PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #65

SALJU PERTAMA DI SEOUL

Tujuh bulan berlalu sejak badai pengkhianatan yang mengguncang Wijaya Mandiri Group akhirnya berakhir.

Tidak ada lagi pengejaran.

Tidak ada lagi perebutan kendali.

Tidak ada lagi rapat darurat yang berlangsung hingga dini hari.

Untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang yang dipenuhi pengkhianatan, kehilangan, dan pertarungan batin, keluarga Wijaya Kusuma benar-benar menikmati masa tenang.

Wijaya Mandiri Group kembali berjalan stabil. Hubungan dengan Mahesa Klan pun berubah menjadi kemitraan yang jauh lebih kuat setelah kebenaran mengenai masa lalu keluarga mereka terungkap.

Sementara itu, kehidupan pribadi Gusti Teguh Wijaya Kusuma dan Grenia Virginia memasuki fase yang jauh lebih hangat.

Kehamilan Grenia telah memasuki bulan kedelapan.

Perutnya kini terlihat jelas, membuat setiap langkahnya harus dilakukan lebih perlahan. Teguh bahkan menjadi jauh lebih perhatian daripada sebelumnya. Ke mana pun Grenia pergi, pria itu selalu memastikan istrinya tidak berjalan terlalu jauh atau berdiri terlalu lama.

Bukan karena Grenia tidak mampu menjaga dirinya sendiri.

Justru setelah semua yang terjadi, Teguh tahu betul bahwa istrinya adalah perempuan yang jauh lebih kuat daripada yang pernah ia bayangkan.

Namun, bagi seorang suami, kekhawatiran terhadap istri dan anaknya adalah sesuatu yang tidak selalu membutuhkan alasan.

Pagi itu, kediaman keluarga Wijaya Kusuma terasa berbeda.

Beberapa koper telah tersusun rapi di ruang depan.

Bukan koper untuk perjalanan bisnis.

Bukan pula untuk urusan perusahaan.

Kali ini, perjalanan itu murni untuk bersenang-senang.

Teguh sengaja mengajak Grenia, Sevgi, serta para pegawai Nail Art Salon yang selama ini mendampingi istrinya melewati masa-masa sulit untuk berlibur ke Seoul.

Mutia, Aini, Imah, Ami, dan Ratna hampir tidak percaya ketika pertama kali menerima kabar tersebut.

"Serius, Bu?" Aini sampai bertanya berkali-kali.

Grenia yang sedang duduk sambil menikmati teh hanya tersenyum.

"Serius."

"Ke Seoul?"

"Iya."

"Naik jet pribadi?"

Grenia melirik suaminya.

Teguh yang sedang membaca sesuatu di tablet hanya mengangkat wajah.

"Kenapa? Ada yang keberatan?"

Lima perempuan itu langsung menggeleng hampir bersamaan.

"Tidak, Gusti!"

Teguh tersenyum tipis.

"Kalau begitu, siapkan pakaian musim dingin kalian."

Sevgi yang sejak tadi mendengar percakapan itu langsung berlari mendekati ibunya.

"Ibu! Sevgi boleh bikin boneka salju?"

Grenia tertawa kecil.

"Kalau saljunya turun."

"Kalau tidak turun?"

"Ya, kita jalan-jalan saja."

Sevgi berpikir beberapa detik.

"Kalau begitu Sevgi mau salju turun."

Teguh mengacak rambut putranya.

"Doa yang baik."

Sevgi mengangguk serius.

"Sevgi sudah berdoa."

Grenia tersenyum melihat keduanya.

Sudah lama ia tidak merasakan suasana sesederhana itu.

Tidak ada ketakutan.

Tidak ada tekanan.

Tidak ada keputusan besar yang harus diambil.

Hanya keluarga.

Dan kebahagiaan kecil yang selama ini sering kali terlupakan karena kesibukan mereka.

Beberapa jam kemudian, pesawat pribadi yang membawa rombongan itu meninggalkan Jakarta.

Perjalanan menuju Seoul berlangsung tenang.

Grenia duduk di samping Teguh.

Kursinya telah diatur senyaman mungkin agar ia tidak terlalu lelah selama perjalanan. Sesekali Teguh memastikan istrinya minum dan beristirahat.

"Kamu terlalu khawatir," ujar Grenia sambil tersenyum.

"Aku tahu."

"Terus?"

"Aku tetap akan khawatir."

Grenia menggeleng sambil tersenyum.

"Dasar."

Teguh menggenggam tangannya.

"Delapan bulan."

"Hmm?"

"Sebentar lagi."

Grenia menunduk melihat perutnya.

"Iya."

Senyumnya perlahan berubah lembut.

"Sebentar lagi kita bertemu."

Teguh tidak menjawab.

Ia hanya meletakkan telapak tangannya di atas perut istrinya.

Beberapa detik kemudian, sebuah gerakan kecil terasa dari balik kulit.

Teguh terdiam.

Grenia langsung menatapnya.

"Menendang."

Teguh tersenyum.

"Dia tahu ayahnya sedang menyentuh."

Grenia tertawa pelan.

"Atau mungkin dia sudah bosan mendengar kamu bicara."

Teguh mengangkat alis.

"Anak kita tidak mungkin seperti itu."

"Belum lahir saja sudah dibela."

"Jelas."

Grenia menyandarkan kepala ke bahunya.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam.

Di luar jendela pesawat, awan putih membentang luas.

Tidak ada masa lalu yang perlu mereka kejar.

Tidak ada masa depan yang harus mereka paksa datang lebih cepat.

Untuk saat itu, mereka hanya menikmati perjalanan.

Seoul menyambut mereka dengan udara dingin.

Begitu keluar dari kendaraan, Aini langsung menarik napas panjang.

"Astaga!"

Mutia tertawa.

"Dingin banget!"

Lihat selengkapnya