Langkah kaki Grenia Virginia terasa begitu berat ketika ia memasuki suite sebuah hotel bintang lima di Temanggung. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan menyisakan kesunyian yang menenangkan, tubuhnya seolah kehilangan seluruh tenaga yang sejak tadi menopangnya.
Konflik dengan Bramantya Mahesa akhirnya mereda. Namun kemenangan itu harus dibayar dengan kelelahan fisik dan batin yang luar biasa.
Grenia berjalan limbung menuju ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Di bawah selimut tebal, kedua tangannya refleks mendekap perutnya.
Rasa mual yang samar akibat kehamilan yang masih sangat muda, ditambah tekanan selama beberapa hari terakhir, membuat kepalanya terasa berat.
Selama tiga hari, ia menghadapi persoalan perusahaan, blokade distribusi, tekanan dari keluarga besar Wijaya, dan ketegangan yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi konflik terbuka.
Kini, untuk beberapa jam, ia hanya ingin berhenti.
Sudirman telah mengatur waktu istirahat sebelum mereka kembali ke Jakarta.
Grenia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jakarta, ia membiarkan dirinya benar-benar beristirahat.
Tiga jam berlalu.
Sore mulai turun ketika pesawat privat milik Wijaya Mandiri membawa Grenia kembali menuju Jakarta.
Begitu pesawat mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Grenia tidak langsung menuju kantor pusat. Kendaraan SUV yang menjemputnya membawa perempuan itu terlebih dahulu ke gedung perusahaan untuk mengambil Sudirman beserta sejumlah dokumen penting.
Pintu mobil terbuka.
Sudirman masuk dan duduk di kursi depan.
"Bu."
Grenia menyandarkan kepala pada bantalan kursi. Wajahnya masih terlihat lelah. Jemarinya memutar tasbih kayu zaitun pemberian Abah Yai Mus.
"Bramantya dan pasukannya sudah bergerak menuju Jakarta?" tanyanya.
"Sudah, Bu. Mereka menggunakan jalur darat. Untuk sementara, sebagian armada Mahesa juga membantu mengamankan jalur distribusi kita."
Grenia mengangguk pelan.
"Bagaimana kondisi kantor?"
"Jajaran direksi yang tersisa menunggu arahan. Mereka juga meminta rapat koordinasi lanjutan."
Grenia memejamkan mata sesaat.
"Mas Dirman..."
"Ya, Bu?"
"Hari ini saya serahkan urusan operasional perusahaan kepada kamu."
Sudirman terdiam.
"Untuk sementara, saya ingin beristirahat."
"Tentu, Bu."
"Gunakan seluruh kewenangan yang memang saya miliki secara sah. Amankan perusahaan, koordinasikan dengan tim hukum, dan pastikan proses terhadap para pengkhianat berjalan melalui jalur yang benar."
Sudirman mengangguk.
"Baik."
Grenia menatap punggungnya melalui cermin tengah.
"Jangan jadikan Bramantya sebagai alat."
Sudirman menoleh sedikit.
"Bu?"
"Dia baru saja mengetahui bahwa selama bertahun-tahun dirinya dimanfaatkan. Jangan biarkan kemarahan barunya membuat kita melakukan kesalahan yang sama."
Sudirman tersenyum tipis.
"Saya mengerti."
Grenia kembali menyandarkan kepala.
"Dan satu lagi."
"Ya?"
"Jangan ambil keputusan besar hanya karena ingin membalas."
Sudirman terdiam sejenak.
"Baik, Bu."
Kepercayaan itu terasa lebih berat daripada sebuah perintah.
Bukan karena Grenia meminta terlalu banyak.
Justru karena ia memberikan kewenangan tanpa kehilangan kendali atas prinsip yang selama ini dijaganya.