Malam itu, sebuah restoran privat mewah di kawasan SCBD Jakarta masih dipenuhi cahaya lampu keemasan. Denting gelas kristal dan suara tawa terdengar dari sebuah ruangan tertutup di lantai atas.
Tante Lastri duduk di kursi utama meja perjamuan. Gaun sutra mahal membalut tubuhnya, sementara kalung berlian di lehernya memantulkan cahaya lampu setiap kali ia bergerak.
Di sekelilingnya, beberapa kerabat keluarga besar Wijaya dan orang-orang yang masih berada di bawah pengaruhnya tampak menikmati makan malam dengan wajah penuh keyakinan.
Mereka merasa telah memenangkan perang.
"Perempuan pemilik salon itu mengira bisa mempertahankan Wijaya Mandiri hanya dengan mengandalkan Sudirman," ujar Lastri sambil mengangkat gelas. "Bramantya sudah menekan jalur distribusi mereka selama berhari-hari. Besok, pasar akan melihat sendiri bahwa perusahaan itu tidak sekuat yang mereka kira."
Salah seorang kerabat tertawa.
"Kalau saham mulai jatuh, kita tinggal masuk."
Lastri tersenyum.
"Dan ketika semuanya selesai, kita yang akan tampil sebagai penyelamat keluarga."
Tawa kembali terdengar.
Namun, beberapa detik kemudian—
Tok.
Tok.
Tok.
Tiga ketukan terdengar dari pintu.
Tidak keras.
Justru terlalu tenang.
Tawa di dalam ruangan perlahan menghilang.
Pintu terbuka.
Dua orang pengawal berdiri di ambang pintu. Di belakang mereka, Sudirman melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang rapi. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak menyisakan sedikit pun keramahan.
Di sampingnya berjalan Bramantya Mahesa.
Tidak ada lagi kebencian yang dulu memenuhi tatapan pria itu.
Namun, ketegasan tetap terlihat jelas di wajahnya.
Beberapa langkah di belakang mereka, dua anggota tim hukum membawa Hendro.
Mantan orang kepercayaan Lastri itu tampak pucat. Ia tidak diborgol, tetapi dua orang petugas hukum mendampinginya dari kedua sisi.
Lastri langsung berdiri.
"Bramantya?"
Matanya berpindah kepada Sudirman.
"Apa maksud semua ini?"
Tidak ada jawaban.
Bramantya berjalan mendekati meja.
Ia meletakkan sebuah tas dokumen di atas permukaan meja.
Bukan dengan kasar.
Tetapi cukup keras untuk menghentikan seluruh percakapan.
"Ini salinan dokumen asli yang selama ini disembunyikan."
Lastri menatap tas tersebut.
"Dokumen apa?"
"Dokumen yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga saya sepuluh tahun lalu."
Wajah Lastri berubah.
Bramantya membuka tas itu dan mengeluarkan beberapa berkas.
"Selama bertahun-tahun saya percaya pada cerita yang Anda berikan."
Ia menatap Lastri.
"Saya percaya bahwa keluarga Wijaya Kusuma adalah penyebab kehancuran keluarga saya."
Lastri mencoba mempertahankan wajah tenangnya.
"Memang begitu."
"Tidak."
Jawaban Bramantya terdengar datar.
"Ternyata tidak."
Ruangan mendadak sunyi.
Bramantya mengangkat salah satu dokumen.
"Nama, tanggal, aliran dana, dan tanda tangan dalam dokumen ini tidak sesuai dengan cerita yang selama ini Anda berikan kepada saya."
Lastri memandang Hendro.
"Hendro."
Pria itu menundukkan kepala.
"Kau yang memberikan dokumen itu kepada mereka?"
Hendro menarik napas.
"Saya memberikan apa yang saya miliki."
"Setelah bertahun-tahun bekerja untuk saya?"
"Saya bekerja untuk Anda karena takut."
Hendro mengangkat wajah.
"Tapi saya tidak mau mati karena membawa kebohongan yang bukan keputusan saya."
Lastri menatapnya dengan kebencian.
"Kau pengkhianat."
Sudirman akhirnya berbicara.
"Bukan."
Nada suaranya tetap tenang.
"Dia saksi."
Lastri tertawa pendek.
"Saksi?"
"Ya."
Sudirman membuka tabletnya.
"Dan semua keterangan yang diberikan Hendro sedang dicocokkan dengan dokumen, catatan transaksi, serta arsip lama yang telah kami temukan."
Lastri menyipitkan mata.
"Kalian pikir itu cukup untuk menjatuhkan saya?"
"Belum."
Jawaban Sudirman membuat Lastri terdiam.
"Kami tidak datang untuk menjatuhkan Anda malam ini."
Sudirman menyimpan tabletnya.
"Kami datang untuk memastikan Anda tidak sempat menghancurkan bukti yang tersisa."
Senyum Lastri perlahan menghilang.
Bramantya menatapnya.
"Karena itu saya ingin bertanya sekali lagi."
Ia maju selangkah.
"Siapa yang memberikan perintah terakhir dalam pengalihan aset keluarga saya?"
Lastri tidak menjawab.
"Lastri."
Suara Bramantya semakin berat.
"Sepuluh tahun saya hidup dengan kebencian yang ternyata dibangun di atas kebohongan."
Lastri tetap diam.
Bramantya menghela napas.
"Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Sudirman kemudian mengangkat tabletnya.
"Mulai malam ini, tim hukum kami sudah mengajukan permohonan pemblokiran terhadap sejumlah rekening dan aset yang memiliki keterkaitan langsung dengan dugaan pengalihan dana."
Lastri menatapnya tajam.
"Kalian tidak bisa menyita aset saya sesuka hati."
"Tentu tidak."
Sudirman mengangguk.
"Karena itu semua dilakukan melalui proses hukum."
Ia membuka beberapa dokumen digital.
"Permohonan sudah diajukan. Bukti transaksi sudah diserahkan. Dan pihak berwenang sudah mulai melakukan pemeriksaan."
Wajah beberapa orang di meja berubah pucat.
Sudirman melanjutkan.
"Mulai malam ini, setiap transaksi besar yang berkaitan dengan aset yang sedang diperiksa akan berada di bawah pengawasan hukum."
Lastri mengepalkan tangan.
"Ini semua karena Teguh."
Sudirman tidak membantah.
"Gusti Teguh sudah sadar."
Ruangan seketika membeku.
Lastri menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
"Teguh...?"
"Benar."
Sudirman menatap lurus kepadanya.
"Dan beliau sudah mengambil kembali tanggung jawabnya."
Lastri mundur satu langkah.
"Tidak mungkin."
"Dokter mungkin bisa menjelaskan bagaimana beliau kembali sadar."
Sudirman berhenti sejenak.
"Tapi saya tidak datang ke sini untuk membicarakan keajaiban."
Tatapannya mengeras.
"Saya datang untuk memberi tahu Anda bahwa mulai malam ini, Anda tidak lagi berhadapan dengan orang-orang yang sedang mempertahankan perusahaan."
Ia menoleh kepada Bramantya.
"Anda berhadapan dengan orang-orang yang sudah mengetahui permainan Anda."
Bramantya mengangguk.
Lastri menatap pria itu.
"Kau benar-benar berpihak kepada Teguh?"
Bramantya menjawab tanpa ragu.
"Saya berpihak kepada kebenaran."
Ia berhenti sejenak.
"Dan setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, saya tidak punya alasan untuk terus berdiri di pihak Anda."
Lastri terdiam.
Salah seorang kerabatnya mulai gelisah.
"Kalau begitu... bagaimana dengan saham kita?"
Sudirman menatapnya.
"Yang memiliki dasar hukum akan dipertahankan."
"Dan yang lain?"
"Akan diperiksa."
Tidak ada ancaman.
Tidak ada teriakan.
Justru ketenangan itulah yang membuat suasana semakin menekan.
Lastri akhirnya duduk kembali.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak lagi menunjukkan keyakinan seorang perempuan yang merasa memegang kendali.
Namun, ia masih menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang tidak diketahui Sudirman.
Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Kalian pikir sudah menang?"
Bramantya menatapnya.
Lastri menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Kalian baru membuka pintu pertama."
Sudirman memperhatikannya dengan saksama.
"Apa maksud Anda?"
Lastri tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum.
Kemudian menatap salah seorang pria di ujung meja.
Pria itu sejak awal tidak banyak bicara.