PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #62

TITAH SANG RAJA

Dua hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, kondisi Gusti Teguh Wijaya Kusuma telah cukup pulih untuk meninggalkan ruang perawatan VVIP. Namun, atas pertimbangan dokter dan permintaan Grenia, ia belum langsung kembali mengambil alih seluruh urusan perusahaan.

Tiga bulan berada di antara hidup dan kematian telah menguras tubuhnya jauh lebih dalam daripada yang terlihat dari luar. Kesadarannya memang telah kembali, kekuatan Aji Tugu Manik Jayakusuma telah pulih, tetapi tubuh jasmaninya tetap membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan normal.

Selama dua hari itu, tidak ada rapat.

Tidak ada keputusan bisnis.

Tidak ada pembicaraan tentang Tante Lastri.

Bahkan laporan mengenai Bramantya Mahesa dan konflik keluarga besar Wijaya sengaja ditunda.

Teguh hanya menghabiskan waktunya bersama Grenia.

Ia berbicara pelan, beristirahat, dan perlahan mengenali kembali dunia yang selama tiga bulan terakhir hanya dapat ia rasakan dari kejauhan. Sesekali telapak tangannya masih berada di atas perut Grenia, seolah memastikan bahwa kehidupan kecil yang menjadi alasan kepulangannya benar-benar ada.

Pada pagi hari ketiga, dokter akhirnya memberikan izin terbatas untuk meninggalkan rumah sakit.

Teguh tidak langsung menuju kantor pusat PT WIJAYA MANDIRI.

Ia memilih kembali terlebih dahulu ke kediaman utama keluarga Wijaya Kusuma.

Konvoi kendaraan meninggalkan rumah sakit secara perlahan. Sudirman berada di kendaraan terdepan, sementara Teguh dan Grenia berada di mobil utama dengan pengawalan ketat.

Sepanjang perjalanan, Jakarta bergerak seperti biasa.

Kendaraan memenuhi jalan.

Gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh.

Orang-orang menjalani kehidupan mereka tanpa mengetahui bahwa salah satu pusat kekuasaan terbesar di kota itu baru saja kembali dari batas antara hidup dan kematian.

Grenia duduk di samping suaminya.

Tangannya menggenggam tangan Teguh.

"Mas."

"Hmm?"

"Jangan terlalu memaksakan diri."

Teguh menoleh kepadanya.

"Aku tidak akan."

"Janji?"

Teguh tersenyum tipis.

"Janji."

Beberapa saat kemudian, konvoi memasuki kawasan kediaman utama keluarga Wijaya Kusuma.

Begitu kendaraan berhenti, Teguh turun dengan langkah perlahan.

Ia berdiri beberapa detik di halaman.

Menghirup udara pagi.

Menatap bangunan yang selama tiga bulan terakhir hanya menjadi bagian dari ingatan samar dalam alam bawah sadarnya.

Kemudian ia melangkah masuk.

Hari itu bukan waktunya untuk membalas dendam.

Belum.

Teguh masih ingin menggunakan waktu yang diberikan dokter untuk memulihkan tubuhnya dan mendengar seluruh keadaan dari orang-orang yang selama tiga bulan terakhir berdiri di belakangnya.

Menjelang sore, setelah kondisinya dinyatakan cukup stabil, Sudirman akhirnya datang membawa seluruh laporan yang selama ini ditahan.

Bramantya Mahesa pun telah tiba di Jakarta bersama sebagian kecil orang kepercayaannya.

Ia tidak datang untuk membuat keributan.

Ia datang untuk menunggu keputusan Teguh.

Sudirman menemui Teguh dan Grenia di ruang kerja pribadi keluarga Wijaya Kusuma.

"Masih mau menunggu sampai besok, Gusti?" tanya Sudirman.

Teguh menatap tumpukan dokumen di atas meja.

"Tidak."

Ia mengangkat wajah.

"Sudah tiga bulan aku tidak berada di sini. Selama itu, kalian semua bekerja tanpa aku."

Tatapannya beralih kepada Grenia.

"Dan istriku berdiri di tempat yang seharusnya menjadi tanggung jawabku."

Grenia tersenyum kecil.

"Aku hanya menjaga apa yang menjadi milik kita, Mas."

Teguh menggenggam tangannya.

"Aku tahu."

Ia kemudian berdiri.

"Kalau begitu, sekarang waktunya aku mendengar semuanya."

Sudirman mengangguk.

"Rapat akan saya siapkan."

Teguh berjalan meninggalkan ruang kerja.

Grenia mengikuti di sampingnya.

Mereka kemudian menuju Istana Prameswari Reksa Buwana, tempat seluruh keputusan strategis keluarga dan perusahaan selama ini dibahas secara tertutup.

Menjelang sore, pintu-pintu utama istana terbuka.

Konvoi kendaraan memasuki halaman.

Dan ketika Gusti Teguh Wijaya Kusuma akhirnya melangkah masuk ke ruang pertemuan utama, seluruh orang yang telah menunggunya berdiri.

Tidak ada satu pun yang berbicara.

Sang Raja telah kembali.

Atmosfer di dalam ruang pertemuan utama Istana Prameswari Reksa Buwana terasa begitu pekat dan menekan. Sinar matahari sore yang menembus jendela kaca raksasa memantulkan kilau dingin pada permukaan meja jati panjang.

Gusti Teguh Wijaya Kusuma duduk di kursi utama dengan posisi tubuh tegap. Meskipun wajahnya masih menyisakan tanda-tanda kelelahan setelah tiga bulan berada dalam koma, tatapan matanya telah kembali seperti dahulu—tajam, tenang, dan sulit dibaca.

Di sebelah kanannya, Grenia duduk dengan anggun. Sesekali tangannya menyentuh perutnya secara refleks.

Di hadapan mereka, Sudirman berdiri dengan sebuah tablet dan beberapa map tebal.

Beberapa orang dari jajaran manajemen senior sudah memenuhi sisi meja. Tidak seorang pun berani membuka pembicaraan sebelum Teguh memberikan isyarat.

Teguh menyapu seluruh ruangan dengan pandangan perlahan.

"Tiga bulan."

Suaranya tidak keras.

Namun, dua kata itu cukup membuat suasana menjadi semakin sunyi.

"Tiga bulan aku tidak berada di meja ini."

Tidak ada yang menjawab.

"Aku ingin tahu satu hal terlebih dahulu."

Tatapannya berhenti pada Sudirman.

"Selama aku tidak ada, apakah perusahaan ini masih berjalan?"

Sudirman mengangguk.

"Berjalan, Gusti."

"Apakah ada aset yang hilang?"

"Belum ada aset strategis yang berhasil dikuasai pihak lawan."

"Belum?"

Sudirman terdiam sesaat.

"Beberapa aset sempat diblokir secara administratif. Jalur distribusi kita juga sempat terganggu akibat tindakan Bramantya Mahesa."

Teguh menyandarkan punggungnya.

Lihat selengkapnya