PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #64

PENGHAKIMAN DI ATAS TAKHTA

Pagi belum sepenuhnya terang ketika halaman utama Istana Prameswari Reksa Buwana mulai dipenuhi kendaraan.

Tidak ada suara sirene.

Tidak ada kerumunan wartawan.

Hanya beberapa kendaraan resmi yang berhenti satu per satu di bawah pengawasan keamanan internal Wijaya Mandiri Group.

Malam sebelumnya telah mengubah segalanya.

Akses ke sejumlah rekening yang terhubung dengan jaringan Tante Lastri telah dihentikan berdasarkan proses hukum. Beberapa aset yang memiliki bukti keterkaitan dengan transaksi mencurigakan mulai diamankan. Dokumen-dokumen yang ditemukan dari brankas Hendro juga telah diserahkan kepada tim hukum dan penyidik untuk diverifikasi.

Namun, satu hal belum selesai.

Tante Lastri masih bebas.

Dan justru karena itulah pagi itu Teguh memutuskan untuk tidak bersembunyi di balik kekuasaan.

Ia ingin semuanya selesai di depan bukti.

Di ruang pertemuan utama, Gusti Teguh Wijaya Kusuma berdiri di dekat jendela besar dengan kedua tangan berada di belakang punggung. Setelan jas hitam yang dikenakannya sederhana dibandingkan kemewahan yang biasa melekat pada seorang pemimpin dinasti bisnis sebesar Wijaya Mandiri group.

Tubuhnya memang sudah jauh lebih kuat.

Namun, tiga bulan berada di antara hidup dan kematian masih meninggalkan jejak tipis pada wajahnya.

Di belakangnya, Sudirman sedang membaca laporan terakhir dari tim hukum.

Sementara itu, Grenia duduk di sisi meja dengan tenang.

Sesekali tangannya menyentuh perutnya.

Bukan karena rasa takut.

Melainkan sebuah kebiasaan baru sejak ia mengetahui bahwa kehidupan kecil sedang tumbuh di dalam tubuhnya.

Teguh menoleh.

"Gre."

Grenia mengangkat wajah.

"Iya, Mas?"

"Kalau hari ini Tante Lastri datang, aku tidak ingin kamu merasa harus membelaku."

Grenia tersenyum tipis.

"Aku juga tidak akan membelamu."

Teguh mengangkat alis.

Grenia melanjutkan dengan suara lembut.

"Aku akan berdiri di sampingmu. Itu berbeda."

Senyum kecil muncul di wajah Teguh.

"Begitu?"

"Begitu."

Sudirman yang sejak tadi diam akhirnya menutup tabletnya.

"Gusti, kendaraan dari kepolisian sudah tiba."

Teguh mengangguk.

"Lastri?"

"Sedang dalam perjalanan. Penyidik akan membawanya ke sini terlebih dahulu untuk pemeriksaan dan konfrontasi berdasarkan dokumen yang sudah kami serahkan."

Teguh menatap Sudirman tajam.

"Konfrontasi, bukan penghakiman."

"Benar."

"Dan jangan ada satu pun orang menyentuh dia."

"Sudah saya instruksikan."

Teguh mengangguk.

"Bagus."

Ia kemudian kembali menatap Grenia.

"Kamu tidak harus ikut."

Grenia justru berdiri.

"Aku ikut."

"Gre."

"Aku ikut bukan untuk menghukumnya."

Ia berjalan mendekati Teguh.

"Aku ingin mendengar sendiri apa yang sebenarnya terjadi."

Teguh memandang wajah istrinya beberapa detik.

Kemudian tangannya meraih tangan Grenia.

"Kalau begitu, tetap di sampingku."

Grenia menggenggam balik jemarinya.

"Selalu."

Hampir tiga puluh menit kemudian, pintu ruang pertemuan utama terbuka.

Dua penyidik masuk lebih dahulu.

Di belakang mereka, Tante Lastri melangkah dengan wajah yang jauh berbeda dibandingkan perempuan yang malam sebelumnya masih duduk di restoran mewah SCBD sambil tertawa bersama para kroninya.

Tidak ada lagi gaun pesta.

Tidak ada perhiasan berlebihan.

Wajahnya tampak pucat.

Rambutnya tidak tertata sempurna.

Namun yang paling berubah adalah sorot matanya.

Untuk pertama kalinya, kesombongan yang selama bertahun-tahun menjadi perisai dirinya telah runtuh.

Di belakang Lastri, Hendro ikut masuk sebagai saksi yang berada dalam pengawasan penyidik.

Begitu melihat Teguh, langkah Lastri berhenti.

Matanya membesar.

"Teguh..."

Teguh tidak bergerak.

Grenia berdiri di sampingnya.

Lastri kemudian menatap Grenia.

Ada rasa benci yang masih tersisa di sana.

Tetapi lebih besar daripada kebencian itu adalah ketakutan.

"Tolong..." suara Lastri terdengar lirih. "Teguh, kita keluarga."

Teguh menarik napas perlahan.

"Karena kita keluarga, Tante, aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan semuanya di depan hukum."

Lastri menggeleng cepat.

"Aku tidak melakukan semuanya."

Teguh menunjuk kursi di hadapan meja.

"Duduk."

Lastri perlahan duduk.

Hendro ditempatkan di sisi lain oleh penyidik.

Sudirman membuka berkas pertama.

"Dokumen pengalihan aset Mahesa Klan."

Sebuah map diletakkan di atas meja.

"Bukti ini menunjukkan adanya perubahan dokumen sepuluh tahun lalu."

Lastri menatap berkas tersebut.

"Itu bukan tanda tanganku."

Hendro menundukkan kepala.

Sudirman membuka dokumen berikutnya.

"Ini salinan asli."

Kemudian sebuah dokumen ketiga diletakkan di sampingnya.

"Dan ini versi yang digunakan untuk mengambil alih aset."

Teguh menatap Lastri.

"Perbedaan tanda tangan, nomor dokumen, tanggal pengesahan, dan alur pembayaran semuanya sudah diperiksa."

Lastri terdiam.

"Siapa yang membuat dokumen kedua?"

Tidak ada jawaban.

Teguh kembali menatap Hendro.

"Hendro."

Pria itu menelan ludah.

"Saya..."

"Jawab berdasarkan fakta."

Hendro menundukkan kepala.

"Saya menerima dokumen itu dari pihak keluarga Wijaya."

Ruangan langsung hening.

Lastri berdiri.

"Jangan bohong!"

Salah satu penyidik segera meminta Lastri duduk kembali.

Namun Teguh hanya mengangkat tangan.

"Biarkan."

Lihat selengkapnya