Langkah kaki Azalea terdengar tergesa, menyusuri koridor rumah sakit dengan jantung yang berdetak tak beraturan. Nafasnya memburu, matanya tak berkedip, seakan takut semua ini hanya mimpi. Begitu kabar sampai padanya-bahwa Elena bangun dari koma-tidak ada yang mampu menghentikannya untuk datang.
Ruang rawat terasa terlalu sempit untuk menampung perasaan yang meledak. Azalea mencari ke segala arah, namun yang dia temukan justru pintu menuju rooftop rumah sakit terbuka. Angin sore menerobos masuk, membawa suara riuh kecil dari atas sana.
Rooftop hari itu dipenuhi orang-orang-pasien yang ingin merasakan udara bebas, keluarga yang menemani, juga beberapa perawat yang berjaga. Cahaya jingga senja menyoroti wajah-wajah lelah, tapi penuh harapan. Dan di antara kerumunan itu, Elena berdiri.
Rambut hitamnya terurai diterpa angin, tubuhnya tampak ringkih, namun tatapannya hidup. Ada sorot kebingungan yang kuat di matanya, seakan dunia asing baru saja menelannya bulat-bulat.
Air mata Azalea langsung menggenang, "Elena," bisiknya, hampir tak terdengar oleh siapa pun.
Tanpa pikir panjang, Azalea berlari menghampiri Elena. Tangannya gemetar, wajahnya basah air mata. Saat jarak di antara mereka kian menyempit, Elena menoleh. Tatapannya lurus, bingung, seakan tak mengenali wajah yang berlari ke arahnya.
Azalea berhenti tepat di hadapannya, "Elena... ini aku, Anna," suaranya pecah oleh tangis.
Elena mengerjap, keningnya berkerut. Suara lirih keluar dari bibirnya, "Anna? ... Maaf... aku tidak tahu siapa kamu."
Senyum yang tadi merekah di wajah Azalea runtuh seketika. Dunia seolah berhenti, hanya menyisakan kenyataan pahit-Elena memang bangun, tapi semua kenangan telah hilang.
__________________________________
Azalea masih terisak ketika seorang perawat menghampiri mereka, lalu dengan hati-hati membawa Elena kembali ke ruang rawat. Langkah-langkah itu seperti gema yang menyayat hati Azalea. Dia ingin berlari memeluk, ingin memaksa Elena mengingat, tapi kedua kakinya berat.
Tak lama kemudian, Azalea, Oliv, dan Ibu Azalea duduk di sebuah ruangan dengan cahaya putih terang. Seorang dokter paruh baya masuk dengan map di tangan, wajahnya tenang namun serius.
Dokter itu menghela napas sebelum membuka suara,
"Terlebih dahulu, saya ucapkan syukur bahwa kondisi Elena bisa stabil dan akhirnya sadar setelah koma panjang. Itu keajaiban."
Azalea mengangguk cepat, matanya masih merah.
"Tapi... kenapa dia tidak mengenaliku, Dok? Kenapa dia tidak ingat siapa pun?"