PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #49

Runtuhnya Para Pembangkang

Ketukan palu beralas kayu jati terdengar tiga kali di dalam ruang rapat pleno utama PT WIJAYA MANDIRI Group.

Tok. Tok. Tok.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa—RUPS-LB—resmi dimulai.

Lebih dari lima puluh perwakilan pemegang saham, jajaran komisaris, dan direksi memenuhi ruangan. Wajah-wajah mereka menyimpan ketegangan. Sore itu bukan sekadar rapat evaluasi perusahaan.

Ini adalah pertarungan mengenai siapa yang akan memegang kendali PT WIJAYA MANDIRI Group selama Gusti Teguh Wijaya Kusuma masih terbaring koma.

Di salah satu sisi meja utama, Gunawan duduk bersama tujuh direktur yang selama dua hari terakhir membangun aliansi untuk menjatuhkan Grenia.

Sebuah map merah tebal terletak di hadapannya.

Gunawan menepuk map itu sekali sebelum berdiri.

"Para pemegang saham yang terhormat."

Suaranya terdengar lantang dan penuh keyakinan.

"Kita semua mengetahui bahwa perusahaan sedang berada dalam situasi yang sangat genting sejak Gusti Teguh tidak dapat menjalankan tugasnya."

Beberapa peserta rapat mulai saling pandang.

Gunawan melanjutkan.

"Dalam kondisi seperti ini, perusahaan membutuhkan seseorang yang memahami tata kelola korporasi, pasar modal, dan dinamika bisnis internasional."

Tatapannya perlahan beralih kepada Grenia.

"Bukan seseorang yang baru beberapa hari menduduki posisi tersebut."

Suasana ruangan berubah hening.

Grenia tetap duduk tenang di kursi utama.

Tidak ada perubahan pada wajahnya.

Tidak ada kegelisahan.

Tidak pula terlihat keinginan untuk membalas hinaan itu.

Gunawan justru semakin percaya diri.

"Karena itu, kami mengajukan evaluasi sekaligus pencabutan kewenangan Grenia Virginia sebagai pemegang otoritas tertinggi perusahaan selama Gusti Teguh belum dapat kembali memimpin."

Ia mengangkat map merah.

"Dan kami membawa surat kuasa dari sejumlah pemegang saham yang mendukung usulan tersebut."

Map itu kemudian diserahkan kepada sekretaris rapat untuk diverifikasi.

Gunawan kembali duduk.

Ia menatap Grenia dengan senyum tipis.

"Ibu Grenia tentu memahami bahwa langkah ini bukan serangan pribadi."

Beberapa detik berlalu.

Barulah Grenia mengangkat wajah.

"Saya memahami."

Hanya dua kata.

Gunawan mengernyit.

"Hanya itu?"

Grenia tersenyum tipis.

"Anda belum selesai berbicara."

Beberapa orang di meja rapat menundukkan wajah, menyembunyikan reaksi mereka.

Senyum Gunawan menghilang.

Namun sebelum ia kembali membuka mulut, sekretaris rapat menghentikan pemeriksaan dokumen.

"Pak Gunawan."

"Ya?"

"Ada beberapa hal yang perlu kami klarifikasi."

Gunawan menoleh.

"Apa?"

Sekretaris rapat mengangkat salah satu dokumen.

"Sebagian surat kuasa ini memang sah secara administratif. Namun, terdapat beberapa pemberitahuan resmi dari pemegang saham yang meminta peninjauan ulang atas kuasa yang sebelumnya mereka berikan."

Wajah Gunawan berubah.

"Apa maksud Anda?"

"Pemberitahuan tersebut diterima pagi tadi melalui jalur resmi."

Salah seorang komisaris langsung bertanya.

"Berapa pemegang saham?"

Sekretaris rapat memeriksa layar.

"Empat."

Gunawan spontan berdiri.

"Empat?"

"Benar, Pak."

"Itu tidak mungkin."

Sekretaris rapat tetap tenang.

"Dokumennya telah kami verifikasi."

Gunawan segera mengambil ponselnya.

Panggilan pertama.

Tidak diangkat.

Panggilan kedua.

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba nomor berikutnya.

Tetap sama.

Raut wajahnya mulai berubah.

Keringat tipis muncul di pelipis.

Di belakangnya, tujuh direktur yang sejak awal berdiri di pihaknya mulai saling melirik.

Salah seorang berbisik.

"Kenapa mereka menarik dukungan?"

Tidak ada yang menjawab.

Grenia mengamati semuanya tanpa menyela.

Di belakang kursinya, Sudirman tetap berdiri tenang.

Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya.

Hanya tatapan seorang pria yang tahu bahwa langkah pertama mereka telah bekerja.

Bukan melalui ancaman.

Bukan melalui pemaksaan.

Melainkan melalui proses hukum yang mulai membuat para pemegang saham mempertimbangkan kembali risiko keterlibatan mereka.

Gunawan perlahan menatap Grenia.

"Ini permainan Anda?"

Grenia menggeleng.

"Bukan."

"Jangan berbohong!"

"Saya tidak perlu berbohong."

Grenia menunjuk map merah di atas meja.

"Kalau surat kuasa itu sah dan para pemegang saham tetap mendukung Anda, silakan lanjutkan."

Gunawan terdiam.

Grenia menyandarkan tubuhnya.

"Saya justru ingin mengetahui seberapa kuat dukungan Anda tanpa tekanan, tanpa janji, dan tanpa transaksi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan."

Ruangan kembali sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, keyakinan Gunawan mulai retak.

Namun, ia masih memiliki satu senjata.

Dan ia belum berniat menyerah.


Gunawan berdiri kembali.


"Kalau begitu, saya akan melanjutkan."


Ia mengambil beberapa lembar dokumen dari map merah, lalu menyerahkannya kepada sekretaris rapat.


"Kami juga mempertanyakan keputusan Ibu Grenia dalam menangani konflik proyek Wijaya Kusuma Royal Estate."


Beberapa peserta rapat kembali memperhatikan.


Gunawan mengangkat dagu.


Lihat selengkapnya