PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #51

Bersandar pada Doa Ibu

Gemuruh Jakarta dan dinding-dinding kaca pencakar langit PT WIJAYA MANDIRI Group malam itu terasa begitu jauh bagi Grenia Virginia.

Beberapa hari terakhir, hidupnya dipenuhi rapat, laporan, pengamanan perusahaan, rumah sakit, dan keputusan-keputusan yang tidak bisa ditunda. Dunia mengenalnya sebagai perempuan yang mampu berdiri tegak ketika orang-orang di sekelilingnya mulai kehilangan arah.

Namun malam itu, Grenia hanya ingin menjadi seorang anak.

Setelah memastikan urusan perusahaan berada dalam kendali Sudirman, ia memutuskan pulang sejenak ke rumah ibunya. Bukan untuk melarikan diri dari tanggung jawab, melainkan untuk mencari tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura kuat.

Sevgi, putranya, juga berada di sana.

Mobil yang membawa Grenia berhenti beberapa meter dari rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat ibunya tinggal. Pengamanan dilakukan secara tertutup. Hanya beberapa orang kepercayaan Sudirman yang mengetahui keberadaannya.

Begitu pintu kayu rumah itu terbuka, aroma teh melati dan masakan rumahan langsung menyambutnya.

Grenia baru melangkah beberapa meter ketika seorang perempuan berkerudung putih keluar dari ruang tengah.

"Ibu..."

Suara Grenia langsung pecah.

Ibu Rahayu tidak bertanya apa-apa.

Ia hanya membuka kedua tangannya.

Grenia berjalan cepat, kemudian menghambur ke dalam pelukan ibunya.

Semua pertahanan yang selama ini ia bangun runtuh seketika.

Tangisnya pecah.

Ia menangis seperti seorang anak kecil yang akhirnya menemukan tempat untuk meletakkan seluruh beban yang dipikulnya.

"Ibu..."

Ibu Rahayu mengusap punggung putrinya perlahan.

"Menangislah, Nduk."

Grenia menggeleng di bahu ibunya.

"Aku capek, Bu."

"Ibu tahu."

"Mas Teguh belum bangun."

"Ibu tahu."

"Perusahaan juga belum benar-benar aman."

"Ibu tahu."

Grenia menarik napas tersengal.

"Aku takut."

Ibu Rahayu memeluknya lebih erat.

"Takut itu bukan berarti kamu lemah."

Kalimat sederhana itu membuat Grenia kembali menangis.

Di luar rumah, Jakarta masih berlari dengan segala kebisingannya.

Tetapi di dalam rumah kecil itu, waktu seolah berhenti.

Tidak ada rapat.

Tidak ada saham.

Tidak ada perebutan kekuasaan.

Tidak ada orang yang menunggu keputusan dari seorang pemimpin.

Yang ada hanya seorang ibu dan anak perempuannya.

Beberapa saat kemudian, tangis Grenia mulai mereda.

Ibu Rahayu mengusap rambut putrinya.

"Sudah lebih lega?"

Grenia mengangguk kecil.

"Sedikit."

"Kalau begitu, duduklah."

Mereka berjalan menuju ruang tengah.

Namun baru beberapa langkah, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun berlari dari kamar.

"Ibu!"

Grenia langsung tersenyum.

"Sevgi."

Anak itu memeluk pinggang ibunya.

Grenia membungkuk dan memeluknya erat.

Untuk beberapa saat, ia hanya memejamkan mata.

Dua orang yang paling ia cintai sedang berada di hadapannya.

Dan justru karena itu, rasa rindunya kepada Teguh terasa semakin dalam.

Sevgi mendongak.

"Ibu nanti tidur di sini?"

"Mungkin."

"Besok juga?"

Grenia tersenyum.

"Kalau tidak ada urusan mendadak, Ibu di sini."

Sevgi mengangguk puas.

Ibu Rahayu memperhatikan putrinya dalam diam.

Ada sesuatu dalam wajah Grenia yang berbeda.

Bukan hanya kelelahan.

Ada kecemasan yang jauh lebih dalam.

Setelah Sevgi kembali bermain, Ibu Rahayu duduk di samping putrinya.

"Kamu mau cerita?"

Grenia terdiam.

Tangannya secara refleks menyentuh perutnya.

Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Ibu Rahayu.

"Kamu sedang menyimpan sesuatu."

Grenia menatap ibunya.

"Ibu..."

Ibu Rahayu tersenyum tipis.

"Seorang ibu tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang untuk tahu anaknya sedang membawa sesuatu."

Mata Grenia mulai berkaca-kaca.

Ia menarik napas.

"Bu..."

Suaranya mengecil.

"Aku hamil."

Ibu Rahayu terdiam.

Beberapa detik kemudian, senyum perlahan muncul di wajahnya.

"Alhamdulillah."

Grenia menundukkan kepala.

Air mata kembali jatuh.

"Aku bahagia, Bu."

"Tapi?"

Grenia menggigit bibir.

"Aku takut Mas Teguh tidak sempat mengetahuinya."

Ibu Rahayu menggenggam tangan putrinya.

"Jangan mendahului takdir."

Grenia mengangkat wajah.

"Selama dokter masih mengatakan dia berjuang, maka kamu juga harus berjuang."

Ibu Rahayu mengusap tangan Grenia.

"Anak itu bukan alasan untuk membuatmu takut."

Ia tersenyum.

"Anak itu adalah alasan supaya kamu tetap berdiri."

Grenia menatap ibunya lama.

Untuk pertama kalinya malam itu, dadanya terasa sedikit lebih lapang.

Namun di balik ketenangan rumah tersebut, masalah lain sedang bergerak.

Jauh dari sana, keluarga besar Wijaya belum benar-benar menyerah.

Dan kali ini, mereka tidak bergerak melalui ruang rapat.

Mereka mulai bergerak melalui jalur bisnis.

Melalui perusahaan-perusahaan pemasok.

Melalui buruh.

Melalui distribusi.

Dan melalui orang-orang yang selama ini menunggu kesempatan untuk mengguncang PT WIJAYA MANDIRI Group dari luar.

Grenia belum mengetahuinya.

Tetapi Ibu Rahayu seolah memahami satu hal.

Badai berikutnya mungkin akan lebih besar.

Karena itu, pagi nanti, ia ingin membawa putrinya menemui seseorang yang selama ini ia percaya mampu memberikan ketenangan ketika dunia terasa terlalu bising.

Seorang ulama sepuh.

Abah Yai Mus.


Pagi datang perlahan.


Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai rumah Ibu Rahayu, jatuh di lantai ruang tengah yang masih terasa sejuk setelah hujan malam.


Grenia sudah terbangun sejak sebelum azan Subuh.


Ia duduk sendirian di teras belakang dengan secangkir air hangat di kedua tangannya. Sesekali telapak tangannya menyentuh perut yang masih rata.


Ada kehidupan kecil di sana.


Rahasia yang membuat setiap langkahnya kini terasa memiliki arti berbeda.


Dari dalam rumah terdengar suara Ibu Rahayu memanggil.


"Grenia."


"Iya, Bu."


"Kamu sudah siap?"


Grenia menoleh.


Ibu Rahayu berdiri di ambang pintu dengan mukena yang baru saja dilepas.


"Kita jadi pergi?"


Grenia mengangguk.


"Jadi."


Ibu Rahayu tersenyum.


"Bagus."


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah.


Sudirman turun dari kursi depan.


Ia memeriksa keadaan sekitar sebelum berjalan mendekati mereka.


"Bu Grenia."


"Iya, Mas Dirman."


"Saya sudah memastikan jalurnya aman. Kita bisa berangkat sekarang."


Grenia mengangguk.


Sebelum masuk ke mobil, ia menoleh kepada Sevgi yang berdiri di depan pintu bersama seorang pengasuh.


"Sevgi, Ibu pergi sebentar."


"Ke mana?"


"Ibu menemani Nenek."


"Ke mana?"


Lihat selengkapnya