Malam telah larut ketika keheningan di ruang ICU isolasi VVIP Rumah Sakit Internasional Jakarta terasa berbeda dari biasanya.
Udara di dalam ruangan mendadak menjadi sejuk. Samar-samar, aroma bunga melati dan gaharu memenuhi udara, entah dari mana asalnya.
Grenia Virginia yang sejak tadi duduk bersandar di kursi samping ranjang Teguh Wijaya Kusuma tiba-tiba merasakan kantuk yang luar biasa berat. Kelopak matanya seolah ditarik oleh kekuatan tak kasatmata.
Ia mencoba bertahan.
Namun beberapa detik kemudian, matanya terpejam.
Kesadarannya perlahan tenggelam.
Ketika membuka mata kembali, Grenia tidak lagi berada di ruang ICU.
Ia berdiri di sebuah alam yang sunyi sekaligus megah.
Langit berwarna keemasan terbentang luas. Kabut putih bergerak perlahan di antara pilar-pilar batu purba yang menjulang tinggi. Tidak ada suara mesin, tidak ada suara manusia. Hanya ketenangan yang terasa begitu dalam.
Dari balik kabut, dua sosok perlahan muncul.
Seorang perempuan dengan pakaian kebesaran berhiaskan emas berdiri dengan wajah teduh dan penuh wibawa.
Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan sorot mata tajam dan aura kepemimpinan yang kuat.
Grenia segera mengenali keduanya dari berbagai kisah yang pernah didengarnya.
Tribuana Tunggadewi.
Dan Mahapatih Gajah Mada.
Grenia langsung berlutut.
"Hamba menghadap dengan takzim, Eyang Ratu... Sang Mahapatih."
Perempuan itu tersenyum.
"Bangkitlah, cucuku, Grenia."
Suara tersebut terdengar lembut, tetapi menggema hingga ke dalam batinnya.
"Engkau telah melewati badai yang tidak ringan. Engkau berdiri ketika orang lain mungkin memilih menyerah. Engkau menjaga rumah tanggamu, mempertahankan amanah yang dipercayakan kepadamu, tetapi tidak kehilangan welas asih."
Grenia perlahan bangkit.
"Karena itu, malam ini engkau menerima sebuah wahyu."
Mahapatih Gajah Mada melangkah maju.
"Namun ingatlah, wahyu bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi daripada manusia lain."
Grenia menundukkan kepala.
"Baik, Eyang."
Tribuana Tunggadewi mengangkat tangan.
"Tiga hal harus kau tanamkan dalam dirimu."
Grenia mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Pertama, pahamilah Cakra Manggilingan. Kehidupan selalu berputar. Kesedihan tidak akan selamanya tinggal. Kejayaan pun tidak akan selamanya berada di tangan manusia."
Pandangan sang Ratu menjadi semakin dalam.
"Suamimu sedang melewati masa gelap. Jangan menganggapnya sebagai akhir. Jadikan masa itu sebagai ujian bagi keteguhanmu."
Grenia mengangguk perlahan.
Mahapatih Gajah Mada melanjutkan.
"Kedua, Sifat Kautaman."
Suaranya berat, tetapi tidak mengandung ancaman.
"Engkau boleh tegas terhadap kebatilan. Engkau boleh berdiri melawan mereka yang mengkhianati amanah. Tetapi jangan biarkan kekuasaan mengubah hatimu menjadi keras."
Ia menatap Grenia.
"Pemimpin yang baik bukanlah orang yang paling ditakuti. Pemimpin yang baik adalah orang yang mampu membuat orang lain merasa terlindungi."
Grenia teringat Mutia, Aini, Imah, Ami, dan Ratna.
Wajahnya melunak.
"Dan yang ketiga," ujar Tribuana Tunggadewi.
Sang Ratu menatap langit keemasan di atas mereka.
"Yang paling utama adalah kepatuhan kepada Sang Pencipta."
Grenia menahan napas.
"Takhta, harta, ilmu, bahkan kehidupan sendiri hanyalah titipan. Jangan pernah menganggap kekuatan yang diberikan kepadamu sebagai milikmu."
Sang Ratu menatap tepat ke matanya.
"Semua terjadi atas kersane Gusti Allah."