Ruang ICU isolasi VVIP masih diselimuti keheningan ketika cahaya keemasan dari keris pusaka Majapahit memantul lembut di antara jemari Grenia Virginia.
Setelah menerima Wahyu Ratu, Grenia tahu satu hal: pusaka itu bukanlah kekuatan miliknya. Ia hanyalah amanah.
Grenia berdiri di sisi ranjang Teguh Wijaya Kusuma. Wajahnya tenang, meski jantungnya berdegup semakin cepat.
Ia mengusap perutnya yang masih rata.
"Bismillah..."
Butiran tasbih kayu zaitun pemberian Abah Yai Mus bergerak perlahan di tangan kirinya.
"Kersane Gusti Allah... jika memang sudah waktunya, kembalikan sukmamu kepada ragamu, Mas."
Grenia menutup mata sejenak.
Ia tidak memohon dengan kesombongan seorang Prameswari.
Ia memohon sebagai seorang istri.
Kemudian, dengan kedua tangan yang sedikit gemetar, ia mengangkat keris tersebut dan meletakkannya perlahan di atas dada Teguh.
Untuk beberapa detik, tidak terjadi apa-apa.
Hanya suara monitor medis yang terdengar teratur.
Tit...
Tit...
Tit...
Lalu bilah keris itu mulai memancarkan cahaya.
Wusss...
Cahaya keemasan mengalir dari ujung bilah hingga seluruh permukaannya. Dalam hitungan detik, bentuk keris tersebut perlahan menghilang, berubah menjadi cahaya yang lembut dan kemudian meresap ke dalam dada Teguh.
Grenia menahan napas.
Cahaya itu tidak meledak.
Tidak menghancurkan apa pun.
Ia bergerak seperti aliran hangat yang perlahan menyebar ke seluruh tubuh Teguh.
Di dalam raga pria itu, sesuatu yang selama ini tertahan mulai bergerak.
Sisa energi hitam yang ditinggalkan Sende Kala perlahan terdesak oleh cahaya keemasan tersebut. Aliran energi yang selama sebulan seolah membelenggu kesadaran Teguh mulai pecah.
Tubuh Teguh bergerak.
Sangat kecil.
Jemarinya berkedut.
Grenia tersentak.
"Mas?"
Tidak ada jawaban.
Kemudian dada Teguh naik sedikit lebih dalam.
Monitor berubah.
Tit... tit... tit...
Irama jantungnya meningkat.
Grenia menatap layar dengan mata berkaca-kaca.
Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun—
Bunyi alarm terdengar dari luar ruang ICU.
Tet... tet... tet...
Pintu kaca terbuka.
Dokter kepala bersama beberapa perawat segera masuk.
"Nyai, mohon mundur sebentar."
Grenia mundur beberapa langkah.
Dokter langsung memeriksa monitor, pupil mata, tekanan darah, dan respons tubuh Teguh.
"Ada perubahan aktivitas otak."
Salah seorang perawat menatap layar.
"Dok, respons neurologisnya meningkat."
Dokter terdiam.
Ia kembali memeriksa Teguh.
"Terus pantau."
Sudirman yang sejak tadi berjaga di luar ikut masuk.
Wajahnya tegang.
"Bagaimana kondisinya?"
Dokter belum sempat menjawab.
Jemari Teguh kembali bergerak.
Kali ini lebih jelas.
Kemudian kelopak matanya bergetar.
Grenia menutup mulut dengan tangan.
"Mas..."
Kelopak mata itu perlahan terangkat.
Tidak langsung terbuka sempurna.
Sedikit demi sedikit.
Hingga akhirnya sepasang mata Teguh benar-benar terbuka.
Tatapannya masih kosong.
Napasnya berat di balik masker oksigen.
Dokter dan para perawat membeku selama beberapa detik.
Teguh berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian pandangannya bergerak perlahan mengelilingi ruangan.
Hingga akhirnya berhenti pada satu wajah.
Grenia.
Mata perempuan itu telah dipenuhi air mata.
"Mas..."
Suara Grenia nyaris tidak terdengar.
Teguh menatapnya cukup lama.
Seolah sedang berusaha mengingat sesuatu yang sangat jauh.
Grenia mendekat setelah mendapat isyarat dari dokter.
"Aku di sini."
Teguh mencoba menggerakkan bibirnya.
Tidak ada suara yang keluar.
Grenia menggenggam tangannya.
Hangat.
Untuk pertama kalinya setelah satu bulan, jemari itu benar-benar membalas genggamannya.
Air mata Grenia jatuh.
"Mas Teguh..."
Teguh mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa.
Bibirnya bergerak pelan.
"G... Gre..."
Grenia langsung terisak.
Ia menundukkan kepala dan mencium tangan suaminya.
"Iya. Aku di sini."
Teguh memejamkan mata sebentar.
Bukan karena kembali kehilangan kesadaran.
Melainkan karena tubuhnya belum cukup kuat untuk menahan rasa lelah yang begitu besar.
Dokter segera memeriksa kondisinya kembali.
"Jangan terlalu banyak bicara. Tubuhnya baru saja melewati perubahan besar."
Grenia mengangguk.
Ia tidak melepaskan tangan Teguh.