Hujan turun deras di sepanjang jalan tol Trans-Jawa. Cahaya lampu kendaraan memantul di atas aspal yang basah, sementara tiga SUV hitam bergerak dalam jarak yang teratur menuju Jawa Tengah.
Jam digital di dasbor menunjukkan pukul tiga dini hari.
Di dalam kendaraan paling depan, Sudirman duduk tegak dengan sebuah tablet di tangannya. Bukan peta satelit atau perangkat peretasan yang memenuhi layarnya, melainkan laporan perjalanan, kondisi jalur, dan beberapa catatan dari tim keamanan.
Di belakangnya, Hendro duduk dengan kedua tangan terikat di depan tubuh. Mulutnya tidak lagi disumbat.
Ia masih pucat.
Namun ketakutannya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Kegelisahan seorang pria yang mulai menyadari bahwa orang yang selama bertahun-tahun melindunginya mungkin tidak akan mampu melindunginya lagi.
Sudirman menoleh.
"Masih ingin bicara?"
Hendro menelan ludah.
"Saya sudah bilang semuanya."
"Belum."
Hendro terdiam.
"Saya hanya mengatakan apa yang Anda ingin dengar."
"Justru itu masalahnya."
Sudirman kembali menatap jalan di depan.
"Saya tidak membutuhkan pengakuan yang lahir karena ketakutan. Saya membutuhkan keterangan yang bisa dipertanggungjawabkan ketika semuanya masuk ke meja hukum."
Hendro menatapnya.
"Kalau saya bicara... saya bisa selamat?"
"Saya tidak bisa menjanjikan itu."
Jawaban tersebut membuat Hendro terdiam lebih lama.
Sudirman melanjutkan dengan suara tenang.
"Tapi kalau kau berkata benar, ada perbedaan antara orang yang terlibat dalam sebuah kejahatan dan orang yang menjadi pelaku utamanya."
Hendro menundukkan wajah.
Untuk pertama kalinya sejak dibawa meninggalkan Jakarta, ia tidak lagi melihat Sudirman hanya sebagai ancaman.
Ia melihat sebuah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya adalah berhenti berbohong.
"Saya punya salinan."
Sudirman menoleh.
"Salinan apa?"
"Dokumen yang tidak pernah dimasukkan ke arsip keluarga besar Wijaya."
Sudirman tidak langsung menjawab.
"Di mana?"
"Di rumah saya."
"Rumah yang tadi?"
Hendro mengangguk.
"Di brankas?"
"Brankas itu hanya menyimpan dokumen utama."
Hendro menarik napas.
"Salinan lainnya ada di tempat berbeda."
Sudirman mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena saya tahu suatu hari semua ini bisa terbongkar."
Hening memenuhi kabin.
"Jadi selama sepuluh tahun kau sudah menyiapkan jalan keluar?"
Hendro menggeleng.
"Bukan jalan keluar."
Ia menatap lantai.
"Jalan untuk membuktikan bahwa saya bukan orang yang mengambil keputusan."
Sudirman menatapnya beberapa detik.
"Pagi ini kau akan menjelaskan semuanya."
Hendro mengangguk.
"Di depan Bramantya?"
"Di depan Bramantya."
"Dan kalau dia menyerang saya?"
"Kita akan pastikan pertemuan berlangsung dengan pengamanan yang cukup."
Hendro menghela napas.
"Dia membenci keluarga saya."
"Dia membenci orang-orang yang menurutnya menghancurkan keluarganya."
Sudirman kembali melihat jalan.
"Belum tentu dia membencimu."
Hendro tertawa kecil tanpa humor.
"Setelah sepuluh tahun?"
Sudirman tidak menjawab.
Di luar, hujan semakin deras.
Tiga kendaraan itu terus bergerak menuju timur.
Namun beberapa kilometer di belakang mereka, sebuah mobil sedan hitam mulai mengikuti dari kejauhan.
Salah seorang pengawal yang berada di kendaraan kedua menerima laporan melalui radio.
"Pak Sudirman."
"Ya?"
"Ada kendaraan yang mengikuti kita sejak pintu tol terakhir."
Sudirman melihat kaca spion.
"Jarak?"
"Kurang lebih dua kilometer."
"Jangan lakukan apa-apa."