Waktu berputar cepat setelah badai pengkhianatan Tante Lastri dan Direktur Gunawan berhasil ditumpas. Beberapa minggu berlalu dalam suasana yang jauh lebih tenang di Jakarta.
PT WIJAYA MANDIRI Group kembali bergerak dengan stabil. Aliansi dengan Mahesa Klan telah menguatkan seluruh jalur bisnis yang sebelumnya sempat terguncang. Tidak ada lagi ancaman besar yang mengganggu kediaman maupun perusahaan.
Namun, bagi Gusti Teguh Wijaya Kusuma, perhatian terbesar kini bukan lagi tentang bisnis.
Melainkan tentang keluarganya.
Usia kandungan Grenia Virginia telah memasuki bulan kesembilan. Perutnya semakin besar dan tubuhnya mulai mudah lelah. Dokter yang menangani kehamilannya telah mengingatkan agar aktivitas Grenia dibatasi dan segala persiapan persalinan dilakukan dengan matang.
Malam itu, Grenia bersandar di dada Teguh.
Tangannya mengusap perlahan perut yang sedang membawa kehidupan kecil mereka.
"Mas..."
"Hmm?"
"Sebelum hari persalinan tiba, aku ingin pulang ke Kediri."
Teguh menunduk menatap wajah istrinya.
"Pulang ke rumah Ibu?"
Grenia mengangguk.
"Aku ingin meminta doa restu Ibu. Setelah itu, aku ingin menemui Abah Yai Mus."
Teguh mengelus rambutnya perlahan.
"Kalau itu membuatmu lebih tenang, kita berangkat."
Grenia tersenyum.
"Terima kasih, Mas."
Teguh mengecup keningnya.
"Aku akan selalu menemanimu."
Keesokan paginya, persiapan dilakukan tanpa banyak pemberitahuan.
Teguh tidak ingin perjalanan tersebut menjadi tontonan. Namun, dengan kondisi Grenia yang telah memasuki masa persalinan, pengamanan tetap harus diperketat.
Sudirman mengatur seluruh jalur perjalanan.
Bramantya Mahesa menyiapkan pengamanan tambahan dari pihak Mahesa Klan.
Sementara tim medis ikut berada dalam rombongan untuk mengantisipasi kemungkinan apa pun selama perjalanan.
Grenia, Teguh, dan Sevgi menempati kendaraan utama.
Sevgi duduk di belakang sambil sesekali melihat keluar jendela.
"Aku mau cepat sampai, Mas."
Teguh tersenyum.
"Kamu kangen Nenek?"
"Iya."
Grenia menoleh ke belakang.
"Ibu juga pasti sudah menunggu kamu."
Sevgi tersenyum lebar.
Perjalanan menuju Kediri berlangsung lancar.
Semakin jauh meninggalkan Jakarta, suasana kota perlahan berganti dengan hamparan sawah, pepohonan, dan perbukitan yang selama ini akrab dengan kehidupan Grenia.
Ketika kendaraan memasuki wilayah Kediri, Grenia menatap keluar jendela cukup lama.
Ada ketenangan yang perlahan turun ke dalam dirinya.
Tanah kelahirannya.
Tempat ia dibesarkan.
Tempat ia belajar tentang kesabaran, keluarga, dan nilai-nilai kehidupan yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.
Beberapa waktu kemudian, rombongan berhenti di depan sebuah gerbang kayu jati.
Di balik gerbang itu berdiri rumah Joglo milik Ibu Rahayu.
Begitu pintu kendaraan terbuka, Grenia turun perlahan.
Tubuhnya memang semakin berat, tetapi senyum di wajahnya langsung muncul ketika melihat sosok ibunya berdiri di teras.
Ibu Rahayu telah menunggu.
"Nduk..."
"Ibu..."
Grenia berjalan mendekat.
Air mata langsung menggenang di mata Ibu Rahayu.
Begitu sampai di hadapannya, Grenia berlutut dan memeluk kaki ibunya.
"Ibu... Gre pulang."
Tangan Ibu Rahayu segera mengusap kepala putrinya.
"Alhamdulillah. Kamu pulang dengan selamat."
Grenia menangis pelan.
"Aku mau minta doa Ibu."
"Doa Ibu selalu untukmu."
Ibu Rahayu membantu putrinya berdiri.
Teguh kemudian mendekat dan menyalami ibu mertuanya dengan takzim.
"Terima kasih sudah menunggu kami, Bu."
Ibu Rahayu tersenyum.
"Ibu justru bersyukur kalian datang."
Sevgi segera memeluk neneknya.
"Nenek!"
Ibu Rahayu tertawa haru.
"Cucu Nenek sudah besar."
Sore itu, rumah Joglo dipenuhi suasana hangat yang sederhana.
Tidak ada pembicaraan tentang perusahaan.
Tidak ada pembahasan mengenai masa lalu.
Tidak ada urusan politik maupun kekuasaan.