PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #66

GEMBOK CINTA DI LANGIT NAMSAN

Malam telah turun di Seoul. Pendar lampu kota menyebar di antara gedung-gedung tinggi, sementara salju tipis yang turun sejak sore membuat suasana musim dingin terasa semakin tenang.Kereta gantung yang telah disewa secara privat oleh Gusti Teguh Wijaya Kusuma bergerak perlahan menuju kawasan Namsan Seoul Tower.Di dalam kabin yang hangat, Mutia, Aini, Imah, dan Ratna sibuk menikmati pemandangan dari balik kaca. Sesekali mereka mengambil foto dengan latar belakang kerlap-kerlip lampu Seoul.Grenia duduk di samping Teguh. Tubuhnya yang mulai berat karena kehamilan membuatnya lebih banyak bersandar. Teguh beberapa kali mengusap perut istrinya dengan lembut."Masih nyaman?" tanyanya.Grenia mengangguk."Nyaman."Teguh tersenyum, lalu mengecup pelipisnya."Kalau capek, kita tidak perlu lama-lama di luar.""Aku tidak apa-apa. Lagipula, sudah jauh-jauh sampai Seoul."Teguh terkekeh pelan."Baiklah, sayang."Di sisi lain kabin, suasana berbeda terasa di antara Sudirman dan Ami.Ami duduk dekat jendela sambil memandangi hamparan cahaya kota. Jemarinya masih mengenakan sarung tangan kulit hitam yang sebelumnya diberikan Sudirman.Sudirman duduk di sampingnya.Pria yang biasanya dikenal tenang, tegas, dan sulit menunjukkan perasaan itu malam ini beberapa kali mencuri pandang kepada Ami.Ami akhirnya menyadarinya."Kenapa lihat saya terus, Pak?"Sudirman tersenyum tipis."Boleh panggil Dirman kalau hanya kita berdua."Ami tersipu."Mas Dirman.""Ya.""Kenapa?"Sudirman menatap pemandangan di luar sebelum kembali memandangnya."Setelah sampai nanti, aku ingin mengajakmu ke satu tempat.""Ke mana?""Ke pagar gembok cinta."Ami tersenyum kecil."Saya pernah melihatnya di televisi. Katanya banyak pasangan memasang gembok di sana.""Bukan hanya pasangan."Sudirman memasukkan tangannya ke dalam saku mantel.Ia mengeluarkan sebuah gembok kuningan kecil dengan ukiran sederhana berbentuk bunga Wijaya Kusuma.Ami terdiam."Gembok?"Sudirman mengangguk."Aku sudah menyiapkannya."Ami memandangi benda itu beberapa saat."Untuk apa?"Sudirman tidak langsung menjawab.Ia tampak mempertimbangkan setiap kata yang akan diucapkannya."Aku tidak ingin membuatmu merasa harus menjawab sekarang."Ami menoleh."Saya mendengarkan."Sudirman menarik napas."Aku sudah cukup lama berada di sisi Gusti Teguh. Banyak keputusan besar dalam hidupku selama ini berkaitan dengan pekerjaan, tanggung jawab, dan menjaga orang-orang yang berada di bawah perlindunganku."Ia berhenti sebentar."Tapi belakangan aku sadar, hidup tidak seharusnya hanya berisi tanggung jawab."Tatapan mereka bertemu."Ada seseorang yang ingin aku jaga bukan karena tugas."Ami menunduk. Wajahnya mulai memerah."Saya?"Sudirman mengangguk."Kamu."Suasana di antara mereka menjadi hening.Sudirman menggenggam gembok itu."Aku tidak akan menjanjikan hidup yang selalu mudah. Pekerjaanku juga tidak sederhana. Akan ada hari ketika aku terlalu sibuk, terlalu keras, atau bahkan terlalu diam."Ia tersenyum kecil."Tapi kalau kamu bersedia, aku ingin menjalani semua itu bersamamu."Mata Ami mulai berkaca-kaca."Mas Dirman...""Jadi malam ini aku ingin mengajakmu memasang gembok ini."Sudirman menyerahkan gembok tersebut kepadanya."Bukan sebagai jaminan bahwa takdir tidak akan pernah berubah."Ami menatapnya."Tapi sebagai tanda bahwa kita memilih untuk menjaga hubungan ini."Ami mengusap sudut matanya.Kemudian mengangguk."Saya mau."Senyum Sudirman akhirnya terlihat jelas."Terima kasih."Kereta gantung perlahan mendekati kawasan puncak Namsan.Begitu pintu kabin terbuka, udara dingin langsung menyambut mereka. Salju tipis menutupi beberapa bagian jalan dan pagar di sekitar kawasan gembok cinta.Mutia, Aini, Imah, dan Ratna segera berjalan lebih dahulu untuk menikmati suasana.Grenia turun dengan hati-hati.Teguh langsung mengulurkan tangannya."Pelan-pelan."Grenia menggenggam tangan suaminya."Aku masih bisa jalan sendiri, Mas.""Aku tahu."Teguh tersenyum."Tapi aku tetap mau menemani."Grenia membalas senyum itu.Sementara rombongan berjalan menuju area pagar, Sudirman dan Ami berada sedikit di belakang.Angin malam semakin dingin.Ami menggosok kedua tangannya.Sudirman segera membuka mantel luarnya."Pakai.""Mas Dirman nanti kedinginan.""Aku lebih kuat."Ami menerima mantel tersebut."Terima kasih."Sudirman mengangguk.Mereka kemudian berhenti di depan pagar yang dipenuhi ribuan gembok dari berbagai pasangan.Sudirman mengeluarkan gembok yang telah dipersiapkannya.Di permukaannya hanya terdapat satu ukiran kecil: bunga Wijaya Kusuma.Tidak ada nama lengkap.Tidak ada tanggal.Hanya sebuah simbol sederhana.Sudirman memberikan satu sisi gembok kepada Ami."Kita pasang bersama."Ami mengangguk.Mereka mengaitkan gembok itu pada pagar.Klik.Kunci gembok menutup.Ami tersenyum.Sudirman mengeluarkan kedua anak kunci.Ami memandangnya."Terus kuncinya bagaimana?"Sudirman memperlihatkan kedua kunci tersebut."Kita simpan satu-satu."Ami mengerutkan kening."Kenapa tidak dibuang?""Karena aku tidak percaya pada simbol yang mengatakan sesuatu tidak bisa dibuka selamanya."Ami terdiam.Sudirman menyerahkan satu kunci kepadanya."Kalau hubungan ini ingin bertahan, bukan karena gemboknya."Ia menunjuk dada sendiri."Tapi karena kita berdua memilih untuk menjaganya."Ami menggenggam kunci tersebut erat-erat.Kemudian tersenyum."Saya lebih suka yang ini."Sudirman tersenyum balik."Aku juga."Beberapa meter dari mereka, Teguh dan Grenia menyaksikan keduanya.Grenia tersenyum."Mas.""Hmm?""Mereka cocok."Teguh memandang Sudirman dan Ami."Dirman memang pantas mendapatkan seseorang yang bisa membuatnya tersenyum."Grenia menyandarkan kepala di bahu Teguh."Setelah semua yang kita lewati, rasanya menyenangkan melihat orang lain menemukan kebahagiaannya."Teguh merangkul istrinya."Termasuk kita."Grenia mengangguk.Tangan Teguh kembali menyentuh perutnya."Dan sebentar lagi keluarga kita juga akan bertambah."Grenia tersenyum lembut."Calon anggota keluarga paling kecil.""Yang mungkin paling berkuasa."Grenia tertawa kecil."Jangan diajari jadi penguasa dulu."Teguh mencium keningnya."Baik, sayang."Di bawah langit malam Seoul, mereka berdiri bersama dalam suasana yang jauh lebih sederhana daripada kemewahan yang biasa mengelilingi kehidupan mereka.Tidak ada rapat.Tidak ada dokumen.Tidak ada perang korporasi.Tidak ada pengkhianatan.Hanya dua pasangan yang sedang menikmati sebuah malam yang tenang setelah melewati perjalanan panjang.Sudirman menggenggam tangan Ami.Ami membalas genggamannya.Grenia bersandar pada Teguh.Dan untuk beberapa saat, dunia terasa cukup dengan kebahagiaan kecil yang mereka miliki.Malam itu, sebuah gembok memang telah terpasang di pagar Namsan.Namun bagi Sudirman dan Ami, maknanya bukan tentang mengunci takdir.Melainkan tentang memilih satu sama lain dan bersedia menjaga pilihan itu setiap hari.Sementara bagi Teguh dan Grenia, perjalanan singkat ke Seoul menjadi pengingat bahwa setelah begitu banyak badai, mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk menikmati sesuatu yang selama ini hampir hilang dari kehidupan mereka:ketenangan.Dan tanpa mereka sadari, perjalanan pulang menuju tanah Jawa akan membawa mereka semakin dekat kepada hari yang selama ini mereka tunggu—hari ketika kehidupan baru dalam rahim Grenia akhirnya melihat dunia untuk pertama kalinya.

Pagi terakhir di Seoul datang dengan langit yang masih berwarna kelabu.

Salju yang turun sepanjang malam meninggalkan lapisan putih tipis di sepanjang jalan dan atap bangunan hotel. Kota yang sehari sebelumnya ramai oleh suara rombongan mereka kini terasa lebih tenang.

Di dalam kamar, Grenia berdiri di dekat jendela sambil memandang keluar.

Tangannya perlahan mengusap perutnya.

"Sebentar lagi pulang," bisiknya.

Dari belakang, Teguh menghampiri.

"Sudah siap?"

Grenia menoleh.

"Sudah."

Teguh memandang koper yang telah tersusun rapi.

"Kamu yakin tidak terlalu lelah?"

Grenia tersenyum.

"Mas, aku bukan pasien rumah sakit lagi."

"Aku tahu."

"Tapi?"

"Aku tetap suamimu."

Grenia terkekeh kecil.

"Berarti memang tidak ada obatnya."

Teguh tersenyum.

Ia kemudian berdiri di samping istrinya dan ikut memandang salju di luar jendela.

"Seoul memberikan kenangan yang bagus."

Grenia mengangguk.

"Terutama untuk mereka."

Keduanya memandang ke arah pintu.

Dari luar terdengar suara Aini dan Mutia yang sedang bercanda. Ratna dan Imah ikut tertawa.

Teguh tersenyum.

"Mereka memang pantas mendapatkannya."

Grenia menatap suaminya.

"Terima kasih, Mas."

Teguh menggeleng.

"Jangan berterima kasih."

"Kenapa?"

"Karena aku yang justru berterima kasih kepadamu."

Grenia terdiam.

"Kamu sudah menjaga semuanya ketika aku tidak mampu melakukannya."

Ia menggenggam tangan istrinya.

"Sekarang tugasku memastikan kamu tidak perlu menghadapi apa pun sendirian lagi."

Grenia menatap mata suaminya beberapa detik.

Kemudian ia tersenyum.

"Aku tidak pernah sendirian."

Teguh mengecup keningnya.

"Aku tahu."

Di lobi hotel, suasana jauh lebih ramai.

Sevgi berlari kecil sambil membawa boneka salju kecil yang dibelinya sehari sebelumnya.

"Ibu!"

Grenia menoleh.

"Kenapa?"

"Sevgi mau bawa ini pulang."

Grenia tersenyum.

"Silakan."

"Kalau mencair?"

Sevgi mendadak diam.

Teguh menahan senyum.

"Itu bukan salju sungguhan."

Sevgi menghela napas lega.

"Kalau begitu aman."

Aini yang mendengar percakapan itu langsung tertawa.

"Sevgi, kamu benar-benar tidak mau kehilangan kenangan dari Seoul."

Sevgi mengangguk.

"Karena ini pertama kalinya Sevgi lihat salju."

Grenia menatap putranya dengan lembut.

"Kalau begitu simpan baik-baik."

"Iya, Ibu."

Beberapa meter dari mereka, Sudirman berdiri bersama Ami.

Keduanya tidak lagi terlihat canggung seperti ketika pertama kali tiba di Seoul.

Namun kedekatan mereka juga belum berubah menjadi sesuatu yang berlebihan.

Ami menyerahkan sebuah kantong kecil kepada Sudirman.

"Ini."

Sudirman menerimanya.

"Apa?"

"Hadiah."

Sudirman membuka kantong tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah gantungan kunci kecil berbentuk menara.

"Untuk Bapak."

Sudirman menatap benda itu beberapa saat.

"Kenapa untuk saya?"

Ami tersenyum malu.

Lihat selengkapnya