Raungan sirene ambulans VVIP milik PT WIJAYA MANDIRI Group membelah jalanan lereng perbukitan Kediri menuju fasilitas medis privat yang telah disiapkan sebelumnya.
Di dalam kabin medis, suasana terasa tegang.
Grenia Virginia terbaring di atas ranjang dorong. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit basah oleh keringat, sementara satu tangannya menggenggam erat tangan Teguh.
Kontraksi datang semakin kuat.
Teguh duduk di sampingnya, tidak melepaskan genggamannya sedikit pun.
“Mas...” suara Grenia terdengar lirih di sela napas yang berat.
“Aku di sini.”
“Jangan tinggalin aku.”
Teguh menatap mata istrinya. Kecemasan jelas terlihat di sana, tetapi suaranya tetap tenang.
“Tidak akan. Aku di sini sampai semuanya selesai.”
Grenia mengangguk kecil.
Di sisi lain kabin, Ibu Rahayu terus melantunkan doa keselamatan. Sementara Sudirman dan Ami memastikan seluruh prosedur evakuasi berjalan tanpa hambatan.
Beberapa menit kemudian, ambulans memasuki area fasilitas medis.
Pintu belakang segera dibuka.
Tim medis langsung mendorong ranjang Grenia menuju ruang persalinan VVIP.
Teguh tetap berada di sampingnya.
Tidak ada urusan perusahaan.
Tidak ada rapat.
Tidak ada musuh.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seluruh dunia Teguh hanya berpusat pada satu orang.
Istrinya.
Dan anak yang sebentar lagi akan lahir.
Waktu seolah berjalan lebih lambat di dalam ruang persalinan.
Grenia berjuang melewati setiap kontraksi dengan napas yang semakin berat. Tangannya masih menggenggam tangan Teguh.
“Sedikit lagi, Bu Grenia,” ujar dokter dengan tenang. “Tarik napas... lalu dorong ketika saya instruksikan.”
Grenia mengangguk.
Teguh membungkuk mendekati wajahnya.
“Sayang.”
Grenia membuka mata.
“Aku tahu kamu kuat.”
Air mata menggenang di sudut mata Grenia.
“Aku takut.”
Teguh mengusap rambutnya.
“Takut itu wajar. Tapi kamu tidak sendirian.”
Ia mengecup kening istrinya.
“Aku di sini.”
Kalimat sederhana itu membuat Grenia menarik napas panjang.
Kemudian kontraksi berikutnya datang.
“Sekarang, Bu Grenia. Dorong.”
Grenia mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa.
Tangannya mencengkeram tangan Teguh semakin kuat.
Dan untuk beberapa detik, seluruh ruangan hanya dipenuhi suara perjuangan seorang ibu yang sedang membawa kehidupan baru ke dunia.
Lalu—
Oeeekk! Oeeekk! Oeeekk!
Tangisan bayi pecah.
Nyaring.
Kuat.
Sehat.
Grenia terdiam.
Matanya langsung dipenuhi air mata.
Teguh pun membeku selama beberapa detik, seolah otaknya membutuhkan waktu untuk memahami suara yang baru saja memenuhi ruangan itu.
Anak mereka telah lahir.
Dokter mengangkat bayi mungil itu untuk memastikan kondisinya sebelum menyerahkannya kepada tim perawat.
“Selamat, Pak Teguh. Bayinya sehat.”
Teguh menundukkan kepala.
Air mata yang selama ini jarang sekali terlihat di wajahnya akhirnya jatuh.
Ia menatap anaknya.
Kemudian menatap Grenia.