Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika kendaraan yang membawa Grenia meninggalkan halaman pondok pesantren.
Tasbih kayu zaitun masih berada di genggamannya.
Di sampingnya, Sudirman duduk diam sambil membaca laporan yang terus masuk ke tablet. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan, tetapi sorot matanya semakin serius.
Grenia memandang keluar jendela.
"Seberapa parah?"
Sudirman menurunkan tabletnya.
"Belum sampai melumpuhkan perusahaan, Bu. Tetapi Bramantya Mahesa tidak sedang melakukan gertakan."
Grenia menoleh.
"Jelaskan."
"Tiga pelabuhan utama yang biasa kita gunakan sudah mengalami hambatan distribusi. Beberapa perusahaan logistik yang selama ini menjadi mitra kita tiba-tiba membatalkan kontrak pengiriman."
"Karena tekanan Mahesa?"
"Indikasinya begitu."
Grenia terdiam.
Ia mengusap perlahan perutnya.
"Berapa lama persediaan kita bisa bertahan?"
"Sekitar dua minggu untuk proyek-proyek yang paling membutuhkan material."
"Dua minggu..."
"Jika tidak ada jalur alternatif."
Grenia kembali memandang jalan di depan.
"Berarti kita tidak punya waktu untuk menunggu."
Sudirman mengangguk.
"Itulah sebabnya saya sudah menyiapkan beberapa opsi."
"Jangan menyerang mereka."
Sudirman menatapnya.
"Saya tahu."
Grenia tersenyum tipis.
"Nasihat Abah Yai Mus."
"Ya."
"Kalau seseorang datang membawa kekuatan besar, jangan langsung melawannya dengan kekuatan yang sama."
Sudirman menutup tabletnya.
"Lalu kita menggunakan apa?"
Grenia menatapnya.
"Akarnya."
Sudirman terdiam beberapa detik.
"Maksud Ibu?"
"Orang seperti Bramantya tidak mungkin mengendalikan seluruh jalur distribusi sendirian. Dia pasti bergantung kepada jaringan."
Grenia mengangkat tasbih di tangannya.
"Cari siapa yang menghubungkan dia dengan perusahaan-perusahaan logistik itu."
Sudirman perlahan tersenyum.
"Jadi kita tidak memotong pohonnya."
"Kita cari akar yang membuatnya berdiri."
"Baik, Bu."
Ia segera kembali membuka tablet.
Jemarinya bergerak cepat.
Beberapa menit kemudian, layar menampilkan daftar perusahaan logistik, distributor, perusahaan pelayaran, dan pemegang saham yang memiliki hubungan dengan konsorsium Mahesa.
"Bu."
"Apa?"
"Ada sesuatu."
Sudirman memperbesar salah satu dokumen.
"Sebagian besar perusahaan yang mundur dari kerja sama dengan kita ternyata memiliki fasilitas pembiayaan dari satu bank investasi yang sama."
Grenia menatap layar.
"Bank yang sama?"
"Ya."
"Dan bank itu milik siapa?"
Sudirman menggeleng.
"Secara langsung bukan milik keluarga Mahesa."
"Secara tidak langsung?"
Sudirman menatapnya.
"Itu yang sedang saya cari."
Grenia mengangguk.
"Jangan menuduh sebelum punya bukti."
"Siap."
Mobil terus melaju.
Namun kali ini, suasana di dalam kendaraan tidak lagi dipenuhi kecemasan.
Ada arah.
Ada sasaran.
Dan ada sesuatu yang jauh lebih penting.
Mereka tidak akan melawan Bramantya dengan kemarahan.
Mereka akan membuatnya berhadapan dengan konsekuensi dari langkahnya sendiri.
Sore harinya, sebuah ruangan rapat kecil di kantor pusat PT WIJAYA MANDIRI Group kembali dipenuhi layar.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada komisaris.
Hanya Grenia, Sudirman, kepala bagian hukum, direktur keuangan, dan beberapa orang yang dipercaya menangani krisis.
Sudirman berdiri di depan layar.
"Ini jaringan distribusi Bramantya Mahesa."
Sebuah diagram muncul.
"Perusahaan Mahesa menjadi pusat. Dari sana jaringan menyebar ke perusahaan pelayaran, gudang, distributor material, dan penyedia jasa kepabeanan."
Grenia memperhatikan dengan saksama.
"Mana titik paling lemah?"
Sudirman menunjuk sebuah perusahaan di sisi kanan diagram.
"Ini."
"Namanya?"
"Arunika Trans Logistik."
"Kenapa?"
"Perusahaan ini menangani hampir tiga puluh persen pengiriman material untuk proyek Mahesa. Tetapi mereka juga masih memiliki kontrak lama dengan kita."
Grenia mengerutkan kening.
"Mereka membatalkan kontrak?"
"Tidak sepenuhnya."
Sudirman memperbesar dokumen.
"Mereka hanya menghentikan pengiriman sementara dengan alasan adanya risiko bisnis."
Grenia terdiam.
"Berarti mereka takut."
"Benar."
"Atau sedang dipaksa."
Sudirman mengangguk.
"Indikasinya cukup kuat."
Direktur hukum mengangkat suara.
"Kalau kita mau, kita bisa menggugat mereka."
Grenia menoleh.
"Belum."
Semua mata tertuju kepadanya.
"Kita tidak boleh membuat perusahaan yang sebenarnya korban menjadi musuh."
Ia kembali melihat diagram.
"Hubungi Arunika Trans Logistik."
"Untuk apa, Bu?"
"Tawarkan perlindungan hukum."
Ruangan hening.
Grenia melanjutkan.
"Jika mereka memang ditekan, kita bantu mereka menghadapi tekanan itu secara legal."
Sudirman tersenyum tipis.
"Dan kalau mereka menerima?"
"Kita mendapatkan kembali jalur distribusi."
"Kalau mereka menolak?"
Grenia menggeleng.
"Berarti kita cari jalur lain."
Ia berdiri.
"Saya tidak ingin memenangkan perang dengan menghancurkan orang-orang yang sebenarnya tidak pernah ingin berperang."
Sudirman menundukkan kepala.
"Baik, Bu."
Namun sebelum rapat berakhir, ponsel Sudirman bergetar.
Ia melihat layar.
Ekspresinya berubah.
"Bu Grenia."
"Apa?"
"Arunika Trans Logistik baru saja mengirimkan permintaan pertemuan."
Grenia menatapnya.
"Kapan?"
"Besok pagi."
"Di mana?"
Sudirman terdiam sesaat.
"Mereka meminta bertemu secara tertutup."
Grenia mengangguk.
"Setujui."
"Bu, saya sarankan kita—"
"Saya ikut."
Sudirman langsung menggeleng.
"Tidak."
Grenia menatapnya.
"Mas Dirman."
"Situasi ini belum aman. Kita belum tahu apakah permintaan pertemuan itu benar-benar dari pihak Arunika atau jebakan."
Grenia diam.
Sudirman melanjutkan.
"Saya akan datang bersama tim keamanan."
"Dan saya?"
"Ibu tetap di rumah sakit."
Grenia menghela napas.
"Saya tidak ingin hanya duduk menunggu."
"Saya tahu."
Sudirman menatapnya dengan tenang.
"Tetapi sekarang ada dua orang yang harus Ibu lindungi."
Tangannya menunjuk perlahan ke arah perut Grenia.
Perempuan itu terdiam.
Kalimat tersebut sederhana.
Namun cukup untuk membuatnya mengingat pesan ibunya.
Ia mengusap perutnya.
"Baik."
Sudirman mengangguk.
"Besok saya yang pergi."
Grenia menatapnya beberapa saat.
"Hati-hati, Mas Dirman."
"Saya akan kembali."
"Jangan hanya kembali membawa informasi."
Grenia tersenyum tipis.
"Pastikan Mas kembali dengan selamat."
Sudirman membalas senyum kecil.
"Insyaallah."
Malam itu, Grenia kembali ke rumah sakit.
Lampu ruang VVIP dibuat redup.
Teguh masih terbaring di ranjang.
Monitor di sampingnya berbunyi teratur.
Grenia duduk di kursi yang sama seperti malam sebelumnya.
Ia meletakkan tasbih pemberian Abah Yai Mus di atas meja.
Kemudian tangannya meraih tangan Teguh.
"Mas..."
Tidak ada jawaban.
"Aku tadi pulang ke rumah Ibu."
Grenia tersenyum kecil.
"Ibu menyuruhku jangan terlalu keras kepada diriku sendiri."
Ia terdiam sejenak.
"Katanya aku harus belajar bersandar."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Mungkin selama ini aku terlalu sibuk berdiri sampai lupa rasanya bersandar."
Jarinya mengusap punggung tangan Teguh.
"Mas..."
Suaranya semakin pelan.
"Aku tidak tahu kapan Mas akan bangun."
Ia menarik napas.
"Tapi aku akan tetap di sini."
Grenia menunduk.
"Besok Mas Dirman pergi menghadapi orang baru."
Ia tersenyum tipis.
"Namanya Bramantya Mahesa."
Untuk sesaat, ia terdiam.
"Kalau Mas mendengarku..."
Grenia menggenggam tangan Teguh sedikit lebih erat.
"Doakan kami."
Monitor tetap berbunyi.