Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika deretan truk pengangkut material berhenti di sepanjang jalur distribusi Jawa Tengah.
Mesin-mesin tronton masih menyala, tetapi tidak ada satu pun yang bergerak.
Di antara kabut tipis dan gerimis yang turun sejak subuh, ratusan kendaraan membentuk antrean panjang. Muatannya beragam—semen, baja konstruksi, kaca, kabel, dan material lain yang dibutuhkan untuk proyek-proyek besar PT WIJAYA MANDIRI Group.
Jalur itu merupakan salah satu rute penting yang menghubungkan pusat distribusi perusahaan dengan sejumlah proyek di Jawa Tengah.
Namun pagi itu, jalan tersebut bukan lagi milik mereka.
Beberapa alat berat diparkir melintang di badan jalan. Kendaraan pengangkut milik perusahaan lain berdiri membentuk lapisan penghalang di belakangnya.
Tidak ada keributan.
Tidak ada bentrokan.
Hanya sebuah pesan tertulis yang ditempelkan pada salah satu kendaraan terdepan.
SELURUH DISTRIBUSI WIJAYA MANDIRI DIHENTIKAN SAMPAI ADA KESEPAKATAN BARU.
Di tengah barikade itu berdiri seorang pria bertubuh besar.
Bramantya Mahesa.
Jaket gelap yang dikenakannya telah basah oleh gerimis. Kedua tangannya bersedekap di depan dada. Wajahnya keras, tetapi tidak menunjukkan kegembiraan melihat perusahaan lain kesulitan.
Ia hanya berdiri.
Menunggu.
Seorang anak buahnya mendekat.
"Pak Bramantya, beberapa sopir meminta izin lewat. Mereka bilang material ini harus tiba hari ini."
Bramantya tidak langsung menjawab.
"Jangan sakiti siapa pun."
"Baik, Pak."
"Dan jangan rusak kendaraan mereka."
Anak buahnya mengangguk.
Bramantya menatap deretan truk yang memanjang hingga tikungan.
"Saya hanya menghentikan barangnya. Bukan orangnya."
Itulah yang membuat Bramantya berbeda dari banyak orang yang bekerja untuk keluarga besar Wijaya.
Ia keras.
Ia bisa menjadi sangat keras.
Namun ia memiliki garis yang tidak ingin dilewatinya.
Sumpah yang diyakininya justru menjadi sumber kekuatan sekaligus kelemahannya.
Ia percaya keluarga besar Wijaya telah menjadi korban pengkhianatan Teguh Wijaya Kusuma.
Ia percaya ada perjanjian lama yang dilanggar.
Dan selama keyakinan itu belum runtuh, tidak ada jumlah uang atau tekanan hukum yang mampu membuatnya mundur.
Salah seorang pengawas lapangan datang membawa telepon.
"Pak, dari Jakarta ada permintaan negosiasi."
"Siapa?"
"Sudirman."
Tatapan Bramantya berubah sedikit.
"Tangan kanan Teguh?"
"Benar."
Bramantya mengulurkan tangan mengambil telepon.
Namun sebelum berbicara, ia memandang kembali jalan yang terkunci.
"Suruh dia bicara."
Sambungan tersambung.
Suara Sudirman terdengar tenang.
"Bramantya."
"Pak Sudirman."
"Kau tahu berapa banyak proyek yang akan terkena dampak kalau jalur ini terus ditutup?"
"Saya tahu."
"Dan kau tetap melakukannya?"
"Saya sudah mengambil keputusan."
Sudirman menarik napas pendek.
"Atas dasar apa?"
"Atas dasar janji."
Hening sesaat.
Bramantya melanjutkan.
"Selama Bu Grenia masih memegang kendali atas Wijaya Mandiri, saya tidak akan membuka jalur ini."
Sudirman tidak menjawab beberapa detik.
Kemudian suaranya terdengar lebih dingin.
"Kau sedang memperjuangkan sesuatu yang mungkin bahkan tidak kau pahami."
"Mungkin."
"Tetapi kau tetap yakin?"
"Sepenuhnya."
Sambungan terputus.
Bramantya memasukkan kembali telepon ke tangan anak buahnya.
"Pastikan tidak ada bentrokan."
"Siap."
Ia kembali menatap jalan.
Bagi Bramantya, ini bukan perang bisnis.
Setidaknya belum.
Ini adalah pelaksanaan sumpah.
Dan ia tidak menyadari bahwa sumpah itulah yang perlahan sedang digunakan orang lain untuk menyeretnya menuju perang yang jauh lebih besar.
Di Jakarta, suasana ruang kendali logistik PT WIJAYA MANDIRI Group berubah drastis.
Peta digital di layar besar memperlihatkan beberapa titik merah.
Satu jalur berhenti.
Kemudian jalur lain mulai mengalami keterlambatan.
Kepala Divisi Logistik berdiri di hadapan Sudirman dengan tablet di tangan.
"Pak, pengiriman untuk tiga proyek utama sudah tertunda."
"Berapa lama?"
"Kalau blokade bertahan sampai malam, dampaknya mulai terasa pada jadwal konstruksi."
"Kerugian?"
"Belum bisa dihitung secara pasti. Tapi setiap jam keterlambatan membuat biaya operasional meningkat."
Sudirman mengangguk.
Ia tidak menunjukkan kepanikan.
"Jangan kirim orang untuk menerobos."
Kepala Divisi Logistik terdiam.
"Pak?"
"Jangan ada bentrokan."
Ia menatap peta.
"Siapa yang berada di belakang Bramantya?"
"Informasi sementara mengarah kepada beberapa anggota keluarga besar Wijaya."
"Lastri?"
"Belum ada bukti langsung."
Sudirman menghela napas.
"Kalau begitu jangan sebut namanya dalam laporan resmi."
"Baik."
Sudirman mematikan layar tabletnya.
"Hubungi seluruh kepala proyek. Gunakan jalur alternatif. Jangan biarkan mereka tahu bahwa kita panik."
"Kalau jalur alternatif tidak cukup?"
"Kurangi pengiriman yang tidak mendesak. Prioritaskan material untuk proyek yang memiliki tenggat paling dekat."
Ia berhenti sejenak.
"Dan satu lagi."
"Ya, Pak?"
"Jangan sentuh perusahaan Mahesa."
Kepala divisi mengernyit.
"Padahal mereka yang memblokade kita."
"Saya tahu."
"Kenapa?"
Sudirman menatap layar yang kembali menampilkan wajah Bramantya dari rekaman kamera lapangan.
"Karena saya tidak ingin melawan orang yang salah."
Menjelang siang, laporan baru masuk.
Bukan kabar baik.
Salah satu perusahaan pemasok yang selama ini bekerja sama dengan Wijaya Mandiri menerima tekanan dari pihak ketiga.
Beberapa kontrak pengiriman mulai ditinjau ulang.
Media bisnis juga mulai memuat berita tentang keterlambatan proyek.
WIJAYA MANDIRI MENGALAMI GANGGUAN DISTRIBUSI.
SEJUMLAH PROYEK TERANCAM TERLAMBAT.
APAKAH KRISIS INTERNAL BELUM SELESAI?
Sudirman membaca semuanya tanpa mengubah ekspresi.
Kemudian pintu ruangannya terbuka.
Grenia Virginia masuk.
Ia mengenakan pakaian formal sederhana. Tidak ada kemewahan berlebihan pada penampilannya.
Namun ketenangan wajahnya membuat semua orang di ruangan itu otomatis berdiri.
"Silakan duduk."
Mereka kembali ke tempat masing-masing.
Grenia berjalan menuju layar.
"Jelaskan."
Sudirman menyerahkan laporan.
"Bramantya Mahesa memblokade salah satu jalur distribusi utama."
"Alasannya?"
"Dia menganggap perusahaan kita telah melakukan pelanggaran terhadap perjanjian lama antara keluarga Mahesa dan keluarga Wijaya."
Grenia membaca beberapa halaman.
"Perjanjian yang dia pegang?"
"Belum kita lihat dokumen aslinya."