Dua minggu telah berlalu sejak upaya kudeta korporasi yang dipimpin Gunawan berakhir.
PT WIJAYA MANDIRI Group perlahan kembali stabil. Aktivitas perusahaan berjalan normal, para pemegang saham telah mendapatkan kepastian, dan nama Grenia Virginia justru semakin kuat setelah keberhasilannya mempertahankan perusahaan di tengah krisis.
Namun, semua itu tidak berarti kehidupan Grenia kembali tenang.
Setiap pagi, sebelum memikirkan laporan perusahaan, ia selalu memikirkan satu hal yang sama.
Teguh.
Pria yang masih terbaring di ruang ICU VVIP itu belum juga membuka mata.
Pagi itu Jakarta diselimuti mendung tipis. Hujan semalam meninggalkan titik-titik air di kaca besar kamar rumah sakit.
Grenia baru saja terbangun setelah tidur beberapa jam di sofa dekat ranjang suaminya.
Ia merasa tubuhnya tidak biasa.
Sejak beberapa hari terakhir, rasa mual datang berulang kali. Kepalanya juga sering terasa ringan. Awalnya ia menganggap semuanya akibat kurang tidur dan kelelahan.
Namun pagi itu rasa mual tersebut kembali menyerang.
Grenia segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Satu tangannya menutup mulut.
Langkahnya dipercepat.
Begitu sampai di dalam, ia berpegangan pada tepi wastafel marmer sambil menarik napas panjang.
Beberapa saat kemudian rasa mual itu perlahan mereda.
Grenia mengangkat wajah.
Pandangannya jatuh pada sebuah benda kecil yang terletak di atas wastafel.
Sebuah alat tes kehamilan.
Ia terdiam.
Tangannya perlahan meraihnya.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Dua garis.
Grenia tidak langsung memahami apa yang sedang dilihatnya.
Ia menatap benda itu beberapa detik lebih lama.
Kemudian matanya membesar.
Napasnya tertahan.
"Dua garis..."
Suaranya hampir tidak terdengar.
Tangannya mulai gemetar.
Ia kembali melihat hasil tersebut, seolah berharap matanya salah membaca.
Tidak.
Dua garis merah muda tetap terlihat jelas.
Grenia menutup mulut dengan kedua tangannya.
Air mata menggenang di pelupuk matanya.
Bukan kesedihan.
Bukan pula ketakutan.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada keduanya.
Harapan.
"Ya Allah..."
Air mata akhirnya jatuh.
Grenia bersandar pada wastafel.
Untuk beberapa saat, ia hanya menangis dalam diam.
Di tengah dua minggu yang terasa begitu panjang sejak Teguh terbaring koma, tiba-tiba kehidupan memberinya sebuah kabar yang tidak pernah ia bayangkan akan datang secepat ini.
Tangannya perlahan turun ke perutnya.
Masih rata.
Belum ada tanda apa pun yang terlihat.
Namun di dalam sana, mungkin telah dimulai sebuah kehidupan baru.
Darah dagingnya.
Darah daging Teguh.
Grenia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.
Senyum kecil muncul di antara air matanya.
"Mas Teguh..."
Nama itu keluar begitu saja.
Dan seperti setiap kali ia menyebutnya sejak Teguh koma, dadanya kembali terasa sesak.
Bedanya kali ini bukan hanya karena rindu.
Ada seseorang yang ingin ia perkenalkan kepada suaminya.
Grenia menatap kembali hasil tes di tangannya.
"Mas..."
Senyumnya bergetar.
"Aku harus kasih tahu Mas."
Ia mengusap air matanya.
Kemudian perlahan membuka pintu kamar mandi.
Langkahnya menuju ranjang Teguh terasa berbeda.
Lebih hati-hati.
Lebih penuh harapan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Grenia merasa bahwa di tengah badai yang belum sepenuhnya reda, Tuhan sedang menitipkan kepadanya sebuah alasan baru untuk tetap bertahan.
Grenia berjalan perlahan menuju ranjang suaminya.
Setiap langkah terasa ringan sekaligus berat.
Di tangannya, alat tes kehamilan itu masih ia genggam erat.
Teguh tetap berada dalam posisi yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Wajahnya tenang. Matanya terpejam. Selang dan kabel medis masih terpasang dengan rapi, sementara monitor di samping ranjang memperlihatkan tanda-tanda vital yang stabil.
Grenia berdiri di sisi ranjang.
Untuk beberapa detik, ia hanya memandang wajah suaminya.
Wajah yang selama berminggu-minggu dirindukannya untuk melihat tersenyum.
Tangannya perlahan meraih tangan Teguh.
Masih dingin.
Namun kali ini Grenia menggenggamnya lebih erat.
"Mas..."
Suaranya bergetar.
Ia duduk di tepi ranjang.
"Aku punya sesuatu yang harus aku ceritakan."
Tidak ada jawaban.
Hanya suara monitor yang terdengar teratur.
Grenia tersenyum kecil.
"Mas pasti akan marah kalau aku menyimpan ini terlalu lama."
Air matanya kembali menggenang.
Ia mengangkat tangan Teguh, lalu menempelkannya perlahan pada perutnya.
Perut itu masih datar.
Belum ada perubahan yang bisa dilihat mata.
Namun bagi Grenia, sentuhan tersebut terasa seperti mempertemukan dua orang yang belum pernah saling mengenal.
"Mas Teguh..."
Ia menarik napas panjang.
"Aku hamil."
Kalimat itu keluar pelan.
Begitu sederhana.
Namun setelah mengucapkannya, Grenia justru menangis.
"Mas dengar, ya..."
Jemarinya menggenggam tangan Teguh.
"Di sini ada anak kita."
Kepalanya menunduk.
"Aku juga masih belum percaya."
Senyum kecil muncul di wajahnya yang basah oleh air mata.
"Mas akan jadi ayah."
Ruangan tetap sunyi.
Tidak ada gerakan dari Teguh.
Tidak ada jawaban.
Tetapi Grenia tidak berhenti.