."

Sudirman tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Senyum seseorang yang baru menemukan celah.

"Bagus."

Ia menutup berkas di tangannya.

"Hubungi tim hukum internasional kita di Zurich."

"Instruksinya, Pak?"

"Kirim seluruh bukti transaksi mencurigakan yang berkaitan dengan Gunawan. Minta mereka memastikan fasilitas pembiayaan tersebut diperiksa sebelum pencairan."

Sudirman berhenti sejenak.

"Dan jangan mengatasnamakan saya secara pribadi. Gunakan jalur resmi perusahaan."

"Baik, Pak."

Layar kembali dipenuhi data.

Sudirman kemudian membuka daftar tujuh direktur lain yang berada di belakang Gunawan.

Ia tahu satu hal.

Aliansi yang dibangun karena kepentingan biasanya tidak membutuhkan musuh dari luar.

Cukup sedikit tekanan dari dalam.

Namun kali ini Sudirman memilih satu prinsip: ia tidak akan memalsukan bukti atau menciptakan tuduhan.

Jika mereka melakukan kesalahan, biarkan bukti mereka sendiri yang berbicara.

"Pantau komunikasi mereka," katanya. "Jangan mengubah apa pun."

"Siap."

Sudirman mematikan layar utama.

Jam digital di dinding menunjukkan pukul dua lewat tujuh belas menit.

Ia masih duduk di sana.

Besok adalah hari yang menentukan.

Siang berikutnya, ruang rapat pleno PT WIJAYA MANDIRI group dipenuhi jajaran pemegang saham dan direksi.

Udara di dalam ruangan terasa kaku.

Di barisan depan, Gunawan duduk bersama tujuh direktur yang selama dua hari terakhir membangun aliansi untuk menjatuhkan Grenia.

Sebuah map merah terletak di atas meja di hadapan Gunawan.

Isinya adalah surat kuasa saham yang menurut perhitungannya cukup untuk mengguncang posisi Grenia dalam RUPS-LB.

Gunawan melirik jam tangannya.

Pukul dua lewat lima belas.

Namun kursi utama masih kosong.

Senyum kemenangan perlahan muncul di wajahnya.

"Sepertinya Ibu Grenia belum terbiasa dengan urusan perusahaan sebesar ini."

Beberapa orang tersenyum tipis.

Gunawan bersandar.

"Mungkin beliau masih berada di salon."

Tawa kecil terdengar dari beberapa sudut meja.

Namun tidak semua ikut tertawa.

Tujuh direktur yang duduk di dekat Gunawan justru beberapa kali saling melirik.

Ada sesuatu yang mengganggu pikiran mereka sejak malam tadi.

Beberapa transaksi pribadi mereka sedang diperiksa.

Beberapa investor yang sebelumnya menjanjikan dukungan juga mendadak sulit dihubungi.

Tidak ada yang tahu mengapa.

Gunawan sendiri mulai merasa tidak nyaman.

Lalu—

Brak!

Pintu ruang rapat terbuka.

Semua kepala langsung menoleh.

Sudirman masuk lebih dahulu.

Setelan jasnya tetap sederhana, tetapi langkahnya membuat percakapan di dalam ruangan berhenti.

Di belakangnya muncul Grenia.

Hari itu ia mengenakan busana formal hitam dengan aksen emas sederhana. Rambutnya tertata rapi. Tidak ada perhiasan berlebihan.

Hanya satu hal yang berubah.

Tatapannya.

Dingin.

Tenang.

Tidak tergesa.

Grenia berjalan melewati ruangan tanpa menanggapi bisikan siapa pun.

Ia berhenti di kursi utama.

Kemudian duduk.

Sudirman berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Gunawan berusaha mempertahankan senyumnya.

Lihat selengkapnya