Fajar perlahan membuka langit Temanggung.
Kabut yang sejak dini hari menggantung di antara perbukitan mulai menipis. Jalan raya yang semalaman diguyur hujan masih basah, sementara ratusan truk pengangkut material berdiri dalam antrean panjang di belakang barikade Mahesa Klan.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berusaha menerobos.
Para sopir hanya menunggu.
Di sisi lain jalan, Bramantya Mahesa berdiri dengan kedua tangan bersedekap. Jaketnya masih lembap oleh sisa hujan. Wajahnya keras, tetapi malam panjang yang hampir tanpa tidur telah meninggalkan garis lelah di sekitar matanya.
Ia masih memikirkan dokumen yang diberikan Sudirman kepadanya.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia tidak yakin pada cerita yang selama ini menjadi dasar sumpahnya.
Seorang anak buah mendekat.
"Pak."
Bramantya menoleh.
"Ada tiga kendaraan masuk dari arah timur."
"Siapa?"
"Belum tahu."
Bramantya mengangkat pandangan.
Beberapa detik kemudian, tiga SUV berwarna gelap muncul dari balik kabut.
Kendaraan itu berhenti beberapa puluh meter dari barikade.
Pintu kendaraan pertama terbuka.
Sudirman turun.
Ia tidak membawa senjata di tangannya. Tidak ada pasukan yang berlari. Tidak ada teriakan.
Hanya beberapa pengawal yang turun dan berdiri menjaga jarak.
Kemudian pintu kendaraan kedua terbuka.
Seorang pria turun dengan langkah ragu.
Bramantya langsung mengenalinya.
Hendro.
Wajah Bramantya berubah.
Tangannya perlahan mengepal.
"Dia..."
Sudirman berjalan beberapa langkah ke depan.
"Bramantya."
Pria besar itu tidak menjawab.
Tatapannya tetap tertuju kepada Hendro.
"Kenapa dia ada di sini?"
Sudirman berhenti.
"Karena dia tahu sesuatu yang selama ini tidak kau ketahui."
Bramantya tertawa pendek.
Tidak ada kegembiraan di dalamnya.
"Kau pikir setelah semalam menunjukkan beberapa dokumen, saya akan langsung percaya?"
"Saya tidak meminta kau percaya kepada saya."
Sudirman menunjuk Hendro.
"Saya meminta kau mendengarkan dia."
Hendro menelan ludah.
Puluhan pasang mata kini tertuju kepadanya.
Ia tampak ingin mundur.
Namun Sudirman tidak menyentuhnya.
Tidak mengancamnya.
Ia hanya berkata pelan.
"Mulai sekarang, keputusan ada di tanganmu."
Hendro menatap Bramantya.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian ia melangkah maju.
"Bram..."
Suara itu hampir tidak terdengar.
Bramantya tidak bergerak.
"Katakan."
Hendro menarik napas panjang.
"Saya datang untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya saya katakan sepuluh tahun lalu."
Bramantya menatapnya tajam.
"Jangan bermain-main."
"Saya tidak bermain-main."
Hendro membuka map yang dibawanya.
"Saya memang bekerja untuk keluarga besar Wijaya."
Beberapa anak buah Bramantya mulai bergerak.
Bramantya mengangkat tangan.
"Biarkan dia bicara."
Hendro mengangguk.
"Sepuluh tahun lalu, saya menangani sejumlah dokumen hukum terkait aset keluarga Mahesa."
Bramantya mengepalkan rahang.
"Dan?"
"Saya tahu ada dokumen yang tidak sesuai dengan kenyataan."
Hening.
"Apa maksudmu?"
Hendro menundukkan wajah.
"Tanda tangan yang digunakan untuk beberapa dokumen penyitaan bukan berasal dari Teguh Wijaya Kusuma."
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Bramantya melangkah maju.
"Ulangi."
Hendro mengangkat wajah.
"Tanda tangan itu dipalsukan."
Beberapa anggota Mahesa Klan saling berpandangan.
Bramantya tetap diam.
Seolah tubuhnya menolak menerima kalimat tersebut.
"Siapa yang memerintahkan?"
Hendro tidak langsung menjawab.
Bramantya mendekat.
"Siapa?"
Hendro menarik napas.
"Saya belum bisa mengatakan semuanya tanpa menunjukkan dokumennya."
Sudirman membuka tas dan mengeluarkan beberapa lembar arsip.
"Ini salinan dokumen yang kami temukan."
Hendro mengangguk.