PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #61

DETAK PERTAMA DI BALIK TAKHTA

Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.

Grenia masih menggenggam tangan suaminya. Jemarinya merasakan kehangatan yang sejak hampir tiga bulan terakhir hanya bisa ia bayangkan melalui doa-doa panjang di samping ranjang ICU.

Kini tangan itu benar-benar menggenggamnya kembali.

Teguh membuka mata perlahan.

Pandangan pria itu masih tampak berat. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih setelah hampir tiga bulan terbaring dalam keadaan koma, tetapi sorot matanya telah berubah. Kesadaran yang sempat hilang begitu lama kini kembali utuh sedikit demi sedikit.

Ia menatap langit-langit ruangan.

Kemudian menoleh kepada istrinya.

"Gre."

"Iya, Mas."

"Sudah pagi?"

Grenia tersenyum kecil.

"Sudah."

Teguh menarik napas panjang.

"Aku merasa seperti baru tidur semalam."

Grenia menundukkan wajah.

"Padahal hampir tiga bulan."

Teguh terdiam.

Hampir tiga bulan.

Angka itu kembali bergema di dalam pikirannya.

Ia menggerakkan kepalanya sedikit, berusaha memahami keadaan tubuhnya sendiri. Tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk seperti yang ia rasakan sebelum kehilangan kesadaran. Tidak ada tekanan energi hitam yang selama ini seperti mengikat setiap bagian tubuhnya.

Namun sesuatu masih terasa berbeda.

Sangat berbeda.

Teguh mengangkat tangan kanannya.

Jemarinya bergerak perlahan.

Ia memperhatikan telapak tangannya sendiri.

"Aji Tugu Manik..."

Suaranya sangat pelan.

Grenia langsung memperhatikannya.

"Apa yang kamu rasakan?"

Teguh menghela napas.

"Berbeda."

Ia menutup telapak tangannya.

"Dulu kekuatan itu seperti berada di dalam tubuhku."

Ia berhenti.

"Sekarang rasanya seperti sudah menyatu."

Grenia teringat kembali pada keris pusaka Majapahit yang telah berubah menjadi cahaya dan masuk ke dalam tubuh suaminya.

Namun ia tidak langsung menceritakannya.

Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu.

Ia hanya tahu, Teguh baru saja kembali dari perjalanan panjang antara hidup dan kematian.

Tidak semua hal harus diceritakan dalam satu pagi.

Teguh menatap istrinya.

"Kamu yang membangunkanku?"

Grenia terdiam.

"Allah yang mengizinkan kamu kembali."

Teguh tersenyum tipis.

Jawaban itu sangat Grerinda.

Tidak pernah mengambil kemuliaan untuk dirinya sendiri.

Tidak pernah menganggap kekuatan yang dimilikinya sebagai milik pribadi.

Selalu ada satu nama yang ia tempatkan di atas segala sesuatu.

Gusti Allah.

Teguh mengusap punggung tangan istrinya.

"Selama aku tidak sadar..."

"Ya?"

"Apa yang terjadi?"

Pertanyaan sederhana itu membuat senyum di wajah Grerinda perlahan menghilang.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ia tahu, cepat atau lambat, Teguh harus mengetahui semuanya.

Namun sebelum Grerinda menjawab, terdengar ketukan pelan dari balik pintu kaca.

Sudirman berdiri di sana.

Ia tidak langsung masuk.

Tatapannya meminta izin.

Grenia menoleh kepada Teguh.

Teguh mengangguk kecil.

"Masuk."

Pintu terbuka.

Sudirman melangkah masuk dengan tenang.

Untuk pertama kalinya setelah hampir tiga bulan, ia berdiri di hadapan sahabat sekaligus atasannya yang telah kembali sadar.

Namun Sudirman tidak langsung membahas pekerjaan.

Ia hanya berdiri beberapa langkah dari ranjang.

"Gusti."

Teguh menatapnya.

"Dirman."

Suara Teguh masih serak, tetapi karakter tegasnya mulai kembali.

Sudirman tersenyum tipis.

"Selamat kembali."

Teguh mengangguk.

"Terima kasih."

Hening sesaat.

Kemudian Teguh bertanya.

"Berapa banyak?"

Sudirman mengerutkan kening.

"Berapa banyak apa, Gusti?"

"Masalah."

Lihat selengkapnya