Malam merayap semakin dingin di bawah hujan lebat yang membasahi kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Di balik pagar sebuah rumah bergaya kolonial, lampu-lampu taman masih menyala. Rumah itu milik Hendro, salah satu pengacara yang selama bertahun-tahun dipercaya menangani kepentingan hukum keluarga besar Wijaya.
Malam itu, Hendro duduk sendirian di ruang kerjanya.
Sebuah laptop terbuka di hadapannya. Beberapa lembar laporan transaksi berserakan di atas meja. Di layar, angka-angka transfer dari beberapa rekening perusahaan muncul satu demi satu.
Hendro tersenyum.
Uang suap yang baru masuk membuat pikirannya jauh lebih ringan.
Ia mengambil gelas, meneguk sedikit minuman, lalu bersandar di kursinya.
Dalam keyakinannya, rencana Tante Lastri berjalan sempurna.
Bramantya Mahesa masih memblokade jalur distribusi Wijaya Mandiri.
Dan selama pria itu percaya bahwa keluarga besar Wijaya adalah pihak yang pernah menyelamatkan kehormatan keluarganya, tidak akan mudah bagi siapa pun untuk menggoyahkan sumpahnya.
Hendro tidak menyadari bahwa malam itu, justru dirinya yang mulai kehilangan tempat untuk bersembunyi.
Di luar pagar, beberapa kendaraan berhenti di lokasi yang tidak menarik perhatian.
Tidak ada lampu sorot.
Tidak ada sirene.
Tidak ada tindakan yang membuat kawasan itu panik.
Sudirman turun dari kendaraan paling depan.
Ia mengenakan jas gelap sederhana, bukan pakaian taktis. Beberapa orang dari tim hukum dan keamanan internal berdiri tidak jauh darinya.
Sudirman memandang rumah tersebut.
"Pastikan semuanya sesuai prosedur."
"Baik, Pak."
"Kita datang untuk mengambil bukti dan meminta keterangan. Tidak ada kekerasan."
"Siap."
Sudirman mengangkat wajah ke arah rumah.
"Dan jangan ada yang bertindak di luar perintah."
Mereka bergerak.
Beberapa menit kemudian, bel rumah Hendro berbunyi.
Hendro mengerutkan kening.
"Siapa malam-malam begini?"
Seorang penjaga membuka pintu.
Beberapa orang berdiri di depan.
Sudirman berada paling depan.
Hendro yang melihatnya dari kejauhan langsung bangkit.
Wajahnya berubah.
"Sud... Sudirman?"
Sudirman menunjukkan identitas dan dokumen yang dibawanya.
"Kami datang untuk meminta pemeriksaan dan penyerahan dokumen yang berkaitan dengan pengelolaan aset keluarga Mahesa sepuluh tahun lalu."
Hendro tertawa gugup.
"Ini rumah pribadi."
"Saya tahu."
"Kalau begitu Anda tidak bisa masuk begitu saja."
Sudirman menatapnya tenang.
"Saya juga tidak datang tanpa dasar."
Ia menyerahkan salinan dokumen hukum kepada Hendro.
Senyum pria itu perlahan menghilang.
"Ini..."
"Perintah pemeriksaan dan permintaan pengamanan dokumen terkait perkara yang sedang ditelusuri."
Hendro membaca cepat.
Tangannya mulai berkeringat.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
"Saya."
"Atas nama siapa?"
Sudirman menatapnya lurus.
"Atas nama kepentingan hukum perusahaan dan pihak-pihak yang dirugikan."
Hendro mundur selangkah.
Namun kali ini ia tidak memiliki banyak ruang untuk menghindar.
"Silakan periksa."
Sudirman masuk bersama timnya.
Tidak ada suara tembakan.
Tidak ada perkelahian.
Tidak ada keributan.
Hanya langkah kaki dan suara hujan yang memukul kaca jendela.
Mereka menuju ruang kerja Hendro.
Di sana, Sudirman berhenti di depan sebuah brankas besar yang tertanam di dinding.
Tatapannya berubah serius.
"Ini yang kita cari."
Hendro menelan ludah.
"Itu hanya dokumen pribadi."
"Kalau begitu Anda tidak keberatan jika diperiksa."
Hendro tidak menjawab.
Tim hukum mulai melakukan pemeriksaan sesuai prosedur.
Beberapa saat kemudian, brankas terbuka.
Di dalamnya terdapat sejumlah map tua yang tersusun rapi.
Sudirman mengambil salah satunya.
Stempel lama.
Tanggal sepuluh tahun lalu.
Nama perusahaan keluarga Mahesa.
Dan sejumlah dokumen pengalihan aset.
Ia membukanya perlahan.
Wajahnya mengeras.
"Jadi benar."
Hendro menundukkan wajah.
Sudirman menatapnya.
"Siapa yang membuat semua ini?"
Hendro diam.
"Jangan jawab sekarang kalau belum siap."
Sudirman memasukkan dokumen ke dalam map bukti.
"Tapi besok kau akan menjawabnya di hadapan orang yang selama ini percaya kepada kebohongan ini."
Hendro mengangkat wajah.
"Bramantya?"
Sudirman mengangguk.
"Ya."
Hendro mulai gemetar.
"Pak Sudirman..."
"Ya?"
"Saya hanya mengikuti perintah."
"Perintah siapa?"
Hendro terdiam.