Malam telah larut ketika lantai teratas kantor pusat PT WIJAYA MANDIRI Group masih menyala.
Di balik dinding kaca yang menghadap gemerlap Jakarta, beberapa layar monitor menampilkan peta distribusi perusahaan. Sejumlah titik merah tersebar di Jawa Tengah, menandai jalur yang mengalami gangguan akibat blokade Mahesa.
Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang berbicara dengan suara keras.
Sudirman berdiri di depan layar utama. Beberapa pengacara senior dan kepala divisi logistik duduk mengelilingi meja konferensi. Berkas-berkas terbuka di hadapan mereka, tetapi belum satu pun menawarkan jalan keluar yang benar-benar meyakinkan.
Grenia Virginia duduk di ujung meja.
Wajahnya tampak lelah.
Sejak Teguh terbaring koma, tidur dan istirahat bukan lagi sesuatu yang mudah ia dapatkan. Kini kehamilan yang baru diketahuinya membuat tubuhnya menuntut perhatian lebih besar, sementara persoalan perusahaan terus datang tanpa memberi kesempatan untuk bernapas.
Sudirman menatap layar.
"Jalur tengah masih tertutup."
Kepala Divisi Logistik mengangguk.
"Benar, Pak. Kami sudah mengalihkan sebagian pengiriman melalui jalur selatan, tetapi kapasitasnya terbatas."
"Berapa lama bisa bertahan?"
"Untuk kebutuhan proyek yang paling mendesak, mungkin dua sampai tiga hari."
Sudirman mengangguk pelan.
"Jangan paksa jalur yang diblokade."
Salah seorang pengacara membuka berkas.
"Kalau begitu kita bisa mengajukan gugatan terhadap pihak yang melakukan blokade."
Grenia mengangkat wajah.
"Atas dasar apa?"
Pengacara itu terdiam sesaat.
"Penghambatan distribusi, Bu."
"Apakah kita memiliki bukti bahwa Bramantya melakukan pelanggaran hukum secara langsung?"
Ruangan kembali sunyi.
Pengacara itu menunduk melihat berkas.
"Belum cukup kuat, Bu."
Grenia mengangguk.
"Kalau belum cukup kuat, jangan gunakan hukum hanya untuk menunjukkan bahwa kita sedang marah."
Sudirman menoleh kepadanya.
Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu yang membuatnya memahami arah pikirannya.
Grenia berdiri.
"Mas Dirman."
"Ya, Bu."
"Semalam kau sudah membawa dokumen kepada Bramantya."
"Benar."
"Dan dia menolaknya."
"Benar."
Grenia berjalan perlahan mendekati layar.
"Karena menurutnya dokumen itu bisa dibuat oleh siapa saja."
Sudirman diam.
Grenia menatap titik merah di peta.
"Kalau begitu, jangan beri dia dokumen lagi."
Beberapa orang saling berpandangan.
Grenia melanjutkan,
"Berikan dia sumbernya."
Sudirman perlahan mengangkat wajah.
"Orang yang membuat perjanjian itu?"
"Atau orang yang mengetahui bagaimana perjanjian tersebut digunakan."
Sudirman mulai memahami.
"Kita cari saksi asli."
"Dan arsip aslinya."
"Jika ada."
Grenia menatapnya.
"Jangan berangkat dengan keyakinan bahwa kita pasti benar, Mas Dirman."
Sudirman tersenyum tipis.
"Seperti yang Bu Grenia katakan kemarin."
"Ya."
Grenia kembali duduk.
"Kalau ternyata keluarga kita memang pernah melakukan kesalahan, saya ingin tahu."
Sudirman mengangguk.
"Baik, Bu."
Ketegangan di ruangan itu belum sepenuhnya hilang.
Namun sebelum pembicaraan berlanjut—
Tok. Tok. Tok.
Semua kepala menoleh.
Sudirman refleks memperhatikan pintu.
"Siapa?"
Pintu terbuka.
Lima perempuan berdiri di ambang pintu.
Mutia, Aini, Imah, Ami, dan Ratna.
Mereka mengenakan pakaian sederhana setelah menutup Nail Art Salon di Kemang beberapa jam sebelumnya. Dua di antara mereka membawa rantang makanan, sementara Ratna membawa sebuah tas kecil berisi beberapa perlengkapan aromaterapi.
Aini tersenyum malu.
"Bu Grenia... maaf datang malam-malam."
Wajah Grenia langsung berubah.
"Mutia?"
Mutia tersenyum.
"Kami kangen, Mbak Gre."
Satu panggilan sederhana itu membuat dada Grenia terasa sesak.
Sudah lama ia tidak mendengarnya.
"Boleh kami masuk?"
Grenia tersenyum.